Kak, Do’a itu apa?

Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, saya selalu berdo’a

Ya Allah, apapun yang saya lakukan hari ini, semoga ada manfaatnya. Berkahilah hari ini. Amin.

Dengan do’a seperti itu, saya bisa mengalahkan kemalasan dan ketakutan untuk memulai hari. Saya punya keyakinan untuk melangkah, karena tahu Allah akan selalu menuntun saya.

Selain do’a universal seperti itu, tentunya saya punya do’a lainnya yang lebih spesifik. Ada do’a yang sederhana seperti “Ya Allah, semoga pagi ini ada tukang ojek yang mau nganterin saya”. Do’a ini muncul karena sebenarnya saya nggak punya tukang ojek langganan dan pangkalan ojek jauh jaraknya dari kos saya. Tapi, Alhamdulillah ada aja satpam di kompleks saya yang mau nganterin saya ke kantor. Ya itu tadi, namanya satpam tugasnya bukan nganterin saya, jadinya kalau yang jaga di pos lebih dari satu, salah satunya berbaik hati nganterin saya. Makanya, saya selalu berdo’a semoga ada yang mau nganterin.

Nggak cuma do’a itu, ada juga do’a terkait mimpi-mimpi saya seperti pengen ke Zurich, pengen punya rumah tahun ini, dan do’a terkait mimpi saya untuk ningkatin kualitas kehidupan anak Indonesia.

Pagi ini saya bangun, pergi dengan berbekal selembar kertas sebagai peta dan harapan bahwa hari ini akan bermanfaat. Itu saja.

Pagi ini saya tak lupa melantunkan do’a “universal” saya. Sangat penuh harap, karena saya benar-benar clueless.

Di posting-an sebelumnya saya sudah sebutkan bahwa saya mau memulai project pendidikan. Bahkan sesekali saya sudah nge-twit dengan tagar #ChildCanLead.

Sejak ketemu Mbak Ollie, semangat saya berkobar. Keesokannya bahkan saya tak bisa tidur karena merasa perlu mencari inspirasi sebanyak-banyaknya.

Saya dan Satrio sudah membuat beberapa konsep. Bagi kami, it’s so fabulous plan. Serasa punya semangat yang tinggi.

Lalu tibalah pada saat kami harus menentukan lokasi.

Saya dan Satrio kebingungan. Karena kami tidak tahu harus memulai dari mana. Modal kami “cuma” semangat, tapi kami tidak tahu “bagaimana” memulainya.

Seperti seseorang yang punya semangat untuk “hidup lebih sehat”, tapi tidak tahu bagaimana jadi sehat. Tahu kalau sehat itu harus makan sayur, tapi tidak tahu harus beli di mana sayuran itu. Clueless.

Belum lagi, ketika Satrio ceritakan konsep kami ke Ozka, salah satu pemrakarsa ShoeBox project, yang notabene adalah teman kantor Satrio. Saat mendengar konsep kami, Ozka bilang kalau project kami bagus, tapi kurang sederhana.

Kami menangkap bahwa masih sangat banyak pe-er yang harus kami lakukan untuk mengimplementasikan konsep kami. Padahal, di satu sisi kami ingin melakukan kegiatan ini sesegera mungkin.

Ahh.. tidak dipungkiri, semangat kami sempat goyah.

Hari selasa dan rabu kemarin kami berdua tidak melakukan “online meeting” seperti yang kami rencanakan akan dilakukan setiap malam. Alasannya “kita cari inspirasi dulu, tanya-tanya orang yang lebih paham”. Ini sama saja dengan bilang.. “Oh God, kami tidak tahu apa yang harus dilakukan”.

Tapi, hasil pertemuan dengan Mbak Ollie membuat saya tetap bertahan. Menantang diri untuk terus melakukan apa yang saya impikan. Mimpi saya sederhana..

“Membuat semua anak Indonesia punya cita-cita, dan punya antusiasme untuk berusaha mewujudkannya”.

Itu saja.

Sederhana, tapi lagi-lagi nggak mudah untuk orang yang clueless seperti saya.

Seperti mimpi saya, saya juga menjaga antusiasme itu. Tetap browsing sana-sini soal social project dan nanya ke teman yang kebetulan ada di divisi CSR di kantor.

Hasil browsing buat saya sempet lemes. Saya menemukan bahwa sebuah lembaga juga membuat konsep yang sama. Ditunjukkan di web-nya kalau butuh 6 bulan untuk melakukan persiapan. Oh God, 6 bulan persiapan? Sanggup nggak saya nunggu selama itu? Sementara badan ini rasanya sudah “gatel” pengen melakukan sesuatu.

Nanya sama temen juga tidak membuat saya punya “clue”. Teman saya menyarankan saya untuk mencari lokasi yang tepat, saya harus cari data di BPS. Petakan. Pilih mana daerah yang ada di bawah garis kemiskinan.

