Quitting Instagram Project

Assalamualaikum!

Liat post terakhir, rupanya sudah lebih dari setahun yang lalu. Lama banget nggak nge-blog. Salah satu faktor mungkin karena saya udah nggak kerja kantoran lagi. Jadi, buka laptop buat nulis-nulis udah jarang banget. Sedangkan nulis panjang di handphone kok ya males?!

Lah, tapi sekarang kok nulis blog lagi?

Bukan karena target One Post One Year ya 😀 Tapi, karena dua hari lalu saya memutuskan untuk log out dulu dari Instagram sementara, dan mau mengisi waktu dengan hal lain. Salah satunya ya nge-blog.

Jadi, sejak saya nggak ngantor (Februari 2017), si instagram ini sangat mendominasi hidup saya sehari-hari. Awalnya mungkin karena saya ikut komunitas Upload Kompakan, yang memang tiap harinya ada tema buat saya ikuti untuk mengunggah foto ke Instagram. Lumayan sebenernya mengasah skill foto saya. Tapi, dasar anak perfeksionis, saya kadang pilih-pilih foto yang saya menurut saya cukup bagus baru saya unggah. Walhasil nggak tiap hari juga saya unggah. Meski nggak tiap hari, tapi saya terlalu “rajin” buka instagram. Saya suka membuka instagram mungkin karena saya termasuk visual person. Awalnya saya cukup banyak merasa mendapat manfaat. Menambah teman, dapat info resep, inspirasi menjahit, jadwal kajian dan lainnya.

Sampai di satu titik saya menyadari bahwa waktu saya banyak sekali terbuang hanya untuk scrolling down dan melihat-lihat foto yang entah saya nggak merasa mendapat cukup banyak manfaatnya.

Sebenarnya bukan hanya Instagram yang saya log out. Facebook sudah saya deactivate sejak lama karena saya kesal sendiri baca postingan curhat dan perdebatan yang bagi saya nggak sehat. Path sudah lama tidak dibuka juga, tapi sesekali kepengen “kepo” sama postingan teman, tapi malah kadang jadi kelamaan. Saya left group Whatsapp yang saya tidak pernah berinteraksi di dalamnya. Instagram sudah pasti sangat menyita waktu.

Kadang saya punya me time 2 jam, ketika anak sekolah atau sedang main ke rumah kakeknya, dan saya habiskan 2 jam itu untuk scrolling down instagram. Ketika disadari saya mungkin sedang buka akun “teman dari sepupunya saudara jauh dari adeknya artis A” Haha! Intinya entah siapa akun yang sedang saya buka. Dari yang awalnya cari inspirasi, lalu berakhir dengan kepo yang tak berkesudahan.

Lalu saya berfikir “bagaimana kalau saya berhenti buka instagram? apa efeknya? apa manfaatnya?”, saat itu qadarullah saya bertemu dengan link ini. Saya sudah lama sekali tidak membuka TED talk, tapi entah kenapa saya tertarik dengan judul “Why I don’t use a smartphone”.

Adalah seorang remaja Kanada bernama Ann Makonsinski, di era sekarang dia tidak menggunakan smartphone. Singkatnya dia dibiasakan dari kecil untuk tidak diberi mainan, tapi membuat mainan sendiri, sehingga dia terbiasa memanfaatkan waktunya untuk mencari solusi untuk dirinya juga orang di sekitar. Kenapa tidak menggunakan smartphone? Karena bagi dia flipphone yang dia miliki sudah cukup bagi dia untuk terkoneksi dengan orang lain, dan tidak perlu terganggu dengan notifikasi ini itu dari smartphone. Satu hal yang dia sebutkan “Mengecek smartphone meski sebentar-sebentar, kalau dijumlah berapa lama waktu yang sudah dihabiskan? dan berapa banyak waktu tersebut yang bisa digunakan untuk hal lain?”. Video tersebut jadi semakin menguatkan saya untuk quit sosial media untuk sementara.

