IRIRIAN

Penyakit insomnia-ku kambuh lagi. Alhasil skarang jam 2 pagi, tapi sama sekali nggak ngantuk. Mudah-mudahan besok pagi di kantor bisa “bertahan” dengan sukses tanpa harus ngerasa ngantuk.

Satu hal yang ‘menggelitik’ku lagi untuk menulis lagi adalah obrolan ringan saat makan siang dengan teman-teman kantor. Tiba-tiba, seorang teman berucap begini:

“Gimana ya, supaya nggak iri sama orang?” pertanyaan ini buatku sedikit bingung, kenapa juga hal seperti ini bisa ditanyakan.
Karena aku yang duduk paling dekat dengannya, mau tak mau aku pasti yang me-respon tercepat, “Kalo aku sih mbak, aku mikir kalo apa yang kupunya itu sudah cukup, jadi nggak perlu mikirin orang lain”
“oh gitu ya. Jadi, walopun sebenernya kita nggak cukup, tapi harus ngerasa cukup?!”, simpulnya.
“Hmm, bukan gitu sih mbak,,,” setelah menjawab seperti itu, aku sedikit gelagapan. Gimana ya, kalau emang nggak cukup?? Tapi aku tiba-tiba menjawab apa yang terlintas aja, “Kita itu pasti dicukupkan. Bersyukur dengan yang kita punya, jadi nggak iri”

Itu sepenggal percakapan tentang ‘iri-iri’an, lebih dan kurangnya maap-maapin aja ya, hehe..

Setelah obrolan itu, aku juga nggak mikirin lagi. Tapi, barusan koq ya kepikiran?! Bisa-bisanya aku menjawab seperti itu. Apa bener aku sudah segitu nggak pernah iri sama orang?

Dulu, aku pernah punya HP yang lumayan canggih. Tapi, tetap saja kalau melihat punya orang lain koq ya tetap merasa Hp ku yang jelek ya?! Padahal dari segi feature, jelas-jelas punya ku lebih lengkap dan kualitas lebih oke (hehe,,narsis dikit lah). Beberapa orang pun pernah terlontar ucapan seperti ini, “ aduh, suka deh sama HP nya Nda, bagus.”Tapi tetap saja aku merasa punya yang lain yang lebih baik. Hmm, rumput tetangga memang kelihatan selalu lebih hijau ya?!

Sampai akhirnya, iri-iri-an hape ini berhenti ketika Hape ku hilang (see previous post). Dan sekarang, hape yang aku punya benar-benar feature-nya terbatas. Cukup saja untuk telpon dan sms. Kejadian hilang-nya hape malah membuatku jadi tersontak. Kalau dulu aku lebih bersyukur gak selalu iri sama yang orang lain punya, mungkin Allah nggak akan mengambil hape ku deh. Tapi, inna lillahi wa inna illaihi roji’un. Apapun itu, ya ujung-ujungnya akan kembali pada Allah. Toh, semuanya titipan.

Soal iri-iri-an ini, barusan aku browsing di Al qur’an, dan dapetlah ayat ini.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S An Nisa 32)

Kalau boleh sedikit menafsirkan, ayat di atas tuh intinya adalah apa yang kita punya adalah hasil dari yang kita usahakan (wallahu alam, mudah-mudahan nggak meleset terlalu jauh soal tafsir ini). Jadi, kalo memang kita punya segitu, ya itu akibat dari yang kita usahakan. Kalau mau lebih, ya berusaha lebih. Bener nggak sih?! Mudah-mudahan bener..

Hmm, jadi nginget-nginget lagi, kalau tadi, aku iri sama barang yang dimiliki orang lain, pernah nggak ya aku iri sama orang lain?! Setelah diinget-inget, sampai sekarang pun aku masih iri sama seseorang. Dia sahabatku sendiri. Dulu, sering sekali aku bercengkrama dengannya (aduh bahasanya,,,), sudah tahu jelek-jeleknya dia pun, tetap saja aku iri. Ini pengakuan pertamaku loh, hehehe, kalau aku emang iri sama dia. Mudah-mudahan jadi nggak gede kepala deh, dia aku puji-puji hihi,,

Aku iri sama kemudahan-kemudahan dari setiap urusan yang dia lakukan. Aku iri dengan ketenangan dirinya menghadapi masalah. Aku iri karena dia dikagumi banyak orang, ,,,aku iri,,,
Tapi, entah kenapa ke’iri’an ku yang satu ini tidak berhenti sebatas iri saja. Aku cari tahu, kenapa ya dia bisa begitu?