Saya ikuti sarannya. Saya masuk web BPS untuk cari data kemiskinan. Baca sana sini, sampai akhirnya berakhir dengan… “What?? Ini angka apa? Saya nggak ngerti mau diapain!”

Sampai dengan hari rabu sore kemarin, saya sempat berkata hampir menangis “Oh Tuhan, saya ini mau bantu.. tapi kenapa sulit sekali?“ Saya tidak tahu apa yang membuat saya berkata itu. Entah mimpi saya yang terlalu saya inginkan atau perasaan baru memulai tapi sudah ada halangan. Halangan yang saya rasakan saat itu adalah sulitnya menentukan lokasi.

Tapi, seperti saya Randy Pausch bilang..

Brick walls are there for a reason. The brick walls are not there to keep us out. The brick walls are there to show how badly we want something. Because the brick walls are there to stop the people who don’t want something badly enough. They are there to keep out the other people

Akhirnya di sore hari, saya ceritakan ke salah satu teman soal keinginan saya untuk membantu dan  saya sedang bingung cari lokasi yang layak dibantu.

Dia lalu cerita, kalau setiap pergi dan pulang kantor dia sering lihat anak-anak kecil datang ke satu tempat berukuran 3x1m, lalu belajar di sana. Tapi, dua hari ini dia lihat kalau tempat ini dipakai jadi gudang dan anak-anak pindah belajarnya ke satu rumah yang sangat sederhana.

Saat itu, saya langsung minta dia petakan lokasinya di selembar kertas. Saya benar-benar masih tidak tahu apa yang harus saya lakukan di lokasi itu, tapi setidaknya saya tahu ke mana saya harus melangkah keesokan harinya.

Ahhh.. saya makin percaya..

Tell the world what your dream is, and the whole world will help you.

Saya sms Satrio, saya bilang saya punya calon lokasi tapi saya tidak tahu apa bentuknya. Besok kita investigasi lebih lanjut.

Pagi ini, saya ketemuan saya Satrio di depan kantor saya karena lokasi yang dituju tidak jauh dari kantor. Di perjalanan kami masih tidak tahu apa dan bagaimana kami harus memulai. Melihat tempatnya saja kami baru pertama kali. Tapi, melihat lingkungan di situ kami yakin.. “Di sini layak dibantu”.

Kami berjalan sampai menemukan lokasi yang ditunjukkan teman saya. Setelah sampai di sana lalu kami kebingungan

“Kita mau ngapain nih?” Kata Satrio.

“Nggak tahu Sat, kita jalan terus aja..”jawab saya yang sama bingungnya.

“Ya udah, kita jalan dulu aja. Cari warung.. ngobrol-ngbrol sama orang di sana”

Saya hanya mengikuti saja.

Di depan, ada beberapa deretan warung. Akhirnya kami memilih satu. Random.

Kami pesan popmie, karena memang belum sarapan.

Lalu, di sana kami bertemu Rizky (6 thn), anak yang punya warung. Dia lagi berkejaran dengan anak bebek. Saya ikutan tertawa lihat dia dan anak bebek yang bergantian saling berkejaran.

Kami mengobrol dengan Rizky, dengan mamanya, dengan tetangganya dan siapa saja yang ada di sana.

Hanya mengobrol santai dengan pertanyaan sederhana seperti berapa umurnya, beli bebek di mana, jualan dari kapan dan sebagainya. Kami benar-benar tidak menyinggung soal “project” yang ingin kami implementasikan. Bukan karena tidak mau, tapi tidak tahu bagaimana harus memulainya.

Sampai satu saat, Rizky mengeluarkan buku. Ibu Rizky bilang Rizky belum sekolah dan belum bisa baca. Lalu, Satrio yang ada di dekat Rizky langsung mengajarinya membaca.

Kemudian, ada tetangganya, Amanda (6thn) yang tiba-tiba membawa sobekan sampul buku yang di belakangnya ada tulisan Alphabet, A-Z.

Saya lalu ajak Amanda untuk belajar. Awalnya, dia tidak mau dekati saya karena malu.

Lalu Rizky dekati saya. Berbekal sobekan sampul kertas punya Amanda, saya ajari dia alphabet. Lalu, saya keluarkan selembar kertas dan pulpen yang biasa saya bawa kemana-mana. Saya ajari dia menulis namanya.

Entah bagaimana, tiba-tiba ada anak-anak kecil berdatangan ke sekitar saya. Berumur dari 5 sampai dengan 13 tahun. Mereka mengantri untuk diajari. Ada yang belum bisa menulis dan ada yang belum bisa membaca. Berbeda-beda. Akhirnya saya ajari bergantian.

Mereka yang menunggu, sibuk bergaya karena Satrio mengeluarkan kamera untuk memotret mereka.

Saya senang bisa mengajari mereka dan mereka juga terlihat senang bisa belajar. Saya tidak memaksa mereka belajar, saya minta mereka memilih apa yang ingin mereka pelajari.

