Masih browsing-browsing di kantor. Belom kepengen pulang. Lagi menjelajah dari satu blog ke blog lain, pengen tahu isinya blog orang-orang yang banyak komentar. Apa yang mereka tulis dan kenapa komentarnya banyak. Emang sih, mereka nulisnya keren-keren, atau ada juga yang majang foto “menarik” biar orang tertarik, atau emang rajin kasih komen akhirnya dikomenin balik. Ngelirik ke blog saya? hmm,, belom masuk kategori manapun. Cuek aja ahh,, yang penting nulis
Nah, waktu lagi browsing-browsing, tiba2 ada temen kantor yang lewat meja saya. Nanya..
Teman 1: Nda,, ini kalender sisa?
sambil ngambil kalender ramadhan, yang isinya do’a-do’a dan jadwal sholat
Saya: heu euh, ambil aja
Trus ada teman satu lagi yang nyeletuk
Teman 2: Buat apa mas? kan udah mau kelar puasanya..
Teman 1: ya.. siapa tau di masjid ada yang butuh
sambil berlalu dari tempat saya
Tiba-tiba saya tersenyum, teman 2 saya juga,,
Teman 2: Beda ya kalau ikhwan yang nyeletuk.
Saya tahu, ikhwan itu sebutan untuk “laki-laki” dalam bahasa Arab, tapi sekarang seringkali tergeser artinya ke “laki-laki muslim yang taat beribadah”
Saya: iya, sama kayak..
Saya dan Teman 2: Mas Teman 3
Saya: iya,, Kalau dia mah keren banget lah, oke banget!
Teman 2: ih, kamu sama Teman 3 aja Nda. Aku bilangin aja ya..
Saya: Loh koq?
sempat bingung sama pertanyaannya. Tapi tiba-tiba nyadar trus muka saya memerah. Spontan saya jawab
Saya: Wah, kalau sama dia saya mau banget. Dia mah orang hebat. Keren.. Pokoknya hebat
saya sampai kelabakan memilih kata-kata untuk deskripsikan Teman 3 ini.
Teman 2: Loh? koq mukanya sampe merah.. ihh, bener ya aku bilangin dia…
Saya: huahha, saya sih mau, tapi nggak mungkin lah. Dia itu hebat banget, nggak pantes saya.
***
Pembicaraan sih masih berlanjut, intinya dia berusaha menggoda saya saja. Karena toh memang nggak mungkin si Teman 3 mau sama saya. Saya juga nggak pernah berani mimpi dia bisa sama saya. Dia itu terlalu oke (kata yang selalu saya gunakan untuk menyebut sesuatu yang wah..)! Secara sosial dan secara agama. Beuhh,,, apa lagi yang dicari sih di hidup ini kalau keduanya sudah oke. Mungkin orang-orang berfikir untuk mencari uang. Tapi bagi saya saat ini uang itu cukup “cukup” saja. Balik lagi ke intinya, I admire him.
Sekedar admire..
ad·mire (d-mr)
v. ad·mired, ad·mir·ing, ad·mires
v.tr. 1. To regard with pleasure, wonder, and approval.
Saya yakin, semua orang punya seseorang yang dia kagumi. Standarnya yang dikagumi adalah orang terdekat, misal ayah atau ibunya. Bisa juga artis, politisi, musisi dan orang terkenal lainnya. Menurut ilmu ke-sotoy-an saya yah, seseorang bisa mengagumi orang lain karena orang tersebut itu “dekat” dengan lingkungannya. Orang yang sering dilihat atau didengar Misal artis sinetron yang sering dilihat di tipi-tipi, atau orang tua yang meskipun tiap hari ngomelin, tapi tiap hari dilihat. Tapi ga sekedar sering lihat atau denger, si orang ini menganggap orang yang dekat dengan dia adalah orang “sukses”. Tapi, definisi sukses ya bisa macem-macem. Seperti saya yang mengagumi Ibu saya karena dia sukses mendidik anak2nya lulus kuliah S1 di universitas atau fakultas ternama negeri ini (penting banget keknya buat dijabarin), tanpa memaksa. Beliau sukses karena mampu menanamkan kesadaran saya dan adik2 akan pentingnya pendidikan. Ya begitu kira-kira.