Sebenernya saat saya merefleksikan waktu penggunaan smartphone, saya jadi terpikir banyak hal. Saya harus berhenti sementara untuk menjadi “penerima” informasi yang tumpah ruah dari sosial media, dan merasa harus sedikit menuangkan pikiran saya lagi, salah satunya dengan menulis yang lebih panjang dari sekedar caption. Saya merasa harus berhenti ketika saya sadar saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk cari tahu kenapa artis A melepas kerudungnya ketimbang menghabiskan lembar demi lembar buku kisah Shahabiyah Nabi. Saya merasa harus berhenti ketika saya merasa, meskipun tidak terucap, lebih mudah menghakimi tentang orang lain dari setiap postingan yang dia buat. Saya merasa harus berhenti ketika saya mulai membandingkan diri saya dengan orang lain, entah lebih baik atau lebih buruk. Saya merasa harus berhenti ketika setiap malam sebelum tidur saya tidak merasa menghabiskan hari dengan “penuh” atau “feel content“…

Satu hal yang terbesar dan saya paling kesalkan dengan adanya sosial media (tak hanya instagram) adalah… ketika saya sudah terbang ribuan kilometer untuk bertemu orang-orang yang tak pernah bertemu berbulan-bulan lamanya, lalu ketika satu waktu bisa disatukan di meja makan untuk bersantap bersama, semua sibuk dengan smartphone nya…

Like your eyes and your hand glued to the phone. Saya sampai terdiam saat itu. Juga kesal. Mengapa smartphone seperti “mengambil” momen dalam hidup. Momen yang nyata terkalahkan dengan alasan “sharing thing with others“. Yang mungkin sedang menulis kata “haha” tanpa tertawa, ataupun menulis kalimat “sorry” sambil sibuk ngupil santai di kasur.

Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sementara dari sosial media yang membuat waktu saya habis dan membuat saya gelisah karena tidak bisa mengecek sebentar saja. Also say goodbye to nomophobia.

Berapa lama saya mau berhenti? rencana awal adalah 3 hari . Sekarang sudah hari kedua, dan saya mulai menikmati hidup tanpa instagram. Lebih banyak yang sudah saya dapatkan. Rencana saya mungkin bertambah menjadi 7 hari. We’ll see… Dan insya Allah akan saya post apa saja yang terjadi selama project ini berlangsung.

 

Advertisements

Dibalik perjalanan ini

Di antara semua perjalanan yang dilalui tahun ini, rasanya perjalanan berhijrah adalah perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Bukan perkara beli tiket di traveloka, naik pesawat, menikmati pemandangan indah, sedikit kelelahan dan akhirnya pulang dengan membawa segenap memori ditambah lagi semua orang turut senang melihat memori yang dibagikan. Mungkin ada yang mencibir “ih, jalan-jalan terus” tapi ya hanya selintas lalu.

Hijrah ini adalah perjalanan terseok-seok meninggalkan yang kurang benar menuju jalan yang benar sesuai tuntunan Al Quran dan As Sunnah. Mempelajari sedikit demi sedikit sambil menyadari (dan menyesali) banyak hal yang belum dipahami selama ini. Perjalanan ini tiketnya mudah, membuka hadist shahih dan menilik AL Quran lebih dalam. Mudah, tapi sulit untuk dijalani. Hari ini semangat, besok kendor. Memompa lagi semangatnya rasanya terengah-engah.

Perjalanan ini bukan membuka panduan, lalu melakukan dan selesai. Setelah melakukan dipikir sudah, ternyata ada ujian yang bertubi-tubi. Tambahan lagi kebingungan orang di sekitar.

Kenapa harus berjilbab dan berkhimar panjang, kan cukup menutupi dada saja?

Kenapa harus tutup semua rekening tabungan? Bukankah yang penting rajin sedekah?

Kenapa harus menurunkan semua gambar di rumah? Itukan hanya photo?

Kenapa tidak mau ikut undian? Siapa tau rejeki kan?

Kenapa tidak mau mengucapkan ulang tahun? Bukankah bagus itu do’a?

Mungkin keyakinan di hati sudah cukup teguh, tapi rasa untuk menjelaskan akan keputusan bukan sesuatu yang mudah. Pahami semua ayatnya, jangan terpotong. Pahami riba, bukan perkara main-main. Pahami bagaimana rumah tidak dimasuki malaikat, padahal kau beribadah di dalamnya. Pahami bahwa banyak hal tidak dilakukan Rasul, mengapa kita harus mengada-adakan.

Setelah menjelaskan, lalu tak pelak datang cibiran. Belajar kenapa hanya satu sumber? Kenapa berubah, ikut aliran macam-macam ya. Kenapa sudah berhijrah kok masih gini, masih gitu.