Di sela-sela kegiatan mengajar membaca, ada salah satu bacaan “Bandara”. Saya tanya, apakah pernah ke Bandara lihat pesawat. Dia bilang belum tapi ingin suatu saat ke sana.

Saya tanya yang lain, siapa mau jalan-jalan ke bandara. Anak-anak lain langsung antusias ingin ikut.

Tiba-tiba salah satu anak mengusulkan ke Monas.  Saya minta mereka memilih. Bandara atau Monas. Mereka sempat bingung. Bahkan di tengah kebingungan itu, salah satu orang tua mereka malah nyeletuk bilang ke Ancol dan membujuk mereka untuk ke Ancol saja. Menambah daftar pilihan mereka, yang membuat mereka makin bingung. Tapi, walaupun begitu akhirnya mereka sepakat pilih Monas.

Saya dan Satrio hanya tersenyum dan mengangguk senang. Karena salah satu rencana kami adalah mengajak anak-anak ke tempat yang bisa menambah pengetahuan mereka. Belajar langsung ke lapangan. Tidak hanya hafal teori. Pengalaman kami mengatakan, belajar langsung di lapangan lebih “nempel” di kepala.

Kami tidak memaksa mereka untuk ke mana. Kami biarkan mereka memilih. Sekaligus mengajarkan bahwa mereka punya hak memilih.

Tapi, kami tidak membiarkan mereka pergi tanpa syarat. Kami merasa mereka harus berjanji sesuatu demi keinginan mereka terpenuhi. Agar mereka tahu, ada usaha yang harus mereka lakukan sebelum mendapatkan yang mereka ingin. Permintaan sederhana saja…

“Sebelum pergi semuanya harus makan, supaya tidak mual di jalan. Mereka tidak boleh  bandel dan tidak boleh nangis selama di jalan. Mereka tidak boleh ngomong jorok”

Untuk permintaan terakhir, sebenernya muncul karena salah satu anak yang bilang kalau ada temannya yang suka ngomong yang kurang baik. Kami mau mengajarkan, bahwa itu tidak baik untuk dilakukan.

Setelah itu, anak-anak kami biarkan main. Saya tawarkan untuk main iPhone saya. Kebetulan Satrio juga punya. Kami minta mereka bergantian. Mereka menurut.

Dua jam setengah berlalu. Adzan Dzuhur sudah berkumandang. Kami bilang kami mau sholat. Kami minta mereka untuk mengantarkan ke musholla. Tak dinyana, anak-anak malah berlarian ke rumah masing-masing untuk mengambil mukena dan sajadah, serta celana panjang bagi yang laki-laki.

Mereka ikut kami ke Musholla. Kami tidak minta mereka sholat, tapi mereka semangat mengikuti kami. Lalu kami sholat berjamaah, diimami Satrio.

Setelah sholat, saya dan Satrio lanjut berdo’a. Mereka hanya diam melihat kami. Satrio bilang ke Rizky, “Ayo, berdo’a dulu…”, lalu, dia jawab “Kak, Do’a itu apa?”

Saya tertegun. Seingat saya, sejak kecil saya sudah dibiasakan berdo’a. Meminta pada Sang Khalik. Mereka, tidak tahu apa artinya do’a. Setahu saya, do’a juga adalah cara saya berkomunikasi pada Allah, untuk mengatakan cita-cita saya, kemauan saya. Bagaimana mereka bisa punya keyakinan untuk mencapai cita-cita kalau do’a dan pengharapan itu tidak ada?

Bagaimana orang tua mereka tidak mengajarkan hal mendasar seperti itu? Hal yang sedari kecil, saya dan lingkungan saya sudah anggap penting.

Saya semakin yakin, saya harus ada di dekat mereka untuk memberi contoh. Saya tahu saya bukan orang yang baik dijadikan contoh, tapi setidaknya saya bisa memberi tahu mereka kalau ada yang disebut pengharapan, ada yang disebut do’a. Do’a dan pengharapan ini juga yang membuat saya dan Satrio yang clueless ini tetap bersemangat pagi ini untuk tetap pergi meski tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Dengan Do’a kami berkomunikasi dengan Allah, dan Allah memudahkan jalan. Alhamdulillah.

Ahh.. perjalanan hari ini lagi-lagi mengejutkan saya. Ada hal yang saya anggap “sudah lumrah, seharusnya sudah diajarkan” dan pada kenyataannya tidak semua orang mengganggap seperti itu.

Lagi-lagi saya tidak akan berhenti berharap, semoga Allah memudahkan jalan saya untuk melakukan banyak hal positif dan bermanfaat. Saya tidak juga berhenti berharap, bahwa semua anak Indonesia akan punya cita-cita dan antusias untuk mewujudkannya.

Amin.

4 thoughts on “Kak, Do’a itu apa?

  1. Tak terasa, menetes airmata saya membacanya, Alhamdulillah, puji Tuhan…. Tetap semangat dan jaga stamina! Kalian ‘berdosa’ jika tidak melanjutkannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s