Sama seperti saya yang mengagumi Teman 3 tadi, karena menurut saya dia orang yang berpegang teguh pada agama Alloh swt. namun tidak ‘kaku’ pada kehidupan sosialnya. Tapi ini opini pribadi ya. Ini juga dipicu karena selama ini melihat orang yang taat beribadah, tapi terlihat kaku pada sekitarnya. Saya juga kagum karena dia bisa memotivasi dengan cara halus. Perkataannya selalu menyiratkan sesuatu yang menyemangati saya. Walaupun mungkin tidak ditujukan ke saya. La wong dia kenal dekat saja tidak, sebatas “hai hai” saja di jalan. Soal menyemangati ini juga ngena karena saya lagi merasa butuh disemangati. Nah, satu lagi hal yang bisa membuat sesorang kagum adalah, karena dekat dengan “kebutuhan” orang tersebut. Jadilah saat jiwanya terisi, jadinya merasa kagum karena berhasil mengisi ruang kosong di hatinya *saelllaahhhh*
Jadinya, saya simpulin teori ke-sotoy-an saya kali ini bahwa kita mengagumi seseorang karena alasan “kedekatan”, faktor “sukses” di diri orang tersebut dan faktor “kebutuhan” diri kita yang terpenuhi orang tersebut.
Nggak ada salahnya mengagumi seseorang, mau terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Seringkali kekaguman tersebut memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang baik, atau paling tidak membuat kita terpacu untuk “sama” seperti orang yang kita kagumi. Tapi, jangan sampai kita terlena yang membuat kita membayangkan orang tersebut apalagi memujanya berlebihan. Wake up and be mature babes! Hadapi kenyataan. jangan sampai kita jadi seperti pungguk merindukan bulan. Hmm.. Tapi gada yang ngelarang juga sih, kalo emang “deketin” orang yang kita kagumi itu realistis. You Go, Guys!
…kalau saya?
Sejauh ini sih, cukup mengagumi saja.
Kamu?
***
*Gambar diambil dari sini
Masih browsing-browsing di kantor. Belom kepengen pulang. Lagi menjelajah dari satu blog ke blog lain, pengen tahu isinya blog orang-orang yang banyak komentar. Apa yang mereka tulis dan kenapa komentarnya banyak. Emang sih, mereka nulisnya keren-keren, atau ada juga yang majang foto “menarik” biar orang tertarik, atau emang rajin kasih komen akhirnya dikomenin balik. Ngelirik ke blog saya? hmm,, belom masuk kategori manapun. Cuek aja ahh,, yang penting nulis
Nah, waktu lagi browsing-browsing, tiba2 ada temen kantor yang lewat meja saya. Nanya..
Teman 1: Nda,, ini kalender sisa?
sambil ngambil kalender ramadhan, yang isinya do’a-do’a dan jadwal sholat
Saya: heu euh, ambil aja
Trus ada teman satu lagi yang nyeletuk
Teman 2: Buat apa mas? kan udah mau kelar puasanya..
Teman 1: ya.. siapa tau di masjid ada yang butuh
sambil berlalu dari tempat saya
Tiba-tiba saya tersenyum, teman 2 saya juga,,
Teman 2: Beda ya kalau ikhwan yang nyeletuk.
Saya tahu, ikhwan itu sebutan untuk “laki-laki” dalam bahasa Arab, tapi sekarang seringkali tergeser artinya ke “laki-laki muslim yang taat beribadah”
Saya: iya, sama kayak..
Saya dan Teman 2: Mas Teman 3
Saya: iya,, Kalau dia mah keren banget lah, oke banget!
Teman 2: ih, kamu sama Teman 3 aja Nda. Aku bilangin aja ya..
Saya: Loh koq?
sempat bingung sama pertanyaannya. Tapi tiba-tiba nyadar trus muka saya memerah. Spontan saya jawab
Saya: Wah, kalau sama dia saya mau banget. Dia mah orang hebat. Keren.. Pokoknya hebat
saya sampai kelabakan memilih kata-kata untuk deskripsikan Teman 3 ini.
