Sandal Jepit

Saat jatuh cinta, yang dibayangin dia terus. Kita ngelihat apa-apa berasa ngelihat mukanya dia.

Raisha datang menghampiri, duduk di kursi yang ada di sampingku, lalu langsung menarik selembar kertas putih di atas meja, yang sedari tadi kucoret-coret. Aku menggeser tanganku yang menimpa kertas itu agar Raisha bisa mengambilnya tanpa harus terobek.

I don’t mind to freeze, if it’s the only way to feel the warm..” Raisha membaca keras-keras tulisan yang dia lihat, “eh, ini apaan si Phy? Tulisannya nggak nyambung begini?” Raisha mengalihkan pandangannya dari kertas ke diriku.

Aku hanya menoleh sekilas “Itu.. si Zen yang minta aku bikinin story buat iklannya dia,” kataku sambil  meneruskan mencoret-coret kertas yang lain.

Story? Buat apa? Lagian ini maksudnya apaan sih?” Raisha masih tak mengerti.

“Sekarang Zen produksi sandal juga, dia mau bikin iklan, tapi yang ada story-nya..”

“Iklan? Loh, trus maksud tulisan ini apa?” Raisha menyodorkan kertas yang dipegangnya ke hadapanku.

“Duuh, si eneng.. dengerin dulu dong penjelasannya, jangan langsung apah-apah begitu,” kataku sambil mengambil kertas itu, dan menyodorkan kertas yang lain padanya, ”nih, lihat gambarnya..”

Raisha memperhatikan gambar di atas kertas tadi. Dua pasang sandal jepit masing-masing  berwarna merah dan biru terpampang di sana. Hamparan pasir sedikit menutupi sandal-sandal yang menginjak tumpukkan pasir lainnya.

“Umm.. okay.. aku nggak ngerti..” terlihat kebingungan dari raut wajah Raisha. Matanya masih tak beranjak dari gambar yang kusodorkan, “coba jelasin..” suaranya lebih mirip perintah ketimbang pertanyaan.

“Jadi..” ucapku memulai penjelasan,” Ini kan pasir tuh..” kataku sambil menunjuk ke arah gambar. “ini menandai kalau lokasinya ada di pantai. Kalau di pantai kan seringnya dingin karena angin yang bertiup terus-terusan.. nah, kalau kaki kamu dibenamkan di dalam pasir, kakimu jadi hangat. Jadi, untuk mencapai kehangatan itu, ya nggak apa-apa deh rela kedinginan dulu..” kataku menutup penjelasan.

Kening Raisha berkerut, “Phy.. ini iklan sandal kan?”

“Iya, Sha.. kenapa?” tanyaku tak mengerti arah ucapan Raisha.

“Trus, apa hubungannya dengan sandal? Tadi penjelasanmu cuma tentang kaki dan pasir? Sandalnya mana?” Raisha balik bertanya.

“Eh..” tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu yang salah, “iya.. ya..” aku menggumam.

“Aneh..” Raisha hanya geleng-geleng melihatku. Tak berapa lama Raisha mengambil kertas lainnya yang sudah kucoret-coret, “banyak banget coretannya Phy?”

“Iya.. namanya juga nyari inspirasi,”kataku sambil mengerling ke arahnya.

Raisha seperti tak menggubris ucapanku.

“Wow!” tiba-tiba Raisha berteriak.

“Apa Sha? Ada yang keren yah?” kataku antusias.

I will face the fear, if it’s the only way to touch your skin.” Raisha tersenyum, lalu tak berapa lama tawanya pecah, “Huahhahhaaa…” Raisha tak bisa menahan tawanya.

“Hah? Kenapa?” aku semakin tak mengerti tanggapan Raisha.

“Bentar-bentar..” tiba-tiba Raisha mengambil koran terbitan lokal yang ada di mejaku. Dia membalik-balik halaman yang ada di sana. “tuh kan.. bener perkiraanku”

“Apa?” suaraku sedikit meninggi karena kaget.

