Nasi Goreng dan Pesawat

Seperti biasanya, malam minggu aku ada di kos. Tapi, malam ini agak berbeda karena rutinitas membuat tugas tidak kulakukan lagi. Empat tahun di ITB akhirnya semua tugas itu berakhir, kecuali satu, ya tugas akhirku itu. Tugas akhir yang menjadi kunci keluarnya aku dari kampus gajah ini.

Pukul delapan malam, perutku sudah memanggil untuk diisi. Wajar saja karena sejak pagi belum diisi lagi oleh makan. Mungkin sensasi makan di pingir kolam renang tadi pagi membuat siangku malas untuk diisi oleh makan makanan warung sebelah. Terima kasih pada seorang teman yang tadi pagi merelakan tiket sarapan gratis di hotel di bilangan dago hingga hari ini aku dapat menjaga lembar ribuanku tidak melayang pada mas-mas penjual di warung tegal langganan.

Pilihanku malam ini jatuh pada nasi goreng di jalan dago pojok. Nasi goreng yang enak dan pas di lidahku. Satu hal yang membuatku senang ialah Bapak penjual nasi goreng yang selalu ramah dan bercerita akan banyak hal.

Malam ini ceritanya sedikit menohok. Oleh karenanya aku rela menyelipkan waktuku untuk membuat tulisan ini sembari makan nasi goreng lezat itu. Seperti biasa percakapanku akan dibuka dengan :
“ Nasi gorengnya pedes neng?” dan jawabanku selalu …”Dikiiittt aja,”
Sembari bapak membuat nasi goreng, aku iseng-iseng bertanya “ Pak, kalo bumbu nasi goreng itu apa saja ya pak?”
“Banyak neng,,ada baawang putih, bawang merah, daun bawang,,,”
“oooh,,,” lalu hening sejenak.
“Emang neng mau bikin nasi goreng ya?”
“Pengen pak, tapi nggak bisa,”jawabku polos.
“…” hening sejenak lalu dilanjutkan “ ,,,dulu yang bikin pesawat juga awalnya nggak bisa neng”
“…” aku bingung menanggapinya.
“ …iya, dulu yang bikin mobil, pesawat, motor, semuanya nggak bisa neng”
“iya pak, berarti harus belajar dulu masak nasi gorengnya ya pak” akhirnya aku mengerti arah pembicaraan bapaknya.
“ iya, tapi kenapa ya orang Indonesia nggak bias bikin pesawat sendiri” aku cuma menanggapi dengan senyum ,”…atau bikin motor gitu, yang lebih unggul, bersaing gitu neng,,,” bapaknya tampak makin serius membicarakan hal ini. Tapi tetap aku cuma bisa tersenyum. “…iya sih pak,,,”
“ …anak ITB tuh misalnya,,udah bayar duit skolah mahal2, harusnya bisa kan ya bikin kayak gitu. Paling ngga ya motor neng…”

Percakapanku masih panjang, tentang basa-basi lainnya. Cuma percakapan malam itu benar2 buat aku berpikir. Apa ya yang sudah kubuat untuk negri ini? Katanya anak ITB itu putra-putri terbaik bangsa. Harusnya ada sesuatu yang bsa kubuat, paling nggak orang seperti bapak penjual nasi goreng itu merasakan “suatu produk hasil anak negeri”

4 thoughts on “Nasi Goreng dan Pesawat

  1. ada nda yg udah kamu buat:
    Rancangan setir panser yang ergonomis.
    Pasti dipake gak ama P*ND*D?
    Kalo iya, brarti rancangan kamu udah jadi produk anak negeri. Iya kan……
    Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s