Tanjung Bira Pelepas Roda

Jika kamu percaya pada tujuan yang indah, kamu pasti mampu mengalahkan segala ketakutanmu

Semilir angin siang ini membuat rambutku berantakan. Sesekali kusibakkan apa yang bisa kusibak. Aku lupa membawa pita pengikat rambut. Berkali-kali menahan, angin di ujung tenggara Sulawesi Selatan ini lebih tak mau kalah. Akhirnya kubiarkan saja.

Pandanganku beralih pada Raisha yang sedang bermain-main di bibir pantai. Dia berkeliaran ke sana sini sesuka hatinya, menyusuri gugusan pasir putih yang terhampar sepanjang tiga kilometer. Raisha membiarkan kakinya dibelai pasir yang halus dan lembut bak tepung.  Tanjung Bira  memang sangat dekat dengan dirinya, tempat pelarian yang sangat dia cintai, begitu pendapatnya.

Itu juga yang membuat dia terlonjak gembira saat aku menawarkan untuk pergi bersama, mengikuti Ayah dan Bundaku yang memang sedang ingin berlibur. “ Asiiikk.. aku pulang kampung”, teriaknya waktu itu. “Enggak Sha, kita nggak ke Makasar. Ayah sama Bunda nggak mau berhenti di sana” jawabku meluruskan. “Phy, jaraknya  cuma 200 km, artinya butuh waktu hanya 4 jam Phy dari Makasar ke sana. Itu dekat, artinya tetap saja aku pulang kampung” elaknya memaksa. “Halah, maksa kamu, pokoknya kita ga ke Makasar. Titik.” Lalu dia hanya membalas dengan derai tawanya.

“Phy, jalan ke sana yuk.” Tiba-tiba Raisha berteriak memanggilku.

“Ke mana?”, jawabku tak kalah berteriak. Posisi dia yang ada di pantai, sedangkan aku hanya terduduk di pinggir tebing rendah di dekatnya membuat kami harus setengah berteriak.

“Ke situ..” ucapnya sambil menunjuk suatu tempat yang jauh. Dari kejauhan aku melihat kapal berlayar biru yang terkembang indah.  “kita lihat orang bikin kapal Pinisi. Yuk..” Raisha mulai berjalan mendekatiku. Sedikit susah payah dia melompati bibir tebing itu.

“Jauh Sha. Lagian roda-roda ini nggak akan sanggup jalan ke sana.” Jawabku malas.

“Phy, menurut kamu kapal-kapal itu indah ga?” tanyanya saat dia sudah ada di sampingku.

“Indah Sha, aku juga penasaran pengen lihat gimana orang-orang itu mengerjakan maha karya nan dahsyat itu. Pinisi, kapal asli Indonesia yang tersohor di dunia” ucapku sambil memandang kejauhan dengan takjub.

“Kamu penasaran kan? Pengen lihat kan? Jadi, kamu nggak punya alasan lagi untuk nggak pergi ke sana.” Ucapnya meyakinkanku ”hayok kita pergi”.

“Tapi Sha..” aku menunduk memandangi kursi beroda yang kududuki sekarang. “Kursinya nggak mampu untuk bawa aku ke sana. Di sana banyak batu, medannya nggak memungkinkan”

Tiba-tiba Raisha menarik tubuhku untuk berdiri secara paksa. Membuat aku sedikit oleng, dan mendaratkan cengkeraman tanganku di bahunya. Dia menahan tubuhku dengan tangannya. Memberikan kruk yang tadi diambilnya dari bawah.

“Berhenti kamu pakai kursi itu. Jangan pernah tergantung dengan satu perlengkapan. Ingat, kursi roda itu hanya perlengkapan, sebagai pelengkap, bukan yang utama” ujarnya tegas sambil menyodorkan kruk padaku. “Yang terpenting adalah kemauanmu. Diri kamu yang menjadi pusatnya, alam semesta akan membantu kalau kamu memang ingin”  tambahnya lebih pelan “ikuti aku dengan kruk ini, kamu bisa. Jangan malas. Toh aku ada di sini. Kalau kamu capek, tak gendong” jawabnya sambil mengerling  dan menirukan gaya  Mbah Surip. Aku hanya tertawa, dia tidak mungkin mau menggendongku, tubuhku saja jauh lebih gempal dari tubuhnya.