“Nih..” Raisha menunjuk ke satu gambar yang ada di koran, jari-jarinya menelusuri gambar demi gambar ”kamu abis nonton ini kan..” jari telunjuk Raisha mengarah pada poster film yang sedang diputar di bioskop-bioskop di ibukota, poster yang paling menunjukkan gambar yang terlihat menyeramkan “abis nonton film vampir.. hahaha..” Raisha tertawa semakin terbahak.

“Sha!” kataku pura-pura membentak, “apaan sih?”

“Kamu kan paling takut sama film serem-serem gini. Apalagi lagi sih ketakutan kamu selain film horor? Pasti keinspirasi gara-gara abis nonton”

“Raishaaaaa…”aku berteriak, “Enggak aku nggak habis nonton.. dan bukan gitu juga maksudnya…”

“eh bentar-bentar, maksudnya apa nih touching skin? Ada yang aneh..” Raisha seperti tak mendengar ucapanku.

“Gini ya Sha, maksud fear di sini ituh.. ngegambarin kalo kita berani berjalan di tempat-tempat yang nggak nyaman buat kaki. Tempat licin lah, berbatu lah… Pokoknya tempat-tempat yang nggak enak dilewatin apalagi sambil pake sandal jepit,” kucoba untuk menjelaskan semampunya sebelum Raisha memotong lagi, “nah, skin di sini maksudnya skin si sandal. Jadi, ya selama pake sandal ini, kita bisa melewati segala halangan, rintangan dan ketakutan itu.” Kataku untuk menutup penjelasan.

Sejenak Raisha menyimak, namun sesaat kemudian dia kembali tertawa,”Hahaha.. kalo gitu, kamu bikin kalimatnya salah dong”

“Kenapa?” kataku masih tak mengerti.

“Masa’ kalimat yang menggabungkannya itu if it’s the only way ? Ya kesannya si sandal cuma bisa dipake kalo di tempat-tempat menyeramkan yang kamu jelasin itu tadi aja”

“Eh.. iya juga ya? Jadi, harus…” belum tuntas kalimat yang ingin kubicarakan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku langsung teralihkan untuk mencari ponselku, “hape..hape.. mana hape” ujarku sedikit panik.

“Cuma sms kok Phy, nggak usah panik gitu..”

Entah dari mana, ponsel yang kucari sudah ada di tangan Raisha. Dia lalu menyodorkan padaku.

Aku tak bisa menahan rasa yang aneh di hatiku. Seketika mukaku berubah sangat antusias. Aku sangat berharap pengirim SMS itu adalah orang yang sudah mengenyangkan aku dengan banyak kupu-kupu di perutku akhir-akhir ini. Aku paksakan untuk menahan antusiasme agar Raisha tak melihat perubahan raut mukaku.

Ketika ponsel sudah di tanganku, aku melihat nama yang tertera ”Zen” bisikku. Tiba-tiba rasa bersemangat untuk membuka SMS tadi, sedikit meluntur. Aku membaca cepat SMS dari Zen, yang mengabarkan kalau dia baru saja mengirim gambar lain agar dibuatkan cerita untuk iklannya.

“Zen kok Sha..” ucapku sambil mengalihkan pandangan dari ponsel ke muka Raisha. Aku menyadari Raisha sedang mengamatiku. “kenapa?” tanyaku

“Enggak.. tadi aku lihat yang ini..” kata Raisha sambil menunjukkun tulisan di kertas yang lain lagi, “ini bagus..”katanya, “sedikit nyambung..” Raisha tersenyum sambil  menyerahkan kertas itu. Senyumannya menyiratkan sesuatu. Dia seperti ingin menggodaku.

Tak kugubris senyuman anehnya. Pelan-pelan kubaca satu-satunya baris kalimat yang tidak tercoret di atas kertas itu, “Walking a thousand miles under the rain and thunder, would be okay as long as I walk with you… yang ini bagus ya Sha?” kataku meminta persetujuan.

“Setidaknya sedikit lebih nyambung. Aku mengerti maksud di dalamnya. Trus ada walking-walking-nya.. jadi nyambung lah sama sendal jepit yang biasa dipake jalan.” Raisha menjawab pertanyaanku tanpa menoleh. Dia tampak sibuk membaca satu-satu tulisan yang sudah kucoret-coret.