Pahamilah wahai teman, aku sedang berjalan menuju kebenaran yang aku yakini. Ini perjalanan yang masih panjang, sepanjang sisa hidup yang Allah ijinkan. Jika memang tidak bisa berjalan bergandeng tangan, percayalah tetap do’a yang aku lantunkan setiap aku mengingat kalian. Marilah bersama-sama mendoakan atas pilihan-pilihan perjalanan yang kita ambil, sehingga kita bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

Guilin, kota yang tampak seperti Lukisan

Tiap tahun, kantor saya ngadain travelling ke Luar Negeri. Kali ini saya jadi panitianya, dan setelah diskusi pilihan tempat dan konstrain budget saya pilih Guilin, China. Sebenernya saya milih karena pingin liburan jauh dari kota besar. Sudah cukuplah saya tiap hari menikmati macet di ibukota. Biar fresh!

Kenapa Guilin? karena konon katanya kotanya indah bagai lukisan.

Ini salah satu sudut kota Guilin.

ed_MG_4388

Kemana aja ke Guilin?

Hari pertama kami ke Yangshuo, ceritanya mau menikmati sungai Li. Selama disini cuacanya berkabut, jadi fotonya gak ada yang kece. Selama perjalanan bolak balik menyusuri sungai akhirnya foto-foto diri aja banyaknya. ed_IMG_6671

Malamnya kami sempat melihat Liu Sangjie Show. Menurut saya ini hukumnya wajib untuk dilihat. Keren banget! Pertunjukkan ini ada di alam terbuka, di atas air dengan latar belakang batu kars. Pertunjukkan ini  diperagakan oleh ratusan orang. Detail gambarannya bisa lihat di sini. Selama pertunjukkan sampai terkagum-kagum dan nggak berhenti mikir “kok bisa ya? keren banget!”

IMG_2412.JPG

Hari kedua pergi ke gua stalagtit stalagmit yang namanya Reed Flute Cave. Dibilangin gua seruling karena konon katanya dari mulut gua bisa dibuat jadi seruling. Sebelum datang kesini bayangan saya kalau yang namanya gua stalagtit stalagmit itu guanya basah licin, becek kayak gua Buni Ayu yang dulu saya pernah datangi. Taunya salah besar! Guanya kering, dan di dalamnya disinari lampu berwarna-warni. Yang saya kagumi dari Guilin ini, setiap tempat wisatanya punya “cerita” di baliknya. Jadi, sepanjang berjalan di  gua ini kami diberikan dongeng dengan background si stalagtit stalagmit. Contohnya foto di bawah. Kalau diperhatikan di bagian yang berwarna pink itu tampak seperti singa. Bagian ini ada di dekat pintu keluar, jadi diceritakan bahwa si Singa mengucapkan selamat jalan dan terima kasih kepada kita.

ed_MG_4535.JPG

Besok harinya lagi kami ke Yao Mountain. Ke atasnya menggunakan cable car. Lihat cable car yang nggak tertutup bikin deg-degan. Tapi, seru banget bisa lihat Guilin dari atas. Sayangnya,  lagi-lagi tertutup kabut jadinya ga bsa maksimal hasil fotonya. Ditambah lagi takut megang kamera karena takut jatuh plus ga sanggup buka sarung tangan karena dingin.

_MG_4806.JPG

Setelah itu ke ZhiZou Park. Taman ini indah banget. Ada bunga Mai yang sedang bermekaran, bunga ini mirip dengan sakura tapi kelopaknya lebih “mengumpul”. Cantik banget.

ed_MG_4866.JPG

Beruntungnya kami, di taman itu lagi bermekaran bunga Tulip. Jadi, bisa ngelihat langsung bunga khas Belanda ini.

ed_MG_4879.JPGMalam harinya sempat main ke Sun and Moon Pagoda yang dekat dengan tempat kami menginap. ed_MG_4663.JPGBanyak lagi sebenernya foto-foto indah di Guilin. Saya sampai punya stock foto diri sendiri cukup banyak hehe…

Salah satu yang saya kesulitan di Guilin adalah meyakinkan diri saya bahwa makanan yang disantap itu Halal. Di hari pertama saya masih makan mie khas Guilin yang memang restorannya klaim bahwa tidak ada bahan makanan tidak halal. Tapi di restoran lainnya saya ragu-ragu, meskipun tour Guide nya sudah bilang bahwa makanannya dijamin No Pork. Jadilah Gepuk dan teri kacang jadi lauk saya selama di Guilin.

ed_MG_4098.JPG

Oya, suhu di sana cukup dingin sejuk. antara 6 sampai 13 derajat celcius. Suhu segitu karena kami berangkat di tanggal 22-26 Februari 2016.

Soal belanja, kami ada dua tempat yaitu di West Street Yangshuo dan ZhengYang Pedestrian Street di Guilin. Jualannya sama aja dari kain-baju cheongsam, patung-patung dan souvenir dengan rajutan khas China. Saya sempat beli sarung bantal, pashmina dan beberapa pajangan teko mini. Untuk harganya cukup murah. Tapi, karena murah jadi menguras kantong :p Lebih murah di ZhengYang menurut saya, dan penjualnya lebih ramah.