Terseok-seok aku berusaha  berjalan di atas tebing karang yang kokoh. Raisha memaksaku untuk terus berjalan. Sesekali aku berhenti dan sesuai janjinya dia memapahku ketika aku mulai oleng.

Akhirnya di salah satu ujung tebing Raisha berhenti.

“Mana Sha, kamu bilang ada pembuatan pinisi di sini?” tanyaku bingung “ ini kapalnya saja tak terlihat lagi”, aku melihat ke sana ke mari, mencari pinisi yang tadi terlihat berdiri kokoh.

“Nggak ada. Butuh waktu 40 menit untuk mencapai tempat pembuatan itu. Yang tadi cuma kapal yang kebetulan lewat” ucapnya sambil berbalik menatapku.

“Hlo, aku kan mau..” belum selesai ucapanku, tiba Raisha membalik badanku dengan paksa.

“Lihat sana,”Raisha menunjuk tempat awal kami berjalan, “kita tadi jalan sejauh itu”.

Aku tercengang. Setelah dua tahun aku memakai bantuan kursi roda, baru kali ini aku bisa berjalan sejauh itu dengan kruk. Rasanya seperti menggunakan kakiku sendiri untuk berjalan. Aku tak percaya dengan pandanganku sendiri.

“Lihat Phy, kamu bisa berjalan sejauh itu. Jika kamu percaya pada tujuan yang indah, kamu pasti mampu mengalahkan segala ketakutanmu”  Raisha berkata sambil memegang bahuku erat “sama seperti Pinisi yang dibangun dengan dua tiang dan tujuh helai layar. Nenek moyang kita dulu membuatnya dengan keyakinan bahwa bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera besar di dunia”

Aku bingung dengan penjelasannya. Raisha seperti tahu bahwa aku tak paham ucapannya.

“Iya, kepercayaan diri yang dimiliki nenek moyang itu yang harus kamu miliki. Meskipun kamu bukan Sekunar*, tapi dengan hanya satu tiang, kamu punya satu tujuan besar, dan pasti mampu mendapatkannya. “ lalu Raisha menunjuk kakiku “satu tiang itu kakimu Phy..”

Aku terdiam. Sekali lagi Raisha menyadarkanku, bahwa aku tak boleh tenggelam dengan keterbatasanku. Air mataku menetes saat tahu bahwa aku memiliki sahabat terbaik yang tak hanya bersedia menemani, tapi bersedia menarikku dari keterpurukkan. Aku berjanji untuk tak lagi membatasi langkahku dengan roda-roda itu. Toh aku punya kaki, meskipun tak lengkap tapi bisa membawaku pergi lebih jauh meraih mimpi.

“Terima kasih Tuhan, telah mengirimkan Raisha di sini”

_end_

*se·ku·nar n kapal layar bertiang dua.

**kali ini foto untuk PictFiction dipinjami oleh Mona.

14 thoughts on “Tanjung Bira Pelepas Roda

  1. cerita yang bagus.😀
    btw, tanjung bira tuh daerah mana ya? kayanya pernah denger. bulukumba?bantaeng?…ah, udah lupa daerah selatan sana…

  2. Horeeeeeeeeeeee…. jadi juga… Bagus.. bagus..

    hehehe… nama tokohnya Phynisi-kah?

    *masih teteup berpikir, “Kenapa Nickelia..” hehe..

    @Fisto: Bulukumba kalo gak salah.. Bulukumba berlayar..😀

  3. makasih jadi sedikit termotivasi setelh mmebaca ini,,,
    wah itu sungguh indah yaw gambarnya kerennn bangett

    blogwalking berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    maksih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s