Segelas Es Teh Manis

Kalau kau tahu rasanya tak akan berubah meski kau buang-buang, ya jangan dibuang. Minum saja, tapi perlahan. Kamu akan tahu kalau memang rasa yang kau rasakan itu manis.

Segelas Es teh

Namanya Rumah Rosella. Tapi jangankan tertanam bunga merah yang punya banyak khasiat itu, bahkan sejauh mataku memandang tak ada satupun bunga yang ada di tempat ini. Sejak memasuki area ini, hanya ada hamparan kayu yang terlihat di mana-mana. Bahkan halamannya pun ditutupi papan-papan kayu. Menurutku, seharusnya pemilik restoran ini segera mengganti namanya menjadi Rumah Kayu, supaya lebih mudah untuk diingat.

Di depan pintu masuk, ada Aziz, seorang pekerja paruh waktu yang sudah semakin akrab denganku. Empat kali seminggu datang ke tempat ini bukan frekuensi yang sedikit hingga Aziz bisa mengenalku lebih akrab.

“Hai Mbak Pilla,” senyumnya hangat menyapaku.

“Aziz!” sahutku berpura-pura marah,” Principilla namaku, jangan kau potong-potong sembarangan”

Dia pun tertawa menanggapi perkataanku “Deuuuu.. yang lagi PMS” ucapnya menggoda.

Aku hanya balik tersenyum lalu melewatinya begitu saja. Lantai kayu di Rumah Rosella ini tampak semakin dingin di mataku. Aku lalu berjalan jinjit, seperti ingin menghilangkan kontak dengan kayu-kayu yang seakan mengerubungiku.

“Ngapain kamu jinjit begitu?” Raisha memandangku sambil mengernyitkan kening.

“Cari variasi, bosen” jawabku sekenanya sambil mengambil tempat di sebelah Raisha, menduduki bantal warna-warni yang selalu saja jadi pasangan serasi kursi-kursi kayu penghias ruangan ini. Tirai-tirai tipis berwarna lebih gelap seperti memeluk hangat warna-warni ceria yang tampak berlompatan dari lukisan yang tertempel di dinding ruangan.

“Cerita!” Raisha berkata tiba-tiba.

Kupandangi Raisha, sambil mengangkat sebelah alis berharap dia mengerti aku ingin berkata “apa sih?”. Tapi bukan Raisha namanya kalau menggubris apa yang kulakukan. Dia tak gentar dengan tatapan aneh yang kubuat.

“Give me detail!”

“No story, no detail!” jawabku tak kalah sengit, “aku haus” kataku mengalihkan. Aku beranjak dari tempat duduk, mencari Aziz untuk membuatkanku minuman. Setelah kuberi tahu minuman seperti apa yang kuinginkan, kubiarkan dia berjalan meninggalkanku ke dapur. Tak seperti biasa, kali ini kutunggui saja sampai minuman selesai dibuat, di depan meja kasir. Menghindari Raisha barang sejenak.

Es teh manis sesuai keinginanku sudah selesai dibuat lelaki berseragam coklat itu ”Nih, buat Mbak yang lagi PMS” sekali lagi godaan Aziz kudiamkan. Aku melengos meninggalkan dia, sembari membawa segelas es teh yang baru saja dia buatkan untukku.

“Terlalu manis Sha..” ucapku memulai percakapan.

“Apanya?”

“Teh ini..” lalu aku mengaduk-aduk isi gelas dengan sedotan berwarna transparan  yang dihiasi satu garis berwarna hijau. Tak berapa lama aku sodorkan gelasku, memaksa Raisha mencoba merasakan.

 “Ini sih gula di airin.. Tambah air Phy” ucap Raisha di sela-sela seruputan air putih. Dia juga merasakan yang sama denganku.

Aku beranjak tanpa berkata apa-apa. Lagi-lagi berjalan menuju meja kasir. Mengatakan sesuatu pada Aziz dan menunggunya kembali dari dapur. Tak berapa lama Aziz kembali membawa pesananku. Tiga gelas kosong dan sebotol air mineral 600 ml. Aku menolak Aziz membawakan pesananku “Biar kubawa sendiri” Aziz menyodorkan nampan. Kuisyaratkan untuk meletakkan nampan di atas meja kasir, lalu kuambil keempat benda itu dengan kedua tangan. Sedikit kesulitan, tapi aku bisa.

“Heh, apaan itu?”

Lagi-lagi tak kugubris pertanyaan Raisha.

Kutuangkan separuh isi gelas air teh ke gelas kosong yang kubawa. Kutambahkan air pada sisa air teh yang ada. Kuaduk pelan, lalu kuseruput sedikit. Kuberikan lagi pada Raisha untuk dicobanya. Raisha menurut.

“Masih manis Phy..”

Kuambil lagi gelas berisi teh itu. Kuulang lagi adegan menuang separuh isi gelas ke gelas kosong, menambahkan lagi air mineral pada air teh sisanya. Kuaduk, kuseruput dan membiarkan Raisha mencoba lagi.

“Ihh.. ini masih manis.. gila si Aziz ngasih gulanya” Raisha berkata sambil mengernyitkan dahinya.

Untuk ketiga kalinya kuulang perlakuanku pada air teh yang di gelas. Membagi dua, menuang separuh pada gelas kosong, menambah air, mengaduk, menyeruput dan memberi Raisha untuk mencobanya.

“Maaaasiiihhh maaaniiisss… nyerraaahhh…” ucap Raisha mendramatisasi sambil memberi efek gerakan lambat saat menyorongkan gelasnya padaku.

Aku tersenyum lalu menghela nafas, “Pernah merasakan dicintai sepenuh hati?”

“Heh?” lagi-lagi Raisha bingung dengan ucapanku yang tiba-tiba.

