Ketika ke”islam”an diuji

ini tulisan seharusnya di posting tgl 1 april kmaren…
___________________________________________
Sekarang sudah jam 1.17 pagi. Tapi belum juga aku bisa tidur. Bukan karena hari ini tanggal 1, bukan karena beberapa jam lagi aku menghadapi hal baru,,,bukan. Tapi karena ini…

Salah seorang sepupuku akan menikah sabtu ini. Seperti kebiasan keluarga lainnya, aku dan saudara-saudara yang lain membuat “seragam” berupa kebaya. Sore kemarin, kebaya yang sudah dijahit sejak seminggu lagi akhirnya sudah ditangan. Tentunya hal pertama yang kulakukan adalah mencobanya, karena memang aku hanya sempat satu kali fitting sebelum kebayanya jadi.

Jahitannya rapih. Modelnya sesuai yang kuinginkan. Tampilannya sangat cantik. Ukurannya pun pas,,,sangat pas sekali sampai-sampai aku harus sedikit menahan nafas untuk mengenakannya. Seketika kusadar bahwa ukurannya pas, aku terucap “ hmm,, rasanya aku butuh mengurangi berat badan dalam seminggu ini deh”.

Tapi, rasanya sulit sekali untuk aku mengurangi bobot tubuhku. Selama 4 tahun kuliah, rasanya berbagai cara dilakukan untuk menurunkan berat tubuh yang melonjak sejak aku menjadi mahasiswi, tapi hasilnya hampir mendekati nihil. Tapi, bukan berarti aku tidak pernah berhasil menurunkan bobot tubuh ya,,, buktinya beberapa bulan yang lalu beratku sempat menyusut 5kg. “keberhasilan” ini bukan tanpa sebab, ini adalah besaran yang harus dibayar untuk sebuah “emotional cost”. Biaya yang timbul dari sebuah rasa kehilangan yang kualami beberapa bulan belakangan…

Dan entah mengapa,,, begitu cepat rasanya Allah mengabulkan ucapanku…

Bukan, bukan berarti bobot tubuhku menyusut langsung…tapi rasa kehilangan itu yang datang (lagi) dengan mudah,,,

Jadi, ucapan itu terlontar ketika aku sedang mengobrol dengan seseorang di telpon. Namun, obrolan itu terputus ketika aku harus mandi, karena waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 20.15. Beberapa menit kemudian, ketika aku selesai mandi dan kembali ke kamarku, saat itu juga aku menyadari bahwa hape ku hilang. Buka cuma satu, tapi tiga buah hape. Bukan pula cuma hape, tapi juga jam tangan. Bukan sebuah, tapi dua buah.

“kun fayakun, terjadilah maka terjadilah…”, Ya Allah, begitu mudah bagiMu untuk menjadikan segala sesuatu itu terjadi…

Sedih? Pastinya… semua barang itu tiba-tiba menjadi sangat berharga buatku…

7260,,,hape ini diberi oleh daddy. Hampir 4 tahun belakangan hape ini menemaniku. Begitu banyak cerita yang sudah dia “dengar”, begitu banyak tulisan yang telah dia “baca”, begitu banyak kenangan yang dia “simpan”

N76,,, memang sih, umurnya belum genap setengah tahun, tapi memendam rasa untuk memilikinya sudah cukup lama. Jadi, saat mama memberikannya sebagai hadiah wisuda, perasaan bahagia benar-benar tidak bisa kupendam.

Cdma,,aku lupa seri-nya. Tapi yang pasti, untuk teman mengobrol dengan teman lama di tempat yang masih asing seperti saat ini, membuatnya benar-benar terasa berharga.

Jam tangan yang satu,,, ini pemberian dari seseorang saat ulang tahunku ke-21. Apapun yang namanya pemberian pastinya sangat berharga. Terlebih lagi diberikan oleh orang yang kini sudah nun jauh di sana. Telah dibentang jarak, kenang-kenangan sebagai pengingat pun lenyap sudah. Sedih!