Setelah dekat dengan dia, sering berdiskusi banyak hal, akhirnya aku tahu kalau dia begitu dekat dengan Allah. Segala bentuk perilakunya dipikirkan baik-baik. Meskipun sering main sama aku, dia slalu menyempatkan diri untuk menimba ilmu agama. Sementara aku merasakan waktuku sedikit sekali yang tersisa, dia seakan bisa menyempatkan untuk berdekatan dengan Allah dengan secuil waktu yang dia punya. Subahanallah.. Akhirnya aku tahu, kenapa Allah menyembunyikan keburukan dirinya, dan memudahkan usahanya. Karena kulihat Allah begitu sayang pada nya. Wallahu alam, tapi inilah yang kulihat dengan ‘penglihatan’ku yang terbatas ini.

Hmm, karena sudah tahu begitu aku jadi tak mau kalah dengan dia. Usahain supaya Allah juga sayang sama aku. Aku tanya apa saja yang dia lakukan, kalau menurutku baik ya aku ikutin.. tapi ya,yang dia lakuin ya yang baik-baik sih, hehhe.. Diskusi beberapa hal. Minta di-mentor sama dia di sela-sela ngunyah makanan favorit kita (ngaku deh, kalau kita kalau ketemu kerjaannya makan-makan terus,,hehhe…). Terus udah gitu, hasilnya gimana?! Ya nggak gimana-gimana juga sih,, soal hasil sih Allah yang menilai. Yang pasti aku tetep aja gitu, iri sama dia, karena banyak banget hal yang aku jauh tertinggal dari dia. Huaaaahhh peringatan buat diri sendiri nih, supaya berusaha lebih keras, supaya Allah sayang sama aku,,,

Hmm, kalo dilihat dari dua kisah (taellahhh,,kisah,,hehhe,,,) di atas (hape & sahabat), sebenernya boleh nggak sih kita iri-iri-an.’kan iri yang kedua malah membawa manfaat?!

Nah, kalo menurut ayat di atas, kita nggak boleh iri. Tapi, menurutku kalau iri ya boleh aja, tapi harus ditelusuri sebab iri-nya, trus nggak berhenti sampai di situ aja. kalau memang pengen dapet yang sama, ya usaha donk. Kan Allah udah janji, kalau kita bakal dapet sesuai dengan yang kita usahakan, tul nggak?! Tapi, kalau yang kita iri-kan itu sifatnya keduniawian, jangan lupa juga dengan konsep syukur, jadi mudah-mudahan kita nggak ngoyo buat ngejer-nya. Tapi, kalo bukan soal keduniawian, nah saatnya kita untuk berlomba-lomba. Ini usahanya harus sekeras mungkin. Jadi inget, pas SMP ngisi LKS (do you remember LKS, Kunti dan teman-teman-nya itu kah??hehe,,) buat pelajaran agama. Di situ pertanyaannya gini,

Kejarlah dunia seakan-akan…, dan kejarlah akhirat seakan-akan…

Nah jawabannya ya begini:
Kejarlah dunia seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi, dan kejarlah akhirat seakan-akan engkau akan mati esok.

Haduhh, koq brasa ceramah gini ya.. jadi malu, ini mah sharing skalian ngingetin buat diri sendiri deh, heheh.. Oh ya, kalau ada konsep yang salah,maaf ya,,, n please feel free to comment.. Aku sharing ya berdasarkan apa yang kualami aja, teman-teman pasti pengalamannya jauh lebih banyak dan ilmunya lebih tinggi🙂

2 thoughts on “IRIRIAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s