 “Aku pernah,” kuberi sedikit jeda pada kalimatku, “mau tahu rasanya?” kubiarkan kalimatku menggantung, Raisha tahu kalau aku memang tak butuh jawaban dari dia “Rasanya seperti es teh ini” kuteruskan kalimatku sambil mengguncangkan gelas penuh berisi air teh.

“Rasanya manis, sangat manis… Bahkan saat kubuang-buang airnya dan kutambahkan air yang hambar, rasanya tetap manis” kuseruput lagi air teh yang ada di gelas “Lihat ini..” kataku sambil menunjuk satu gelas yang berisi separuh air teh “juga ini..” kutunjuk gelas lainnya “… dan ini” kutunjuk lagi gelas terakhir. “Semua ini kubuang-buang begitu saja..”,

Lalu kuambil salah satu gelas dan kuminum habis isinya, “ tapi ini.. rasanya manis”

Raisha mengamatiku dalam diam.

Kuambil gelas lain yang berisi separuh air teh, kutenggak habis isinya. “ini juga manis..”, saat mengatakan itu mataku terasa panas, ada sesuatu yang menggenang di pelupuk mataku.

“Phy..” Raisha berkata lirih.. “kamu..”

Belum selesai perkataan Raisha, aku menenggak lagi gelas ketiga yang berisi separuh air teh. “Ini pun masih manis..”

Saat mengatakan itu, tangisku pecah. Aku sesenggukan. Raisha merangkulku dalam diam, membiarkan aku mengeluarkan apa yang tertahan.

“Aku suka rasa manis. Tapi aku menyia-nyiakannya. Meluberkannya pada gelas yang lain, tapi rasakan Sha, sampai sisa gelas terakhir pun, rasanya masih manis…” kataku di sela-sela isakkan.

“Lalu.. kenapa kamu menangis..”

Kalimat Raisha tak mampu menenangkanku. Aku terus saja menangis. Terisak-isak. Kadang bersuara kadang diam. Sampai akhirnya aku lelah.

“You should give time to yourself” saat tangisku mulai reda, “give time, time..”

“I know..” tangisku masih bersisa, tapi sudah bisa kukuasai diriku untuk tak terisak seperti tadi.

“Ini sudah ke seribu satu kali kuperingatkan Phy. Kenapa kamu selalu berusaha minum bergelas-gelas seperti itu? Kamu nggak mual? Nggak ngerasa eneg? Nggak capek minum tak berhenti seperti itu?”

“Sha… aku capek..” kataku lemah.

“Mengapa?”

“Karena aku dihujani rasa manis yang bertubi-tubi.. Nikmat Sha.. Tapi, aku bingung bagaimana membalasnya. Seperti merasa berhutang pada diriku sendiri, pada setiap rasa manis yang kutenggak, harus kualiri dengan air mineral ini..”

“Ini yang ke seribu dua kali ya.. give time to yourself” mimik muka Raisha tampak lucu saat mengatakan itu. Seperti Ibu Kinarsih, guru TK-ku, yang memarahi muridnya yang nakal. Tapi bagaimanapun, Bu Kinarsih tak  pernah sanggup menyembunyikan tawa gemas meskipun mukanya tampak marah. Mau tak mau, sudut-sudut bibirku terangkat ke atas melihatnya. “Minum perlahan… rasakan.. Kalau kau tahu rasanya tak akan berubah meski kau buang-buang, ya jangan dibuang. Minum saja, tapi perlahan. Kamu akan tahu kalau memang rasa yang kau rasakan itu manis. Tidak membuat mual atau bahkan terasa capek seperti katamu itu. Mengerti?”

Aku mengangguk.

“Tidak usah merasa berhutang pada diri sendiri karena rasa manis yang sudah kamu tenggak. Buatlah diri kamu  merasa berhak mendapatkan itu. Berolahraga, rajin makan sayuran, lalu..”

“Sha.. please.. ini bukan kuliah gizi” kataku memotong ucapannya. Tak pelak aku juga tergelak mendengar apa yang dia katakan.

“Ya sudah.. gitu dong jangan nangis,” katanya sambil merangkulkan tangannya di pundakku, “intinya.. buatlah dirimu merasa berhak, dengan menunjukkan kalau kamu memang sehat. Dan sekali lagi ya.. give time to yourself..”

“Okay,, yang ke seribu tiga” kataku mendahului hitungannya. Lalu kami tertawa bersama. “Tapi, Sha.. boleh ya langsung ngabisin segelas ini, haus Sha.. abis nangis..” kukerjap-kerjapkan mataku tanda memohon.

Raisha pura-pura menghela nafas, sambil menggeleng.. “Ya terserah kamulah..” Lalu dia tersenyum.

Dan aku menenggak habis air teh di gelas terakhir.

***

*Picture taken by Kemas Aditya

** Maafkan random post kali ini :d

 

6 thoughts on “Segelas Es Teh Manis

  1. aku gak nyuruh kamu minum teh, nda.. huakhahahaha…

    1. Mana gambar tehnya?
    2. Kenapa trus si rosellanya gak dibahas – titipan restu
    3. Gak ngerti – masih titipan restu
    4. Kamu gak nyambung, foto ama cerita.. bukan pictfiction atuh.. – ini titipan aku sendiri
    5. Masih ya Principilla.. ckckck..
    6. Kayaknya kenal si Raisha siapa..
    7. Jadi, have u? Give time, time?

    Cerita yang ini okelah, tapi aku tetep lebih suka yg Mata Langit… hoho..

  2. teh yang terlalu manis –> giuuuungggg

    “Kenapa kalo giung ampe nangis? kasih aja garem… biar jadi oralit..” ~ restu nitip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s