Jam tangan yang satu lagi,,,bentuknya yang unik membuatku merasa kehilangan.
Okay,,,ceritanya makin mellow..

Tapi, dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Oleh karenanya, saat ini aku belum bisa tertidur karena sedang “mencari-cari” hikmah apa dibalik semua ini. Satu yang terpikir olehku sejak tadi adalah ini merupakan sebuah peringatan keras buatku…

…Karena aku terlalu mudah menghamburkan uang untuk kesenangan pribadi. Namun, untuk memberi aku sangat “berhitung”. Menggenapkan pemberian 2,5% dari yang kudapat sudah membuatku puas. Memalingkan muka ketika seorang pengamen meminta hasil “olah suaranya”, padahal Rasul pernah berkata…”berilah kepada yang meminta walaupun hanya sebiji kurma”.

…Karena aku terlalu mudah untuk menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan teman berjam-jam, namun ketika harus “mengobrol” dengan Allah hanya sebatas percakapan 10 menit, 5 kali seharinya. Seakan aku lupa, bahwa yang pasti “mendengar” hanyalah Allah.

“Ya Allah, kalau benar ucapan seorang cameo di film Ayat-Ayat Cinta itu benar, bahwa “Islam itu sabar dan ikhlas”, mungkinkah kali ini Engkau sedang menguji ke-Islam-an ku?”

Hanya sejenak aku terlupa. Bahwa beberapa bulan yang lalu, aku pernah terjatuh karena merasa kehilangan. Cukup lama aku berusaha untuk bisa sabar dan ikhlas. Dan memang janji Allah selalu benar. Seketika aku merasakan bahwa aku berada di titik tersebut, ketika itu pula Allah memberikan banyak berkah, kebaikan dan kesenangan.

Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (Al Ma’idah 85)

…namun sesat itulah aku lupa. Besarnya kebaikan di dalamnya, membuat sabar dan ikhlas bukan sesuatu yang mudah untuk diraih dan dipertahankan. Aku lengah, sehingga menjadi lupa bagaimana aku mendapat kebahagiaan itu.

Aku pikir, cobaan itu sudah berakhir, dan aku salah..

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. ( Al Anbiyaa 35)

…cobaan itu dapat berupa keburukan dan kebaikan. Kesedihan dan kesenangan.
…dan aku (merasa) dicoba…
…dengan kesulitan, kesenangan, kesulitan, kesenangan…
Lalu, haruskah aku sedih?

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (Al Baqarah 214)

Kalau percaya dengan”janji Allah” di atas, seharusnya tidak perlu bersedih hati.

“Semoga kita semua tergolong orang-orang yang yakin dengan janji Allah.”Ada juga “janji Allah”…

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqarah 155)

6 thoughts on “Ketika ke”islam”an diuji

  1. sabar ya Bu,,insyaAllah semua yang baru ilang itu akan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah SWT,,
    smangattttttttttt!!! (^o^)

  2. fiuhhhhh.. aku sedih bacanya.. jd ngerasa bgt kaya yg kmu bilang:

    “…Karena aku terlalu mudah untuk menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan teman berjam-jam, namun ketika harus “mengobrol” dengan Allah hanya sebatas percakapan 10 menit, 5 kali seharinya. Seakan aku lupa, bahwa yang pasti “mendengar” hanyalah Allah.”

    emang hanya Dia yg ngerti apa yg hamba-Nya alamin.. hanya Dia yg ngerti gmn kondisi qta masa lalu, saat ini, dan ke depannya.. tapi knapa ya qta seringkali ‘menghilangkan’ waktu buat ‘mengobrol’ dengan-Nya?

    btw, nda.. how’s your emotional condition right now? better?

    take care ya bu🙂

  3. riky,,,
    pak, komen ato promosi?! heheh…

    Diah,,,
    duh iya dee, yang gitu salah satunya penyemangat aku. kamu juga smangaattt ya… kangeenn juga,,,hiks,,

    Eka,,,
    amin,,amin,,amin,,

    miduth eh mitha, heehe,,,
    better bu,,better,,, lingkungan baruku menyenangkan soale..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s