Teman 2: Loh? koq mukanya sampe merah.. ihh, bener ya aku bilangin dia…
Saya: huahha, saya sih mau, tapi nggak mungkin lah. Dia itu hebat banget, nggak pantes saya.
***
Pembicaraan sih masih berlanjut, intinya dia berusaha menggoda saya saja. Karena toh memang nggak mungkin si Teman 3 mau sama saya. Saya juga nggak pernah berani mimpi dia bisa sama saya. Dia itu terlalu oke (kata yang selalu saya gunakan untuk menyebut sesuatu yang wah..)! Secara sosial dan secara agama. Beuhh,,, apa lagi yang dicari sih di hidup ini kalau keduanya sudah oke. Mungkin orang-orang berfikir untuk mencari uang. Tapi bagi saya saat ini uang itu cuk
up “cukup” saja. Balik lagi ke intinya, I admire him.
Sekedar admire..
ad·mire (d-mr)
v. ad·mired, ad·mir·ing, ad·mires
v.tr. 1. To regard with pleasure, wonder, and approval.
Saya yakin, semua orang punya seseorang yang dia kagumi. Standarnya yang dikagumi adalah orang terdekat, misal ayah atau ibunya. Bisa juga artis, politisi, musisi dan orang terkenal lainnya. Menurut ilmu ke-sotoy-an saya yah, seseorang bisa mengagumi orang lain karena orang tersebut itu “dekat” dengan lingkungannya. Orang yang sering dilihat atau didengar Misal artis sinetron yang sering dilihat di tipi-tipi, atau orang tua yang meskipun tiap hari ngomelin, tapi tiap hari dilihat. Tapi ga sekedar sering lihat atau denger, si orang ini menganggap orang yang dekat dengan dia adalah orang “sukses”. Tapi, definisi sukses ya bisa macem-macem. Seperti saya yang mengagumi Ibu saya karena dia sukses mendidik anak2nya lulus kuliah S1 di universitas atau fakultas ternama negeri ini (penting banget keknya buat dijabarin), tanpa memaksa. Beliau sukses karena mampu menanamkan kesadaran saya dan adik2 akan pentingnya pendidikan. Ya begitu kira-kira.
Sama seperti saya yang mengagumi Teman 3 tadi, karena menurut saya dia orang yang berpegang teguh pada agama Alloh swt. namun tidak ‘kaku’ pada kehidupan sosialnya. Tapi ini opini pribadi ya. Ini juga dipicu karena selama ini melihat orang yang taat beribadah, tapi terlihat kaku pada sekitarnya. Saya juga kagum karena dia bisa memotivasi dengan cara halus. Perkataannya selalu menyiratkan sesuatu yang menyemangati saya. Walaupun mungkin tidak ditujukan ke saya. La wong dia kenal dekat saja tidak, sebatas “hai hai” saja di jalan. Soal menyemangati ini juga ngena karena saya lagi merasa butuh disemangati. Nah, satu lagi hal yang bisa membuat sesorang kagum adalah, karena dekat dengan “kebutuhan” orang tersebut. Jadilah saat jiwanya terisi, jadinya merasa kagum karena berhasil mengisi ruang kosong di hatinya *saelllaahhhh*
Jadinya, saya simpulin teori ke-sotoy-an saya kali ini bahwa kita mengagumi seseorang karena alasan “kedekatan”, faktor “sukses” di diri orang tersebut dan faktor “kebutuhan” diri kita yang terpenuhi orang tersebut.
Nggak ada salahnya mengagumi seseorang, mau terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Seringkali kekaguman tersebut memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang baik, atau paling tidak membuat kita terpacu untuk “sama” seperti orang yang kita kagumi. Tapi, jangan sampai kita terlena yang membuat kita membayangkan orang tersebut apalagi memujanya berlebihan. Wake up and be mature babes! Hadapi kenyataan. jangan sampai kita jadi seperti pungguk merindukan bulan. Hmm.. Tapi gada yang ngelarang juga sih, kalo emang “deketin” orang yang kita kagumi itu realistis. You Go, Guys!
…kalau saya?
Sejauh ini sih, cukup mengagumi saja.
Kamu?
***
*Gambar diambil dari sini
Let’s comment,,