Kalau ikut tour, biasanya di bawa ke toko pemerintahan. Saya  saranin sebelum pergi tanya dulu produk mereka apa saja supaya bisa spare uang lebih. Saya cukup menyesal ga beli teh atau produk Bambu dari toko pemerintahan, karena uangnya udah dipake buat beli yang kecil-kecil di pasar 😦

Overall, saya suka Guilin dan suasanya. Rasanya di setiap sudut itu indah dan menyenangkan. Saya lebih kagum lagi ke pemerintah China yang mampu mengelola pariwisatanya dengan hebat. Meskipun saya yakin kalau Indonesia nggak kalah indah, tapi kemudahan transportasi dan pengemasan pariwisatanya sungguh luar biasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sweet Seventeen Bday Blast

nda_MG_3526

Happy Bday to me!

Bukan saya yang milih lilinnya, yang beliin malah gatau umurnya berapa. Untung inisiatifnya bagus ngasih angka 17 hahahha…

Dianggap aja do’a supaya di tahun-tahun ke depan semangat dan kekuatannya masih kayak anak 17 tahun! Kadang umur ga bisa boong, nyebrang jembatan aja udah ngos-ngosan, belum ditambah kehamilan (iya, hamil!) jadi alasan 😀

Tapi, tekad tahun ini harus lebih bugar dan lebih semangat. Banyak cita-cita tahun ini yang pingin diwujudkan. Semoga gak kendor semangatnya untuk selalu mengejar. Amin.

If you want something you’ve never had,

then you’ve got to do something you never done.

nda_MG_3528

Liburan Bersama Balita ke Singapore (part 2)

Di postingan kali ini saya mau cerita soal teman menarik dan (mungkin) dikunjungi kalau jalan-jalan dengan anak Balita ke Singapore. Pertimbangannya saya pilih tempat ini adalah minim kerumitan kalau jalan berdua aja dengan anak Balita.

Pororo Park

Saya dapat info dari Merlyn kalau Pororo Park baru dibuka di Singapore. Langsung jadi list pertama yang saya masukin, karena Aka selalu ketawa kalau lihat Pororo. Dengan biaya SGD 32 per anak dan SGD 6 untuk pendamping dewasa, Aka bisa main selama 2 jam di sana. Setiap kelebihan 30 menit kalau nggak salah harus nambah SGD 5.

ed8

Ada beberapa permainan di sana, diantaranya kolam bola, rumah Pororo, ruang menggambar, atraksi boneka Pororo, nonton video dan kereta Express. Karena main bebas di sana, saya baru nyadar kalau Aka punya kecenderungan “Concern for Order”, dia nyusun-nyusnin cone rapih banget dan marah kalau diacak2, hahaha. Selain itu, saya nggak nyangka Aka berani naik kereta Pororo sendiri! Wuihhh, I’m a proud mama!

Sayangnya, waktu dua jam ya gak puas dengan berbagai permainan itu.

Singapore Art Museum

ed9

Tempat yang nggak sengaja didatengin. Tadinya Bunda mau belanja di Bugis, tapi kok ya nggak minat pas lihat barang-barangnya. Jalan terus ke arah Bras Basah, nemu gedung unik. Awalnya cuma niat buat foto-foto gedung, tapi lumayanlah pengen ngadem sebentar. Ternyata ini ketidaksengajan yang menyenangkan. Bayar SGD 10, dan seneng banget liat segala bentuk seni di dalemnya.

Mueseumnya menyenangkan karena interaktif. Ada bagian “Learning” yang ngajak pengunjung untuk ikutan membuat objek seni. Keren deh!

S.E.A Aquarium Resort World Sentosa

IMG_1219.JPG

Tempat favorit Aka! selama di dalamnya dia nggak berenti teriak “Wuuaaaaa Fiiisshhh” kenceng banget karena excited. Lari sana sini pindah dari satu aquarium ke aquarium lain dan selalu excited. Puas banget deh ke sini.

Tadinya, mau ajak Aka ke USS, tapi sayang udah banyar mahal tapi atraksi yang bisa dimasukin dikit. Belum lagi pake ngantri banget karena rame. Untungnya nggak salah pilih ngajak Aka ke sini.

