Mimpi dari Petak 3x4m

Udara di  Sungai Bambu, Jakarta Utara, siang itu lebih panas dari biasanya. Saya beberapa kali mengusap peluh. Satrio masih meladeni anak-anak yang bertanya banyak hal. Mbak Emi duduk di teras rumah yang kami datangi. Mbak Emi adalah teman baru kami yang memiliki kepedulian sama pada pendidikan anak di Indonesia. Berkenalan di twitter dan bertemu muka hari Sabtu 19 januari itu juga.

Siang itu kami memang mendatangi rumah Mbak Nung, seseorang yang setiap harinya memberi les pelajaran bagi anak-anak di sekitar Sungai Bambu. Kami ingin berkenalan dengan beliau karena berdasarkan cerita  anak-anak, Mbak Nung setiap harinya membantu anak pra sekolah untuk belajar membaca  dan membantu anak SD mengerjakan PR. Yang menarik, beliau menarik bayaran seribu rupiah saja bagi anak-anak. Uang ini pun dibelikan buku pelajaran untuk membantu anak belajar. Hal itulah yang membuat kami penasaran, pada orang yang kami kira sangat berdedikasi pada pendidikan.

Saat kami datangi rumahnya, Mbak Nung sedang tidak ada di rumah. “Penataran Mbak” kata Nenek yang ada di sebelah rumahnya. Kami lalu meminta nomor HP Mbak Nung untuk memudahkan kami membuat janji temu dengan beliau. Alih-alih memberi nomor, Nenek tadi berkata “Sudah di kolong tol, sebentar lagi pulang. Mau nunggu?” kami memutuskan menunggu, karena saya tahu jarak dari kolong tol ke sini tidak jauh.

Hampir setengah jam menunggu, dari kejauhan saya melihat seorang wanita berkerudung abu-abu berjalan mendekat. Wanita itu berjalan tertatih, saya rasa karena perutnya yang besar, sedang hamil. Matanya memicing antara silau dan berusaha  mengenali kami, tamu yang mendatangi rumah tanpa janji. Di sebelahnya, berjalan seorang pria sambil memegangi tangannya. Sesekali mereka berbicara. Saya rasa mereka menerka-nerka siapakah kami.

“Itu Mbak Nuuung…” teriak Sri, salah satu anak yang bermain bersama kami sedari tadi.

Akhirnya kami berkenalan dengan Mbak Nung dan Mas Indra , suaminya. Kami diajak masuk ke rumahnya.

Pertama kali dibukakan pintu rumah, saya kaget. Luas rumahnya sekitar3x4m, terdiri dari kamar tidur dan ruang tamu dan kamar mandi. Kami diajak duduk di ruang tamu yang ukurannya tak lebih dari 1x2m. Di ruang tamu itu terdapat seperangkat komputer dan buku-buku yang diletakkan tak beraturan. Tempat itu, adalah salah satu tempat yang dipakai anak-anak di sana untuk les setiap hari. Tempat 1x2m…

Kami bertiga menjelaskan maksud kedatangan kami. Ketertarikan kami pada peningkatan pendidikan di Indonesia, keinginan kami untuk mulai “bergerak” dari tempat terdekat yang kami bisa jangkau, dan mimpi kami agar anak-anak Indonesia punya mimpi besar untuk maju.

Pasangan suami istri itu pun mengatakan hal yang sama. Mereka punya mimpi dan misi besar. Anak-anak Indonesia semuanya mendapat pendidikan layak dan memiliki karakter yang baik dan akhirnya berguna bagi Indonesia.

Kami mengangguk, “tujuannya sama”, menurut kami.

Bedanya, mereka bertindak sudah sangat jauh. Istilah dedikasi tidaklah berlebihan untuk mereka. Mendengar perjuangan mereka , saya menjadi ciut. Mereka bermimpi besar dan melangkah besar. Tanpa menunggu.

Di petak 1x2m yang mereka punya, setiap harinya mereka menampung sekitar tujuh puluh anak. Bahu membahu pasangan itu saling mengajar. Mereka juga mengajarkan budi pekerti yang baik untuk anak-anak di sana. “Kasihan anak-anak kalau nggak dibantu bikin PR, mereka bisa stress. Satu hari saja bisa lebih dari dua PR mereka harus kerjakan…”, itu jawaban Mbak Nung saat ditanya kenapa dia mau mengajar.

Kami membicarakan banyak hal. Tentang mimpi-mimpi mereka. Tentang bagaimana mereka berusaha. Tentang iming-iming bantuan yang mereka sering dapat, namun tak pernah menyusutkan semangat mereka meski hanya iming-iming. Kami tahu, sedikit sekali yang mereka punya. Bisa dilihat dari rumah yang mereka tinggali. Tapi, yang sedikit itupun mereka gunakan untuk mengabdi. “Ya, belum tentu harta yang kita miliki itu punya kita semua. Sebagian mungkin titipan Allah yang harus kita salurkan”, begitu kata Mbak Nung.

