The Intro

Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my friend.

Ini kali ke empat saya datang dalam minggu ini dan sambutannya masih sama. Ratusan manusia yang mengantri di koridor berkapasitas 500 orang semakin terasa sempit. Awalnya aku ingin mengabadikan banyak moment perjalananku menggunakan Bus yang mulai beroperasi 15 Januari 2004 ini. Tapi kuurungkan niatku melihat limpahan manusia yang entah dari mana datangnya berkumpul di tempat ini.

Shelter Harmoni Transjakarta, dan aku tak punya pilihan lain selain mengantri. Keluar dari tempat ini dan mencari taksi bukanlah solusi. Hanya akan menambah kemacetan di ruas-ruas jalan ibukota. Aku juga tak diburu waktu.

Mempunyai tubuh dengan ukuran tinggi yang lebih dari rata-rata pria Indonesia lainnya terkadang terasa menguntungkan. Seperti sore ini, aku bisa leluasa memandangi satu persatu kesibukan masing-masing orang yang ada di sini.

Pekerjaan mereka sama, pengantri. Tapi cara mereka melakukannya berbeda-beda. Bapak yang berdiri di sudut sana sibuk membenahi ransel membelendung yang tersampir di pundak, terlihat ketidaknyamanan yang amat sangat di wajahnya. Mungkin ranselnya sudah kelebihan beban. Ibu-ibu berpakaian safari cokelat yang kutaksir umurnya empat puluh lima tahun, sedang terdiam termangu. Aku menebak bahwa dia sedang bingung memikirkan makanan apa yang harus disuguhkan ke suaminya malam nanti. Seorang laki-laki remaja berkaus biru, berkacamata berbingkai tebal, sibuk memainkan jari jemarinya di atas tuts blackberry bersarung biru yang senada dengan warna bajunya. Sesekali dia tersenyum. Entah siapa yang diajaknya bicara di seberang sana, tapi caranya menghabiskan waktu sepertinya pilihan yang tepat. Ada pasangan muda-mudi yang sibuk bercengkrama, serasa dunia milik berdua. Antrian yang semakin merapat tak membuat mereka gusar seperti kebanyakan orang di sini, bagi mereka ini menjadi momen yang menyenangkan.

Kusapukan pandanganku lagi ke satu demi satu wajah yang ada di antrian. Kurang lebih tampak sama. Kelelahan dan bosan seperti menempel di raut muka mereka. Kota berpenduduk delapan juta lima ratus dua puluh tiga ribu delapan ratus tiga puluh enam orang ini telah berhasil mengerutkan muka-muka mereka lebih cepat melalui kerapatan dan kemacetannya. Yah, siapa suruh datang Jakarta?

Pandanganku tiba-tiba berhenti pada seorang perempuan yang mengantri tak jauh dariku. Tak seperti yang lain yang mengguratkan keletihan di wajah, perempuan ini masih terlihat segar di sore yang panas. Mukanya sumringah. Garis bibirnya yang sedikit tertarik ke atas membuatnya menarik untuk diperhatikan. Ransel yang dibawa digantungkan di bagian depan tubuhnya. Mengantisipasi tangan usil yang mungkin berminat membuka-buka ransel merahnya. Wajahnya menunduk, pandangannya melekat ke baris-baris tulisan di buku yang dipegangnya sedari tadi. Buku yang sama yang kulihat tiga hari lalu saat pertama kali aku mengamati perempuan ini. Ya, ini kali ke empat! Bedanya, kali ini bagian tumpukkan halaman buku yang dipegang dengan tangan kiri lebih banyak dari tangan kanannya. Belum lama aku menatapnya, tiba-tiba antrian bergerak penanda bahwa ada satu bus yang siap mengangkut kami. Aku memfokuskan pandanganku ke depan.

“Perhatikan langkahnya.. perhatikan.. jangan dorong-dorong”, kata-kata itu meluncur dari Bapak yang menjaga pintu Bus Transjakarta. Perannya mungkin kurang lebih sama dengan kenek di Bus Kota lainnya. Aku mengikuti sarannya, bukan hanya untukku tapi untuk orang-orang yang ada di sini juga. Kalau aku terjatuh, maka akan menyulitkan orang lain yang harus membopong, lalu jalan bus akan terhambat, dan Ibu bersafari cokelat tadi bisa terlambat memasak untuk suaminya.

Namun, aliran manusia itu seperti tak sabar. Bahkan, tak perlulah aku bergerak melangkah, cukuplah menyeret-nyeret langkah dan sekarang aku sudah berada di dalam bus.

Setelah pintu tertutup rapat, aku memegang gantungan tangan yang berada di atas kepala. Lagi-lagi keuntungan berperawakan tinggi, aku tak terlalu sulit menjangkau pegangan tangan, dan tentunya tidak terasa pegal jika harus berlama-lama. Sekelilingku sudah penuh manusia, berdiri merapat. Bahkan kupikir, tubuh-tubuh kami bisa saling menumpu sehingga tak perlu berpegangan pada gantungan di atas.

Posisiku ada di tengah-tengah badan bus. Sejajar di kanan kiri adalah pintu. Posisi yang cukup menguntungkan, jika akan ke luar nantinya akan lebih mudah menerobos tumpukkan manusia di sini. Aku menolehkan pandangan ke kiri. Perempuan dengan buku di tangannya itu seperti bergeming, masih sama posisinya seperti sebelum memasuki bus. Ia bahkan tak berpegangan tangan. Tubuhnya sebagian tertumpu pada pintu dan dia terlihat sekali pandai menjaga keseimbangan hingga tak perlu menempelkan tubuhnya pada orang lain. Ranselnya seakan membantu menjaga jarak dengan sekitarnya.