Harganya? SGD20 aja! beli pake exclusive deal bareng pas beli SG tourist pass. Kalau beli langsung, pas weekend kayak kemarin harganya bisa SGD 68. Lumayan kan jadi lebih hemat.

Float @ The Bay

ed7

Lagi-lagi di luar itinerary yang dibuat. Naik boat  gara-gara paketnya bundling dengan exclusive deal nya tourist pass. Dengan SGD 15 aja bisa mengelilingi Singapore river malem-malem naik kapal disuguhi minuman dingin.

Sayangnya kemarin pas hujan, jadi foto-fotonya nggak jernih banget dapetnya. Aka? suka bangeet… ada musiknya dia sambil joget-joget. Apalagi pake hujan, tambah happy dia.

Chinese Garden

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Taman yang guedeee banget. Bisa jadi alternatif kalau mau piknik dan foto-foto. Datang ke sini karena Ayah mau lihat museum kura-kura. Dan emang seneng banget lihat museumnya karena banyak berbagai jenis kura-kura meskipun menurut Ayah penanganannya kurang tepat.

Kalaupun nggak ke museum, sebenernya banyak reptil juga berkeliaran kayak kadal atau kura-kura di kolam. Sayangnya kemarin kita kehujanan, jadi nggak bebas explore tamannya.

Marina Bay

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Daerah sini mah termasuk yang “wajib” kunjung ajalah.

Selain tempat-tempat di atas ya ke Orchard aja. tapi kayak Marina Bay yang jadi tempat “sekadar” lewat doang, berhubung saya juga nggak doyan belanja, hehe…

Nah, itu itinerary kemarin selama di Singapore. Sampai jumpa di cerita liburan keluarga lainnya 🙂

IMG_1142

Liburan Bersama Balita ke Singapore (part 1)

Rencananya adalah tiap awal tahun kami sekeluarga travelling ke tempat baru. Tapi, Ayah lagi susah dapet cuti sekarang, dan kemarin liburan yang direncanakan ke Bali jadi batal deh 😦 Gak dinyana, pas awal bulan Desember kemarin Ayah ada acara kantor ke Singapore. Dipikir-pikir daripada nggak liburan sama sekali mending “ngintil” Ayah. Tapi, ya judulnya “ngintil” berarti nggak bisa bareng terus-terusan. Dari 3 hari di Singapore, cuma 1 hari full yang bisa bareng Ayah, sisanya ketemu sore harinya aja. Praktis sebenernya ini acara Bunda & Aka travelling bersama.

Khawatir? iyalah pasti. Cita-cita dari dulu pengen solo travelling aja nggak pernah kesampean. Kali ini kudu jalan bawa si anak kecil yang full bergantung sama saya. Tapi, ya judulnya Singapore ya yakin ajalah. Selain emang udah pernah dan land transport nya Singapore kan udah bagus banget, jadi ya nggak bakal nyasar-nyasarlah.

Persiapan

Ceritanya Aka udah lebih gedean dibanding pas jalan ke Kuala Lumpur di awal tahun. Harusnya nggak khawatir lagi soal makanan, ngikutin makan Bundanya juga udah bisa. Tapi, botol minum nggak boleh lupa dibawa. Ternyata emang bener selama di sana Aka minumnya banyak banget.

Selain botol minum, yang perlu dibawa adalah Stroller. Awalnya pikir karena jalan berdua enakan digendong. Tapi, kalo gendong seharian dan Aka beratnya udah lebih 11 kg, Bundanya bisa sakit pinggang. Tapi si Ergo Carrier tetep dibawa buat jaga-jaga. Oya, saya bawa ransel yang isinya pampers dan baju gantinya Aka selama di jalan.

Transportasi

IMG_1257

Berhubung Ayah ada acara di Batam dulu, dan ke Singapore nya naik Ferry Boat, saya lebih milih ke Singapore langsung, supaya bisa lebih banyak jalan-jalan bareng Aka. Konsekuensinya, ya dari Bandara harus berdua aja bareng Aka ngebawa stroller, ransel plus koper. Rencananya naik taksi dari bandara ke Hotel. Sebenernya deket, dan biayanya estimasi sekitar SGD18 tapi ada airport charge, jadi minimum sekitar SGD28. Dasar emang emak-emak irit ya jadi kudu cari alternatif. Tadinya mau nekat naik MRT, tapi kok ya nggak mungkin dengan barang segitu banyak. Ternyata ada Airport shuttle dengan biaya SGD9 saja! Aka belum dihitung karena masih di bawah 3 tahun. Jadi, ini semacam bis kecil yang isinya buat sekitar 7 orang aja, trus nganterin dari Airport ke hotel mana aja di kota dengan biaya sebesar SGD9/orang. Murah kan? Kekurangannya emang nggak boleh bawa koper leboh dari 1 per orang dan pastinya jadi saling nunggu karena nganter orang duluan. Untungnya kemarin kita dianter duluan. Yaiy!

