“Namaku Muhammad Luthfian, tapi mbak panggil Luthfi aja.”

Kemarin sepulang dari kantor saya pergi ke Pasar Sunter, mau kecilin baju yang sudah di complain mama “kayak baju hamil” karena saking besarnya. Setelah pergi ke tukang jahit saya langsung cari tempat makan, sekalian aja makan sebelum pulang ke kos. Tak seperti biasanya saya iyakan saja ajakan makan di pasar. Biasanya malas makan di pasar, tapi entah kenapa semalam saya “iyakan” saja.

Baru selesai memesan makanan, tiba-tiba ada tangan terulur di sebelah saya..

“Mbak..”

Saya menoleh sesaat, seorang anak kecil meminta-minta.

“Maaf ya dek”

“Mbak, minta mbak,,”

Saya masih menolak.

“Mbak, kalo nggak minta beliin makan aja”

Saya menoleh. Berani juga nih anak, apa begitu model meminta-minta jaman sekarang?

“Hmm, kamu mau makan apa aja?”

“Terserah mbak.”

“Yaudah, kalo mau makan kamu harus makan disini aja ya.”

“Dibungkus aja mbak”

“Gamau, kalau mau kamu harus makan di sini. Duduk di sana ya”, sambil kutunjuk kursi di depanku.

Dia menurut saja.

Begitu dia duduk saya baru perhatikan lebih lama. Bajunya bersih dan rapih, mukanya terlihat terawat walaupun sedikit gosong terkena matahari, dan yang paling saya suka adalah matanya yang jernih apalagi kalau bicara matanya terlihat berbinar karena semangat.

“Kamu makan apa?”

“Terserah mbak..”

“Yaudah  pilih aja” sambil kusodorkan menu di depanku.

“Hmm,, ini mbak. Nasi goreng seyafot” sambil menunjuk  ke tulisan ‘nasi goreng sea food’. Saya hanya tersenyum mengiyakan. Jelas saja saya tahu dia hanya memilih makanan yang namanya tampak menarik di matanya.

Sambil makan saya bertanya banyak hal. Kupikir dia akan menjawab sambil merendahkan dirinya sembari meminta belas kasihan, seperti anak peminta-minta lain yang pernah kutemui. Tapi, nyatanya tidak. Setiap pertanyaan yang saya lontarkan dia jawab dengan lugas, dan terlihat dia cerdas. Tak sedikitpun terlihat kalau dia ingin merendahkan dirinya. Semua jawabannya benar-benar khas anak kecil yang senang punya teman baru.

Sesaat saya bertanya apakah orang tuanya memaksa dia untuk meminta-minta, “ nggak mbak, mamak cuma bilang kalau aku nggak minta-minta mamak sedih, daripada mamak sedih mending aku minta-minta aja”.  Dari jawabannya saya tahu kalau Ibu nya memang ‘sedikit’ memaksa, tapi jawabannya itu yang buatku terenyuh, dia tak mau Ibunya sedih. Beruntungnya seorang Ibu yang punya anak seperti dia.

Saya tanya lagi buat apa dia minta-minta. Dengan santai dia bilang, “buat dikasih mamak beli lauk, trus ditabung, kadang-kadang buat beli celana. Sekarang lagi nabung buat beli celana olahraga”. Entahlah, saya yang sensitif atau apa, yang pasti dia mengingatkanku bahwa hidup itu perjuangan. Bukan dengan ongkang-ongkang kaki kalau mau bertahan hidup dan mendapatkan sesuatu.

Semakin lama cerita saya semakin penasaran sama anak ini. Banyak cerita yang kugali. Katanya dia lebih suka belajar daripada main. Saya tanya beberapa pertanyaan anak SD dan dia bisa menjawab dengan lancar.  Kudesak dia agar dia lebih memilih belajar daripada main, dan seketika dia bercerita dia pernah belajar dari jam 2 siang sampai jam 8 malam, dan dia bilang “senang mbak tapi capek kalo belajar terus”. Jawaban khas anak kecil.