“Tapi Sha, ini sih nggak nyambung.. nggak ada unsur pasir kayak di gambar” kataku sedikit tak setuju.

“Memang tulisan-tulisan kamu ini ada yang nyambung sama fotonya?” Raisha menjawab sambil mengulum senyum.

“Hah? Maksud kamu..?” mataku sedikit mebelalak. Pendapat Raisha  tentang sekian banyak tulisan yang kubuat tidak bisa mendeskripsikan pesan produk, sedikit membuatku sedih “Bagaimana mau buat iklan kalau begini” ucapku dalam hati.

“Kamu lagi jatuh cinta ya Phy?” tiba-tiba Raisha menatapku lurus-lurus. Mengunci mataku dengan pandangannya. Senyum terkembang di bibirnya. Raut mukanya secara keseluruhan seakan ingin berkata “Hey, aku tahu sesuatu loh. Jangan bohongin aku lagi deh”.

“Apa-apaan sih Sha?” aku mengalihkan pandanganku. Lalu bergerak memberesi kertas-kertas yang berserakan di meja.

“Principilla.. Hahha.. I know you.. U just got caught. Just say yes!” Raisha memaksa

“No, I’m not…”

“Yes..”

“No..”

“Inih ya.. lihat semua tulisan kamu… yang kehangatan lah… melewati ketakutan lah.. pokoknya menunjukkan kalau kamu sudah siap ajah..” kata Raisha

“Loh, aku memang mau nunjukkin kalo sendal memang cocok dan nyaman dipakai kapan saja, ke mana saja..” kataku protes.

“Iya.. message nya sih gitu..” jawab Raisha,” tapi, iklan sandal jepit kok ya begitu…” Raisha balik protes.

“Kan supaya dapet feel-nya, harus soulfull dong” kataku meluruskan “emang iklan sandal harusnya gimana.

“Ya harusnya tuh.. kayak yang di tipi-tipi.. nyaman di hati pas di kaki”  Raisha menyebutkan satu tagline iklan sandal yang sering berseliwiren di layar kaca, “gitu loh, ada sebutin kaki-kakinya gitu… bukan malah kayak gini.. feel sandal jepit nya nggak dapet ahh..” Raisha mengerling ke arahku sebelum melanjutkan kalimatnya, “feel yang aku rasain itu.. the sky..” lalu dia tertawa sebentar.

“Raisha!”aku refleks membentaknya. Mukaku seketika memerah.

“Hahha.. untuk nggak kamu buat story-nya begini.. Langit itu tak terbatas, sehingga kemanapun aku pergi, dia selalu ada. Meski tak kugubris, dia selalu memandangiku… Jika kupedulikan, dia menjauhiku.. Ohh,, langit…”Raisha  menyebutkan itu sambil tertawa-tawa dan berpose seperti seorang Rendra yang sedang membacakan sajak.

“Shaaa…” aku berteriak sambil mengejar Raisha yang sudah lebih dulu berlari ke luar ruangan. Kumpulan kertas sudah kugulung agar bisa menjadi alat untuk memukulnya.

“Udah deh Phy.. ngaku ajah… Saat jatuh cinta, yang dibayangin dia terus. Kita ngelihat apa-apa berasa ngelihat mukanya dia. Sandal jepit aja dianggap Langit.. Ohh plis deh..” Raisha tak henti mengejekku sambil terus berlari.

Lalu kami berkejaran di sekeliling rumah.

***

Picture taken by Mona Luthfina

6 thoughts on “Sandal Jepit

  1. cerita ringan yg seru buat dibaca… demikianlah orang yang jatuh cinta,kemanapun melihat ada wajah sang kekasih. alangkah indahnya jika jatuh cinta itu kepada Zat Yang Maha indah,kemanapun melihat ada wajahNYA,melihat indah ciptaanNYA teringat kepadaNYA,oh indahnya Sang Maha indah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s