Sepetik Cerita dari Monas

Pagi minggu, 6 februari 2011,  hujan deras. Satrio SMS saya menanyakan apakah di daerah saya hujan. “Iya, hujan” jawab saya. Saya sedikit tidak tenang, tapi saya yakin, setiap niat baik yang ingin dilaksanakan, Allah akan memudahkan jalan.

Rencananya, hari itu memang kami akan mengunjungi daerah Sungai Bambu, sebagai bagian dari follow up kunjungan kami sebelumnya. Anak-anak di sana sudah kami janjikan untuk jalan ke Monas. Bermain sekaligus belajar.

Jam 9 adalah waktu yang kami janjikan untuk datang. Tapi, pagi itu kami datang lebih awal. Sebagian anak belum mandi. Begitu datang, kami langsung disambut gembira oleh anak-anak.

Hujan masih terus turun. Kami berteduh di rumah neneknya Amanda, salah satu anak di Sungai Bambu. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih, anak-anak sudah mulai bertanya “kapan kita pergi Kak?” kami hanya bisa menjawab “tunggu hujan reda ya..”.

Hampir jam 10 hujan belum juga reda. Lalu datang ayahnya Rizki menghampiri kami. “Kalau masih hujan, Rizki nggak usah ikut ya.. dia suka mual di jalan.” Ada nada khawatir di sana. Saat itu, saya takut merutuki hujan, karena saya tahu hujan itu adalah berkah. Tapi, hari itu saya benar-benar berharap hujan reda. Saya mau anak-anak bermain, belajar, menemui hal baru dan merasakan hal baru.

Tak berapa lama, Sri datang dan berbisik pada saya. “Kak, kayaknya aku nggak ikut”. Saya semakin kaget. Sri adalah salah satu anak yang paling semangat untuk ikut. “Kenapa..?”, dia tidak menjawab dan langsung berlalu.

“Ini ada acara apa?? Saya minta kejelasan!” tiba-tiba ada seorang pria dewasa berbicara sedikit keras sambil menghampiri kami. Saya taksir umurnya sekitar 35 tahun.

“Ohh.. enggak Pak, kami mau ajak anak-anak jalan. Kemarin kami mampir ke sini. Anak-anak trus belajar, ada yang minta ke Monas, kami ajakin..” sedikit kaget saya menjelaskan, tapi tetap berusaha tersenyum.

Pria itu adalah ayahnya Sri. Pagi itu memang rencananya kami akan pamit satu-satu pada orang tua masing-masing anak. Tapi, belum sempat karena memang hujan deras dan kami belum beranjak akan pergi. Ayahnya adalah salah satu yang khawatir bahwa anaknya akan dibawa orang tak dikenal. Wajar. Sangat wajar bahkan.

Ketidakpercayaan orang tua pada orang baru yang dirasa akan mempengaruhi anaknya adalah salah satu tantangan. Membuat mereka percaya kalau anak mereka aman “di tangan” kita adalah salah satu yang harus dihadapi jika ingin mendidik anak orang lain. Ini seharusnya sudah kami antisipasi, tapi tetap saja ketika menghadapinya saya merasa kaget.

Setelah dijelaskan, sekaligus dibantu neneknya Amanda, akhirnya sang Ayah mengerti. Dia bahkan jadi mengobrol akrab dengan Satrio. Ayahnya juga cerita bahwa lingkungan di sana tidak bisa dianggap baik. Narkoba, pergaulan bebas dan banyak lagi yang dikhawatirkan ayahnya. Ahhh… saya jadi semakin ingin melakukan sesuatu di sana. Membuat suatu wadah bagi mereka untuk melakukan hal positif. Setahu saya, jika seorang anak sudah sibuk melakukan banyak hal positif, dia tidak akan punya waktu untuk melakukan hal negatif.

Hujan mulai reda ketika jam mulai mendekati pukul 10. Anak-anak sudah berkali-kali menagih janji untuk pergi. Akhirnya kami iyakan.

Berangkatlah kami. Saya, satrio, dan sebelas anak dengan usia 5 tahun sampai 14 tahun.