Perempuan ini sepertinya memiliki dunianya sendiri.

Dia menabir sekelilingnya dengan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Dia bahkan tak terganggu dengan keluhan sekelilingnya.

Aku menerobos pandangan ke arah kaca pintu di belakang perempuan itu. Busway ini bergerak lambat. Tapi, antrian kendaraan di luar jalur busway bahkan tak bergerak. Langit memang mengucurkan air ke bumi. Tapi, seperti hal yang telah menjadi biasa, Jakarta pasti akan macet lebih parah ketika hujan turun. Mungkinkah dua koma satu juta unit kendaraan di Jakarta ini ditumpahkan semua ke jalanan oleh pemiliknya?

Jarak dari halte yang terletak di atas sungai ciliwung sampai dengan halte bendungan hilir memang tak terlalu jauh. Belum sempat mengamat-amati lebih lama perempuan dengan dunianya sendiri itu, halte tujuanku sudah di depan mata. Begitu pintu terbuka, aku bergegas berjalan keluar menerobos tumpukkan manusia yang masih berdiri pasrah di dalam bus. Bergantian saat aku ke luar, ada seorang pria berperawakan kecil, bertopi abu-abu yang sudah lusuh namun membawa tas yang seakan lebih besar dari ukuran badannya. Saat bersisian dengannya, jaket yang kupakai tersangkut dengan tali yang menjuntai dari salah satu bagian tasnya yang besar. Butuh beberapa detik untuk melepaskan kaitan. Setelah selesai, pria itu hanya menunduk santun pertanda minta maaf. Aku hanya tersenyum membalas, seakan mengatakan “Nggak apa kok, Pak”.

Aku melanjutkan perjalanan. Saat melewati portal ke luar halte, aku melihat sosok perempuan berransel merah tadi, sedang berjalan sembari memasukkan buku yang dibacanya ke ransel. Lalu ia memindahkan beban ransel dari depan tubuh ke punggungnya. Ia berjalan cepat, sedang aku masih dengan kecepatan yang rendah sehingga aku tak bisa menyusulnya.

Air masih bercucuran dari langit. Tak deras tapi bukan gerimis. Tapi warna langit yang abu-abu membuat suasana bernuansa jadi kelabu. Sampai di ujung halte, aku sudah tak melihat perempuan itu lagi, mungkin karena aku terlalu lambat atau karena sibuk memandangi Langit. Yah, apapun namanya, Langit selalu menarik bagiku.

Kukembangkan payung yang kubawa. Meski tak deras, bukan berarti aku mau diguyur oleh air begitu saja. Baru jalan beberapa langkah, aku melihat lagi perempuan itu. Berjalan hati-hati, mencari bagian trotoar yang tak tersiram hujan. Sesekali dia harus melalui tempat tak beratap, hingga ia harus menyampirkan tangan di kepala, sedikit mengurangi risiko pusing barangkali. Aku biarkan saja, masih mengamatinya dari tempat yang aman.

Ada beberapa detik saat perempuan itu terdiam. Kukira-kira alasannya. Kutebak, karena jalan di depannya tak ada lagi yang beratap. Rindangnya pepohon tak juga membantu, toh air masih mengucur di sela-sela dedaunan. Tak kusangka, dia terus saja melanjutkan perjalanan.

Kusigapkan jalanku mengejarnya. Payung yang kubawa cukup besar untuk berbagi. Langkah kakiku pasti bisa menyusulnya, toh dia berjalan dengan kecepatan rendah, berhati-hati tak terpeleset.

Tepat di belakangnya, kusorongkan payung ke arahnya sedikit, cukup untuk melindungi dia dari hujan. Ada beberapa waktu dia tak menyadari bahwa dirinya kini tak tersiram hujan. Dia juga tak menyadari aku yang ada di belakangnya. Sampai pada akhirnya aku tak bisa mengimbangi langkahnya yang pendek-pendek, dan kakiku sedikit menyentuh kakinya. Dia berhenti berjalan. Saat dia diam aku hampir menabrak dirinya, untungnya masih bisa kukuasai tubuhku.

Dia menoleh, mengamatiku, menilai dan mengernyit sebentar seakan berkata “Mau apa kamu?”

Sebelum dia membuka mulut, aku duluan berkata, “kamu kehujanan, payungku cukup lebar. Aku mau ke arah sana” tunjukku ke satu arah,”sekalian saja” kataku antara perduli dan tidak.

Dia mengamatiku cepat, dari atas ke bawah.

“Baiklah”, katanya dengan muka datar, “Berjalan di sampingku, jangan di belakang, atau di depan”.

Bagiku, kata-katanya lebih dari sekedar jawaban “boleh”, tapi lebih menyiratkan ajakan perteman.

Sejak itu, kami selalu berjalan bersisian.

***

Picture taken by me.

6 thoughts on “The Intro

  1. keren ih ceritanya,persahabatan dengan siapa ini ya kira2?

    maksud baik kita kadang ditanggapi dingin ya oleh orang lain? segitu individunya orang2 di kota metropolitan,namun kalau sudah kenal,bukan tak mungkin jadi sahabat…

    seperti kita ya nda? jadi teman meski baru sebatas di dunia maya😛

  2. ntar kapan2 boleh gak nebeng payungnya???
    siapa tau ktia bisa jalan bersisihan sampe nanti dan menjadi sahabat?😛

    Aku masih kecil loh. kalo naik busway gak bisa pegangan.
    terpaksa nyari cewek sebelah buat pegangan wakakakak

    *dipentung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s