Oya, transport selama di SG saya beli Singapore Tourist Pass buat 3 hari. Biayanya SGD 20 untuk semua jalur MRT, LRT dan Bus. Ini rekomen banget deh, buat yang itinerary nya nggak terlalu fix kayak saya. kalo diitung-itung jadinya lebih murah sih. Dan pastinya nggak perlu ngantri buat beli dan balikin kartu tiap hari kalo beli per trip.

Hotel

IMG_1102

Hotel saya pilihnya yang paling dekat dengan stasiun MRT. Alasannya simple, kalo capek jalan-jalan siang, saya bisa ajak Aka pulang dulu buat istirahat. Dengan pertimbangan budget dan tempat tujuan wisata akhirnya saya pilih V Hotel Lavender (4star). Letaknya persis di atas stasiun MRT Lavender. Saya pesannya di Traveloka untuk 2 malam IDR 2.356.067.

Review-nya: kamarnya bersih, emang agak kecil (sekitar 3x4m), tapi lokasi mengalahkan segalanya deh! Deket stasiun MRT dan di sebelahnya ada kopitiam yang jual berbagai makanan halal.

Makanan

Selama di sana belinya McD, nasi hainam di kopitiam sama kaya toast. SG mah bukan tempat kuliner deh. Selain sulitnya nyari makanan halal, rasanya nggak pas aja di lidah saya. Hari kedua dan ketiga saya bahkan udah nggak nafsu makan 😦 Anw, rata-rata sekali makan itu SGD5 per orang.

Btw, postingannya ntar nyambung ke part 2 ya!

ed4.JPG

 

Menyapih Aka

Berbeda dengan ulang tahun pertama Aka, ulang tahun ke 2 (25 September lalu) Aka persiapannya nambah lebih banyak. Bukan karena mau dirayain lebih heboh, tapi ultah kedua ini plus persiapan Aka mau disapih.Udah baca dari dulu, kalau disapih itu kudu disiapin sebelumnya, biar gak bablas dari 2 tahun. Saya termasuk yang berpendapat bahwa setelah 2 tahun, anak harus disapih supaya dia lebih mandiri, plus karena memang gizi di ASI nya juga ga lagi sebaik dulu.

Hasil dari baca sana sini, akhirnya sebulan sebelum ulang tahun, Aka saya kasih pengertian dengan bilang “Aka, kalau nanti ulang tahun, tiup lilin, artinya ga boleh mik lagi ya…” Saya bilang waktu lagi ngasi ASI, atau pas ngobrol biasa, pokoknya ada kesempatan dia lagi tenang saya sampein. Responnya dia menggeleng atau berteriak.

photo 1

Anak besar minumnya air putih 😉

Saya sih senyum-senyum aja. Setiap dia baru tidur, saya bisikin juga ke dia “Aka kan sudah besar, nanti ulang tahun, tiup lilin ga boleh mik lagi yaa…” nah yang ini, dia ga bisa respon, kan baru tidur. Hehe..

Dan ulang tahun ke 2 pun tiba..

Aka gamau tiup lilin dong (–“) Pokoknya pas harusnya tiup lilin dan potong kue, dia malah cranky. Entah karena emang udah kecape’an main dari siang (acaranya sore) atau karena sering kali dibilangin “abis tiup lilin ga boleh mik” jadinya malah ogah-ogahan tiup lilinnya. Hadeuuhh.. salah kalimat kayaknya. Tapi, ya akhirnya saya juga gak maksa harus berenti ASI saat itu juga.

Minggu depannya hari selasa 29 September, saya iseng-iseng ngobrol di group chat temen-temen, nanyain pengalaman mereka soal sapih. Kebanyakan nyaranin pake brotowoli (sejenis jamu gituh yg konon pait banget katanya), tapi saya ga mau nerapin gini, kesian sama Aka, jangan sampai pikiran selama ini kalau mik itu nyaman tetiba  harus diakhiri dengan “kepahitan” no no… rasanya memori nya nanti malah buruk soal mik. Trus malah ada yang ga tau caranya sama sekali karena anaknya tetiba aja gitu gak ASI, yang ini bikin saya bingung kok ya bisa gitu tiba-tiba gamau tanpa penyebab. Tapi, yasudah namanya juga minta saran, kalo dapet syukur kalo ga dapet ya gpp.