Mengajak anak dengan berbagai usia bukanlah hal yang mudah. Berbeda perilaku, berbeda keinginan dan berbeda pulalah cara menanganinya. Bukan suatu kebetulan saat saya bilang ke Satrio, “Sat, gue jadi sering baca-baca blog parenting nih, Gimana nanganin anak.. hehhe..”, lalu Satrio menjawab sambil tertawa “Iya, gue juga..”. Kami tertawa karena kami saling tahu diri  kalau memang kami tidak punya pengalaman apapun soal mengurus anak. Membaca adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan. Mengajak anak jalan-jalan adalah hal mudah, tapi mendidik anak saat jalan-jalan adalah hal lainnya.

Sampailah kami di Monas. Ramai sekali. Dari kejauhan saya sudah lihat antrian panjang orang-orang yang ingin masuk ke dalam “perut” monas. Belum lagi bagi yang mau naik ke puncaknya.

Salah satu anak, memang sudah mual sejak di mobil. Dia muntah-muntah dan mengeluh lemas tidak sanggup jalan. Akhirnya saya memutuskan untuk anak-anak duduk di taman dulu, membiarkan mereka menyesuaikan diri setelah perjalanan tadi. Satrio menawarkan diri untuk membeli tiket. Saya menjaga anak-anak.

Selama menunggu Satrio, saya membuatkan masing-masing anak stiker berisi nama mereka beserta nomor telepon. Saya tempel di masing-masing bajunya. Saya bilang “Supaya kalau kepisah, kalian bisa nelpon kakak”. Setelah itu, saya mau mengajak anak-anak untuk belajar. Tapi, keinginan mereka berbeda. Ada yang ingin baca, berhitung dan menulis. Saya tidak mungkin akomodasi mereka semua. Akhirnya, saya biarkan mereka eksplor kamera DSLR saya.

Setiap anak saya bolehkan pakai kamera 3 jepret, lalu bergantian. Yang tidak pakai, jadi model teman lainnya. Ada beberapa anak yang saya rasa sudah bagus hasil fotonya. Untuk mereka, saya ajarkan untuk hal-hal sedikit teknis, seperti bagaimana mengatur fokus dan pemilihan POI. Saya percayakan mereka untuk mendokumentasikan kegiatan hari itu. Saya sempat kaget dengan beberapa foto hasil mereka. Bagus. Diasah sedikit lagi, hasil mereka pasti jauh lebih bagus dari saya. Berikan mereka excitement hal-hal baru, mereka akan eksplor dan cepat belajar. Hal sederhana seperti itu yang akan memudahkan menemukan passion mereka.

Setelah beberapa lama, akhirnya Satrio datang. Dari taman kami naik kereta menuju Monas. Kami masuk ke lorong-lorong dan masuk ke dalam Monas. Di dalamnya seperti museum. Ada miniatur kota Jakarta, ada tampilan patung-patung kecil dalam kotak kaca yang menggambarkan cerita sejarah di Indonesia. Saya biarkan anak-anak mengamati. Yang bisa baca, membacakan cerita yang tertera  untuk yang belum bisa. Yang belum bisa, saya minta untuk menyimak. Cara kami memastikan agar mereka mendengar adalah dengan meminta mereka mengulangi. Sebagian bisa, sebagian tidak.

Terus terang, saya dan Satrio agak kesulitan menemani mereka belajar sambil jalan-jalan. Sebagian bisa kami handle, sebagian malah lari ke sana kemari. Jumlah mereka yang tidak sebanding dengan saya dan Satrio yang membuat tidak semua anak bisa kami awasi. Saya berharap, nantinya semakin banyak yang bisa menemani kami jalan-jalan, supaya semua anak bisa mendapat pengajaran yang sama.

Selesai bermain di bagian bawah, kami menuju ke puncak. Sebelum naik ke puncak, kami harus mengantri. Kapasitas lift yang hanya 10 orang dewasa tidak sebanding dengan ratusan orang yang datang. Anak-anak terlihat bosan mengantri. Satrio tetap berada di antrian. Saya sibuk mengawasi anak-anak yang lari ke sana kemari. Menemani mereka yang masih antusias memotret, sambil sedikit-sedikit mengarahkan hal teknis.

