Jeda

Penunjuk waktu di sudut kanan laptop-ku menunjukkan angka 2.54. Biasanya pada waktu seperti ini kamu sudah terbangun dan mengirimkan pesan singkat padaku. Ngabsen. Begitu selalu katamu. Adzan subuh mungkin sudah berkumandang di sana, sedangkan di sini malam masih pekat. Bulan baru bergeser sedikit dari puncak kepala.

“Lebih baik beda waktunya sekalian  dua belas jam Phy,” katamu sambil menghela nafas, “kalau dua jam begini serba salah..”

“Kenapa?” ujarku tak mengerti.

“Kalau dua belas jam, ya di sini malam, di sana siang, tapi kan misalnya sama-sama jam 6, waktunya kita masih sama-sama mungkin ngobrol, bisa di tolerir”, begitu katamu, “kalau dua jam, waktu kamu masih seger, akunya udah capek”

Sesaat setelah mengingat kata-katanya, seorang teman menyapaku di dunia maya.

“Hei Phy,,” sapaan ringan, tapi membawa kami pada percakapan panjang. Bercerita tentang hari-hari yang sudah dilalui masing-masing. Tentang kegelisahannya pada pencarian yang panjang. Tentang kebingunganku pada pilihan. Sampai akhirnya terputus oleh ucapannya, “Phy, udah dulu ya. Sore ini aku mau ketemu dosen. Nanti kapan-kapan kita sambung”

Lihatlah… dia berada di belahan dunia yang berseberangan denganku. Dua belas jam bedanya. Kamu benar, aku bisa berbagi cerita dengannya, di pagi seperti ini di kala tetanggaku masih lelap tidur.

Tapi, tahukah kamu apa artinya dua belas jam itu?

Bagiku dua belas jam sama dengan pukul delapan pagi di saat aku tergesa bersiap beraktivitas, dan kamu yang bersiap istirahat.

Dua belas jam itu berarti pencapaian perjalanan dengan waktu tempuh dua puluh jam.

Dua belas jam itu seharga seratus dua puluh lembaran sepuluh dollar.

Dan terkadang, dua belas jam itu berarti dua detik jeda saat kita berbicara melalui skype.

Silahkan.. silahkan kamu menghitung.. aku cukup saja membayangkan apa yang ada di depanku saat ini.

Jadi, tak masalah bagiku untuk jeda dua jam.

Seperti pagi-pagi kemarin aku bersedia bangun saat ayam belum berkokok. Menunggu empat jam untuk bertemu bukan hal yang sulit. Juga tak perlulah kita membuang ribuan dollar, cukuplah memutarkan lembaran rupiah di negeri sendiri. Dan, tanpa jeda tentunya, saat kita bercerita.

“Hei, jangan nangis lagi..” suaramu mengagetkanku kala itu.

Aku berbalik, tersenyum saja melihat kamu dengan tampilan yang tampak berbeda. “Ready to go?”

All my bags are packed..” kamu menjawab sambil menyenandungkan lagu Leaving on a Jetplane.

“Good..” jawabku pendek.

“Kamu siap ditinggal?” raut mukamu berubah serius.

Aku terbahak. Mengisi kebingungan dengan mengambil ice chocolate, dan meminum sedikit-sedikit. “Yuk ngobrolin yang lain..” kuputuskan untuk mengalihkan pertanyaannya, lalu  mengalirlah cerita yang panjang. Tentang rencana kepergian yang tergesa dan persiapan singkat membuat banyak kejadian menarik yang bisa kamu bagi.

Sampai pada satu waktu, cerita rasanya habis dibagi. Seluruh tawa rasanya sudah terurai. Ada jeda yang kupikir tak mencapai satu menit. Tapi, jeda itu terasa lama. Lagi-lagi jeda ini kami isi dengan meneyeruput sedikit-sedikit ice chocolate yang terhidang.

“Haha..” kamu tertawa, “rasanya pengen ada remote control deh, yang bisa berhentiin waktu sekarang.. “

Aku mengerti maksudmu. “Sekalian punya kantong ajaib doraemon ajah, punya baling-baling bambu.. pintu ke mana saja..” dan akhirnya pernyataanmu tersirat itu tenggelam di khayalan kita pada boneka robot negeri sakura.

Kali ini bukan waktunya kita membahas kesedihan perpisahan. Jika, besok tak ada, apakah kita akan menghabiskannya dengan tangis dan keluh kesah?

Bagiku tidak..

For if tomorrow never comes, you’ll surely regret the day, that you didn’t take that extra time for a smile, a hug or a kiss and you were too busy to grant someone, what turned out to be their one last wish.

Dan ya, aku lebih memilih hari itu diisi dengan cerita, tawa dan gembira.  Tidak merutuk karena jeda yang tercipta. Hingga jika besok tak ada, bukan penyesalan yang jadi memori. Tapi, cerita indah yang terekam.

***

3 thoughts on “Jeda

  1. nda…

    ..all my bags are packed..

    not

    ..all my bags are packaged..

    packing not packaging..

    hahahaha.. simonaannoyingygsebenernyasukadenganpictfictionkaliinicumaterganggudengankesalahanliriklagu…

    hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s