Untungnya, tetiba Mbak Lia, salah satu temen, menanggapi dengan serius. Dia bilang sebisa mungkin nyapih dengan hati katanya. Akhirnya saya japri dia, nanya-nanya lebih serius. Dia kasih link ke blog nya dia soal cerita menyapih. Akhirnya saya yakin untuk ngikutin apa yang dia udah lakukan.

Selasa malam itu, saya tanya ke Aka “Aka suka jus gak… suka minum air putih ga?” dan sebutin semua minuman kesukaan dia, dia jawab dengan mengangguk. Trus saya bilang “Aka berarti sudah besar ya… kalau gitu aka no no mik ya!” langsung dia jawab dengan gelengan kepala dan teriakan. Dan akhirnya saya luluh.. malah ngasih dia ASI lagi. Trial pertama gagal bahkan sebelum dimulai.

Besoknya saya bertekad untuk mulah nyapih dia. Kali ini dengan mengusir semua kekhawatiran saya. Yup, jadi konon kabarnya kalau kebanyakan proses menyapih suka lama karena ibunya yang belum rela. Seringkali feeling anak itu cerminan feeling orang tuanya. Jadi kalau ibunya ga tegas, ya anaknya juga kerasa mudah untuk “goyahin” ibunya.

Kalau saya sering khawatir nanti kalau gak ASI lagi dia masih sehat gak ya, kalau dia sakit gimana, kalau masih ASI kan gampang sembuh, trus nanti kalau nggak deket lagi sama Aka gimana. dst dst dst..  Hari itu akhirnya saya yakin kalau kekhawatiran saya itu bentuk egoisme saya karna takut jauh dari Aka. Takut nanti kalau saya pulang ke rumah dia ga lari dan menyambut saya dengan semangat seperti biasanya. Jadinya, saya putuskan untuk yakin kalau menyapih untuk kebaikan Aka, supaya Aka jadi lebih mandiri.

Rabu malam itu, dimulai jam 6 sore akhirnya saya kasih pengertian dan kali ini lebih tegas untuk gak kasih ASI dengan langsung. Aka langsung nangis plus menjatuhkan diri di kasur berulang-ulang. Saya tunggu apakah nagisnya strategi atau emosi. Harus saya tanggepin atau saya diamkan. Lima menit kemudian dia diem. Malah ngajak saya bermain. Tapi, 5 menit kemudian dia nangis lagi. Dan itu berulang sampai selama 2 jam.

Dengar tangisan anak seperti itu ada kalanya saya hampir goyah, tapi cepat-cepat saya kembali tegas (pada diri saya tentunya) kalau ini untuk kebaikan dia. Jam 8 malam dia berhenti dengan mata sembab, tapi mukanya tetap ceria. Syukurlah, ternyata benar dia cuma melancarkan strateginya untuk dapet ASI. Akhirnya dia bisa main-main lagi.

Lalu, tibalah waktu tidurnya jam 10 malam.Sebelum dia minta, saya langsung tawarkan dia “Aka mau bobok gendong apa bobok pokpok sambil bunda pijit?” Dia minta gendong. Saya gendong, dia sesekali usaha untuk minta mik. Tapi, saya langsung bilang “Aka anak besar ya, minumnya air putih” saya sodorin air putih di gelas. Dia minum kayak orang kehausan. Gak berapa lama dia minta tidur di kasur. Gelisah. Nangis minta mik lagi. Saya kasih pengertian lagi. Selama 40 menit berulang-ulang, sampai akhirnya dia tertidur, mungkin sudah capek. Akhirnya dia bisa tidur juga. Tapi, jam 12 malam dia kebangun lagi. Teriak, nangis lebih keras, jatuh-jatuhin tubuh di kasur. Miris lihatnya. Tapi, saya tetap yakin harus bisa melewatinnya. Setiap dia minta, saya kasih pengertian, saya tawarin minum air putih dan dia minta minum sambil tiduran, saya kasih aja. Akhirnya dia minta tidur sambil dipeluk, saya ikutin. Pokoknya membuat dia senyaman mungkin. Satu jam kemudian dia tidur. Jam 2.30 dia kebangun lagi, berulang lagi. Saya lakukan lagi yang sebelumnya saya lakukan. Tidur lagi setelah 1 jam. Hal yang sama berulang lagi jam 4.30. Tapi akhirnya dia tidur lagi dan baru bangun jam 8 pagi. Saya sudah janji untuk menyamankan dia selama proses ini, jadi tetap saya tunggui dia bangun meski harus terlambat ke kantor. Ohya, sebelum Aka bangun saya sediakan ASIP, jadi waktu bangun saya kasih “bonus” ASI diminum di gelas.

