Please give me a “four clover leaf”

Beberapa hari belakangan menjadi hari -yang cukup- sibuk buat saya. Setiap hari di taskbar saya bertebaran dengan 10 windows excel dan sekian aplikasi lainnya. Bertubi-tubi angka rasanya menimpa kepala saya entah pagi siang bahkan di dalam mimpi sepertinya saya sedang menghitung. Entah terpikir format spreadsheet, cara menganalisa yang lebih mudah, bahkan pengertian dari sekian project yang namanya saja sudah membuat kening saya berkerut.

Well, bukan salah siapa-siapa saya tercebur di sini, bersinggungan dengan Finance dan IT. Keduanya bukan mata Stock Photoskuliah yang saya minati saat di perguruan tinggi. Memang sih, tidak kedua-duanya harus saya mengerti sangat dalam. Saya hanya perlu tahu “sedikit” dari keduanya untuk membuat pekerjaan saya berjalan (dan dengan lancar). Tapi, yang “sedikit” tadi seakan tidak cukup ketika harus melakukan pekerjaan yang judulnya tersisip kata “Yearly Plan”.

Saya mungkin bisa mengerjakan semuanya dengan lancar, jika dan hanya jika (well yeah, kalimat matematika inih…) pekerjaan ini tidak dilakukan berulang-ulang. Maksudnya, kalau saya sudah menjelaskan sekali sebaiknya ya hanya sekali, tidak perlu ditanya berkali-kali. Seakan-akan sedang menyusur benang agar teruntai rapih, tapi karena dilakukan berkali-kali malah menjadi kusut. Ruwet.

Selesai keruwetan benang kusut tadi, datanglah keruwetan yang lain. Having relationship with someone makes you should take all the consequences, sweet and bitter. Dan sekarang masanya tidak sedang dalam kategori sweet (bilang aja bitter gitu, Nda…). Dan itu membawa saya seakan mencari tumpukan jarum dalam jerami sambil mengurai benang kusut yang terkait di jarum itu (oke, saya tahu saya lebay.. tapi yasudahlah)

Dalam keadaan seperti itu, saya memilih mencari pelarian. Dan pelarian saya kali ini adalah semangkuk es longan + almond, sepring makanan vegetarian, sebungkus kue yang mirip pofercheese, roti keju, mascara baru dan satu novel baru. Semuanya membantu, kecuali novel yang saya beli.

6342126Tidak ada yang salah dengan novel ini. Ceritanya mengalir, membuat saya tidak berhenti membaca sampai halaman terakhir tertuntaskan. Hanya ada ketidakkonsistenan penulis dalam membangun karakter yang sedikit mengurangi nilai. Tapi sudahlah, kali ini saya tidak membuat resensi. Hanya mau menunjukkan kalau buku ini kurang tepat dibaca oleh saya dalam kondisi seperti ini. Membuat makin pusing dan makin takut untuk mengikatkan diri pada sebuah komitmen. Sekali lagi, bukan karena bukunya, tapi kondisi saya yang tidak bisa berpikir jernih yang membuat saya tidak bisa berfikir dari dua sisi, sehingga memandang dari sisi yang buruk saja. Mungkin kedepannya pilihan pelarian saya adalah film saja. Greys anatomy mungkin. Melihat darah dan pembedahan dimana-mana mungkin bisa membuat penyegaran. huahaha… tampaknya saya semakin sadis dan tulisan saya semakin tidak terarah😀

Dalam segala keruwetan itu, pagi ini saya menerima email dari Pacar:

 There are days in a year when shit happen, reality bites and life sux…

May be yesterday is one of those days.

Email itu diakhiri dengan kata-kata semangat. Memang benar, kalau tidak semua hari adalah hari yang menyenangkan. Tentu diciptakan hari yang tidak menyenangkan supaya ketika ada hari yang menyenangkan, hari itu akan benar2 terasa menyenangkan. Tapi, semuanya masih belum bisa menyemangati saya yang kadung capek. Saya masih merasa ditimpa berbagai hal 1231686073550585399rg1024_four_leaves_clover_svg_hiyang membuat saya lelah.  Harus apa supaya mood saya kembali?

Akhirnya saya bertekad untuk mencari semanggi berdaun empat, untuk mengembalikan keberuntungan saya atau paling tidak mood saya kembali. Tapi kan ya, nggak mungkin juga sekarang saya ngabur dari kantor, sambil menyusuri segala tempat yang ada tanahnya, dan berharap ada kumpulan semanggi yang menyembul, berdaun empat pula. Jadi, saya harus apa?

First Leaf: Saya mau masak. Makan kentang goreng banyak-banyak dan dimakan anget mungkin menyenangkan.

Second Leaf: Saya mau nonton Greys Anatomy, Season 5 eps 22. Sepertinya saya perlu diingatkan kalau (mungkin) menikah itu akan menyenangkan, tidak hanya keruwetan yang ada di dalamnya.

Third Leaf: Saya mau telpon pacar. Ngobrol ngalur ngidul atau membahas MS.Case Study yang baru saja dia kirim link nya ke saya. Kenapa saya tertarik? Karena melibatkan seseorang yang saya adore. Hmm, tapi rasanya saya hanya akan membahas shooting dari video yang ditampilkan dan juga dasi dari si seseorang itu saja😀 Selebihnya pasti saya tidak mengerti.

Fourth Leaf: Saya mau mendengar ayat-ayat AL Qur’an dilantunkan. Bisa saja dilantunkan dari imam Masjid tarawih malam ini. Dzikir yang bersahutan menyebut nama Allah, yang sesekali membuat hati saya bergetar, yang kadang kala membuat para jamaah sesenggukan menahan tangis, karena ingat kebesaranNya. Walaupun baru dua hari belakangan saya merasakannya, tapi itu sudah membuat saya kangen. Hmm.. saya yakin “daun keempat” inilah yang benar-benar akan mengembalikan mood saya lagi.

Saya yakin semua orang punya “semanggi berdaun empat”nya. Semoga saja daun-daun itu tidak layu, jadi selalu membawa keberuntungan atau paling tidak mengembalikan mood yang punya. Good luck everyone🙂

 “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

QS Ar Ra’ad: 28

4 thoughts on “Please give me a “four clover leaf”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s