Setelah hampir 30 menit mengantri, terdengar pengumuman “Waktu yang dibutuhkan untuk mengantri supaya sampai ke puncak sekitar 3 jam”. Rasanya lemas mendengar pengumuman itu. Anak-anak sudah lelah, dan mengeluh kelaparan. Roti yang saya bawa pun sudah habis mereka lahap.

Tiba-tiba salah satu anak berteriak “Kak, kenapa rame ya? Kan tadi kita sudah berdo’a supaya nggak rame.” Tadi, waktu jalan dari taman ke Monas, saya dan Satrio memang minta mereka berdo’a, supaya mereka bisa naik ke puncak dan antrian nggak panjang. Lalu sampai di sini, ternyata masih rame. Lalu, saat mereka bertanya begitu saya jadi bingung menjawabnya. Salah jawab bisa-bisa mereka tidak mau berdo’a lagi.

“Sudah berdo’a aja masih rame, apalagi kalau tadi nggak berdo’a.. pasti lebih rame lagi…” Satrio akhirnya menjawab pertanyaan mereka. Saya lega. Saya lihat mereka juga mengangguk mengerti. Manusia kadang lupa, setelah berdo’a dan terasa belum dikabulkan, sebenernya yang terjadi adalah skenario yang lebih baik menurut Allah.

Lebih dari satu jam mengantri, akhirnya giliran kami naik ke Puncak. Anak-anak senang. Melihat Jakarta dari Puncak Monas. Melihat kereta, banyak gedung tinggi, lapangan basket dan banyak lagi. Tentunya ini jadi pengalaman baru bagi mereka, pun saya yang juga belum pernah naik ke Puncak Monas😀

Setelah puas, mereka kami ajak pulang. Sebelumnya mampir ke gambir untuk makan di Hoka-Hoka Bento, lalu pulang. Di perjalanan pulang mereka terlihat kelelahan. Jumlah yang mual-mual saat di jalan pun lebih banyak daripada saat pergi tadi. Tapi, saat ditanya senang apa tidak, jawaban mereka “Senaaaanggg… Minggu depan jalan-jalan lagi ya..”. Saya tersenyum mendengarnya.

Perjalanan ini mungkin perjalanan biasa bagi orang-orang lain. Buat mereka, luar biasa karena pergi ke tempat baru. Melihat hal baru.

Ohya, sesempatnya kami selalu menanyakan cita-cita mereka. Rizki (6thn) menjawab “mau jadi AKP, orang yang nganterin barang-barang ke pasar, seperti Bapak dulu…” Saya  sempat kaget, ada yang bercita-cita seperti itu. Saya tahu itu tidak salah, Cuma saya merasa harusnya dia bisa bercita-cita jauh lebih tinggi. Namun, alasannya “seperti Bapak..” buat saya tahu, kalau kita akan bercita-cita sebatas yang kita tahu saja. Lalu Anita (7thn), yang tadinya tidak tahu mau cita-cita apa, bilang begini.. “Mau kerja di restoran, kayak Mbak tadi.. “ saya mengerti maksudnya. Dia melihat pelayan di Hok-Ben tadi. Dalam hati, saya semakin yakin.. makin banyak profesi yang mereka lihat, semakin mudah mereka untuk memilih. Jadi inget, @dini_de yang menyarankan untuk ke istana Presiden. Insya Allah, ke sana ahhh.. supaya mereka mau berusaha jadi Presiden. Presiden yang baik dan bermanfaat untuk rakyatnya.

Bagi saya, perjalanan ini adalah perjalanan yang penuh pembelajaran. Belajar bagaimana (berusaha) mendidik anak, mengerti setiap permintaan mereka, melarang dengan alasan logis saat mereka salah dan belajar bahwa setiap langkah kecil dalam hidup akan sangat berarti jika kita lakukan dengan tulus.

 

6 thoughts on “Sepetik Cerita dari Monas

  1. kak inandaaa… aku mauuuu ikutan ke istana presideeeennnnn… *kok jadi kaya minta diasuh juga ya? hehe*

    sama kaya eka, mau coba daftar jadi pemandu kalau waktunya pas😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s