Setelah makanan habis, saya tawarkan untuk pulang sama-sama. Dia cuma bilang “ nanti mbak, goceng lagi baru pulang mbak”. Well, even seorang peminta-minta punya target,  jadi maluuuu…Oh ya, penghasilan anak ini gede juga loh. Sehari bisa 30rb. Kalau dia “duet” dengan kakaknya ngamen di metromini, sehari bisa 70rb. Kalo dirata-rata ya sebulan bisa 50rbx30= 1 juta lima ratus ribu. Well, jumlah yang besar buat anak seumuran dia. Nggak heran kenapa banyak yang lebih memilih jadi peminta-minta ketimbang bekerja lainnya. Eh ya, uang segitu itu dia dapet kalo dia mulai minta-minta setelah pulang sekolah, yaitu setelah jam 2. Berarti kalau hari minggu bisa dua kali lipat yang didapat.

Setelah diiming-imingi uang ‘goceng’, akhirnya dia mau juga kami antar pulang. Sebelum pulang kami ajak sholat magrib dulu. Dia nurut. Dia juga cerita kalau dia malas sholat kalau malam, sukanya kalau sholat subuh.

Sepanjang jalan ke rumahnya saya minta dia bernyanyi. Mau tau lagu pertama yang dia nyanyikan? Kasih Ibu. Itu loh lagu yang begini,,”kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa..” huhu,, jadi sedih denger lagunya. Setelah itu dia nyanyiin lagu Laskar pelangi, trus lagu Ungu yang liriknya ada tobat-tobatnya gitu, trsu lagu Bukan Superstar. Seneng rasanya denger dia nyanyi. Lepas. Oh ya, ada satu cerita lucu saat aku tanyakan apakah dia bisa bahasa inggris. Dia bilang” yang aku tau kalo melon itu bahasa inggrisnya tetep melon ya mbak” kemudian aku iyakan. Lalu didepannya ada boneka pisang, spontan aku tanya “kalo pisang apa?” dia jawab “ nggak tau mbak, tapi kata temenku kalo seya itu artinya udang mbak, trus kalo fot itu cumi-cumi”, tak sanggup aku tahan tawa, dan langsung aku tanya “jadi kamu tadi pesen nasi goreng sea food gara-gara itu isinya udang dan cumi-cumi? Ia serentak menjawab ”iya mbak”. Ya ampuuunn,,

seya itu udang, fot itu cumi-cumi mbak..
seya itu udang, fot itu cumi-cumi mbak..

 

 

 Rumahnya tak begitu jauh dari pasar. Tapi untuk ditempuh jalan kaki tidak dengan waktu sebentar. “satu jam sampe rumah mbak”. Aku berulang bertanya untuk meyakinkan apakah dia tiap hari pulang jalan kaki. Dan dia bilang iya, tapi kadang-kadang ikut Bapaknya kalo lagi ngojek.

Setelah melewati jalan-jalan sempit dan ramai, akhirnya sampai di depan gang rumahnya. Kami tidak masuk karena rumahnya masih jauh di ujung gang. Akhirnya pertemuan singkat malam itu berakhir juga.

Terima kasih Luthfi. Banyak cerita tersirat yang bisa diambil dari kamu. Bahwa hidup itu memang butuh perjuangan, bahwa Ibu itu adalah orang terpenting dalam hidup, bahwa untuk mencapai sesuatu itu perlu target sehingga punya ukuran untuk berhasil, dan bahwa susahnya hidup tidaklah harus dirasakan susah, biarkan semuanya lepas dan mengalir,, toh semuanya sudah ada jalannya. Seperti pertemuanku semalam dengan kamu.

 

3 thoughts on ““Namaku Muhammad Luthfian, tapi mbak panggil Luthfi aja.”

  1. Eemmm..ooh “sea food” itu artinya “cumi-cumi” to..kirain artinya “melihat kaki”..(si = melihat, fut= kaki..)..tambah amburadul ya?hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s