Hari pertama berhasil. Meskipun saya di kantor jadi ngantuk plus migren, tapi saya senang.

Kamis sore sepulang saya ngantor, Aka menyambut saya dengan antusias seperti biasa. Lega. Aka juga gak nyosor atau minta mik. Tapi, saya ga bisa leyeh-leyeh di kasur seperti biasa. Saya khawatir mancing dia pengen lagi. Akhirnya saya temenin dia main di kamar main dia sampai waktu tidur. Dan kejadiannya berulang lagi seperti kemarin. Ada rasa pengen menyerah, tapi kalau ingat kerja keras saya dan aka kemarin rasanya kok sayang. Jadi saya tetap tegas sambil kasih pengertian ke dia. Alhamdulillah malam itu Aka bangunnya berkurang dari 3x jadi 2x. Nangis dan gelisahnya sih tetep, tapi sudah mendingan. Ohya, selama proses ini, suami saya kebangun (yaiyalahh.. suaranya kenceng banget). Aka memang gamau digendong suami saya kalau lagi cranky, tapi kadang-kadang Aka pengen ayahnya dekat dia. Sesekali ayahnya pokpok dia dan dia mulai tenang. Suami saya juga siap siaga mengisi air putih di gelasnya, karena dia minum jadi banyak banget jadi harus bolak balik isi air. Memang dukungan suami juga perlu selama menyapih. Minimal ga marah-marah dengar anaknya nangis histeris 😀

Hari jumat, nangisnya ga sehisteris malam sebelumnya. Tapi jadi lebih gelisah karena mungkin dia berusaha untuk tidur dengan menyamankan diri sendiri. Malamnya cuma bangun sekali.

Hari sabtu, ayah bunda nya udah ngantuk sebelum jam tidur Aka. Anaknya diajak tidur malah ngajak main. Saya dan suami mulai “menyerah”, mungkin karena capek 3 hari kurang tidur. Saya akhirnya ketiduran tanpa gendong Aka seperti malam sebelumnya. Satu jam kemudian saya kebangun, Aka udah tidur nyenyak. Dia kebangun jam 3 pagi tapi bukan minta mik, tapi karena hidungnya mampet kedinginan.

Semalam, Aka udah bisa “nyari tidur” sendiri.  Gak gelisah lagi bolak balik heboh. Tidur udah nyenyak banget. Kebangun jam 4 pagi karena nyamuk nguing nguing 😀 Tapi gak berapa lama langsung tidur sendiri.
Alhamdulillah..

Rasanya berhasil menyapih itu lega banget. Seperti ada hutang yang lunas kebayar 🙂

Semalam, teman saya tanya soal menyapih. Karena dia sudah berusaha menyapih dan belum berhasil. Anaknya sudah 5 bulan lebih dari 2 tahun. Saya nggak tahu tipsnya apa, saya cuma ceritakan semua prosesnya. Saya juga cuma bilang kalau menyapih dianggap proses yang serius, jadi berdo’a sama Allah minta kekuatan untuk menyapih. Seriously, menyapih ini proses penting dan gak mudah bagi Ibu dan anak, jadi ga bisa dianggap enteng. Si Ibu harus kuat dan rela berlelah-lelah (beneran lelah kalau bermalam2 harus kurang tidur plus denger tangisan histeris). Kalau denger cerita dari temen saya, dia suka berhenti berusaha karna sudah males dulu ngerasain dramanya. Bagi saya, justru itu tantangannya. Mending capek banget tapi sekali, daripada ditunda-tunda jadi ngerasain capeknya berkali-kali.

Satu hal lagi, dia tanya apakah perlu dikasih pengganti, seperti kasih ASI di botol dot atau kasih boneka sebagai pengganti kenyamanan. Kalau saya memilih tidak. Karena nanti harus ada proses untuk “memisahkan” si anak dengan botol dot atau bonekanya. Ngebayangin dramanya lagi saya malah geleng-geleng deh.

Saya pikir banyak sekali cara untuk menyapih untuk dipilih. Saya memilih dengan cara “Weaning with heart” dan tegas dalam prosesnya (bukan “tega” kalau bahasanya Mbak Lia) hehhe… Bersyukur prosesnya gak sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Buat Ibu-ibu yang lagi atau akan menyapih. Tetap semangat yak! :*

photo 2

Dapet karpet baru hadiah berhasil disapih