Pamali

Beberapa hari tinggal di Palembang membuatku sering berinteraksi dengan mama. Entah kenapa juga, beberapa hari ini aku sering mendengar mama mengoceh”…jangan ini… pamali loh”. Seperti yang kulakukan 2 hari lalu saat aku sedang masak untuk makan siang di rumah, karena pekerjaannya menyenangkan refleks aku bernyanyi seolah-olah aku penyanyi dengan suara merdu. Tapi keasikan ku bernyanyi dipotong begitu saja oleh mama dengan perkataannya

“Hush,, jangan nyanyi sambil masak, pamali!”

Dan dengan refleks juga aku membalas, “kenapa ma?”

“Nggak tau, pokoknya pamali. Jangan nyanyi sambil masak ya”

Saat itu, aku mengiyakan saja. Keesokan harinya saat mengaduk nasi yang sudah hampir matang. Aku ditegur lagi.

“Kak, kalo ngaduk nasi jangan ditusuk-tusuk kayak gitu. Harusnya gini..” dan mamaku sambil menunjukkan cara mengaduk nasi yang benar.

Tapi, karena penasaran kenapa, akhirnya aku tanya alasannya “,,,kenapa ma?”

“Pamali”

Hadohhh,,aku bingung kenapa juga banyak larangan dengan alasan pamali. Kalau bertanya dengan orang tua jawabannya pasti “pamali,,ya ngga boleh aja”. Seperti soal nasi tadi, karena tidak puas dengan jawaban “pamali” aku terus memaksa mama menjawab. Dan jawaban mama adalah “…dari dulu mama diajarin begitu. Kalo pamali ya nggak perlu tau alasannya. Tapi yang pasti kalo kita ngikutin itu, terbukti dari dulu eyang ga pernah kekurangan tuh,,,”

Jadi, kalo boleh aku memberi deskripsi, pamali itu larangan yang turun menurun (tradisi) yang harus diikuti tanpa perlu tahu alasannya.

Hmm, tapi untungnya perasaan penasaran untuk tahu logika dibalik berbagai pamali itu sedikit terjawab. Kemarin saat membuka majalah adikku, Gadis  No 04.XXXV.5-14 Februari 2008, ada sedikit bahasan tentang pamali. Berikut aku kutip sedikit beberapa “pamali” yang sering kita dengar…

1.    Jalan di bawah tangga. Tangga yang terbuka akan membentuk segitiga (misal, tangga yang disandarkan ke dinding). Menurut kepercayaan dulu, segitiga itu symbol kehidupan. Jadi kalau ada yang berjalan di bawah segitiga, itu artinya dia sedang bermain-main dengan nasib. Makanya nggak boleh.  Logikanya: kalo jalan di bawah tangga, trus tiba-tiba ada barang yang jatuh  dari atas, kan bisa bikin benjol!

2.   Buka payung dalam ruangan. Ini bermula dari London abad ke 18. Pada saat itu, payung menggantikan tongkat untuk berjalan. Payung pada masa itu terbuat dari per dan besi yang elastis. Akibatnya kalau payung tsb dibuka dengan tiba-tiba bisa melukai orang yang disekitarnya ataupun menjatuhkan berbagai benda yang menghalangi terbukanya payung. Jadi, wajar kalau payung dilarang dibuka di dalam rumah.

Logika pamali lainnya misal dilarang duduk di depan pintu. Ya iyalah,,kan bisa ngehalangi orang yang keluar masuk. Eh ya, barusan browsing lewat google trus ktemu ini

oya, kemarin saat masak blackforest dengan adikku kita jadi membahas soal pamali nyanyi sambil masak. Akhirnya kita menemukan logika kenapa nyanyi sambil masak itu dilarang, yaitu …

”ya kalo kita nyanyinya jelek, n orang di sekitar kita nggak suka. Bisa-bisa kita ditimpuk wajan panas yang dipake buat masak…”

hehehe,,,namanya berusaha nyari logika, bolehkan berpendapat😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s