Pembicaraan itu terus berlanjut, saya pun terus menerus terkagum. Entah prinsip apa yang mereka pikirkan, hingga ilmu dikejar dengan kondisi apapun. Mereka mengejar ilmu, agar mereka bisa salurkan. Saya sempat bertanya pada Mbak Nung, kenapa dia masih mau berjalan jauh dari Sunter ke Palmerah hanya untuk mengikuti seminar hari itu, padahal jalannya sudah terseok karena sedang hamil 8 bulan.”Ya Mbak, namanya juga ilmu…harus dikejar gimanapun juga,” jawab Mbak Nung  santai, seakan ilmu adalah makanan yang menjadi asupan untuknya agar  bertahan hidup.

Sampailah pembicaraan kami mengenai wadah belajar untuk anak-anak di Sungai Bambu. Kami katakana kami ingin punya tempat agar anak-anak bisa belajar, bisa menghabiskan waktu untuk kegiatan positif, tidak dihabiskan di jalanan saja. Lalu Mas Indra mengatakan, “Kami sedang membangun perpustakaan di pojokan jalan. Ukurannya nggak luas, Cuma sekitar 4x5m, tapi cukuplah untuk anak-anak belajar.” Perkataan Mas Indra lagi-lagi buat kami kaget, kenapa jadi banyak kebetulan gini? Kami lagi cari tempat, Mas Indra sedang bangun tempat. Kami menawarkan apakah mungkin kami bisa membantu. “Jangankan tiga orang, seribu orang juga masih belum cukup untuk membantu.. Pendidikan di Indonesia ini nggak bisa nunggu pemerintah, harus kita yang bahu-membahu..Saya senang masih ada yang peduli”

Saya, Satrio dan Mbak Emi akhirnya diajak Mas Indra untuk melihat “calon perpustakaan” yang sedang dibangun.  Masih sedikit berantakan, dengan bahan bangunan masih ada di sana-sini. “Yang dibutuhkan saat ini adalah material bangunan” jawabnya ketika kami tanya apa yang paling diperlukan saat ini. Lalu Satrio bertanya lagi, siapa yang membangun perpustakaan ini. “Ya, saya sendiri.. kadang-kadang ajakin adik, atau Paman kalau bisa”. Lagi-lagi saya kaget. Dia benar-benar membangun perpustakaan ini dengan tangannya, dengan usahanya. “Kalau ngupah orang buat bangun, ya mahal. Kalau nunggu dapet bantuan ya nggak jadi-jadi nanti.. Dikerjain sedikit-sedikit aja. Kalau ada rizki Alhamdulillah bisa buat beli-beli material. Ya itu kalau rizki ya rizkinya anak-anak juga…”

“Tempat ini nantinya setiap seni-jumat dijadiin tempat untuk anak-anak les pelajaran. Hari sabtu nanti kita buat kegiatan macem-macem, tempat anak main sambil belajar.. “, kata Mas Indra menerangkan. Matanya berbinar saat menerangkan seisi calon perpustakaan itu. “Nanti di sini dibangun rak buku.. “, katanya sambil menunjuk salah satu sudut.

Ahh..semakin banyak pasangan itu bercerita, saya semakin ciut. Mereka tak punya banyak, tapi yang tak banyak itulah yang mereka bagikan. Sungguh tabungan akhirat mereka sangat berlimpah. Tempat yang mereka punya memang tak besar, tapi mimpi mereka yang besar.

“Mimpi itu gratis. Sudah gratis, kalau mimpinya nggak tinggi.. ya rugi” ~Shahnaz Haque.

Pada perjalanan pulang, kami bertiga berkali-kali berkata “Kok ada ya orang kayak gitu.. hebat..” dan berbagai decakan kagum lainnya kami lontarkan.

Akhirnya, kami memutuskan untuk membantu mereka. Tahapan pertama adalah membantu membangun perpustakaan ini. Sejak hari itu kami mengumpulkan donasi dari teman-teman yang mau membantu. Target kami 4juta rupiah. Perhitungan ini didapat dari hitungan kebutuhan material untuk membangun perpustakaan.

Alhamdulillah sudah ada yang mau membantu🙂

Buat teman-teman yang mau membantu, bisa hubungi saya ya…🙂 Kami akan salurkan semua donasi teman-teman untuk pembangunan perpustakaan. Baik berupa material bangunan atau isi perpustaaan itu sendiri nantinya. Yang pasti, ini bukan perpustakaan biasa. Di dalamnya ada mimpi anak-anak Sungai Bambu yang akan dibangun serta diwujudkan.

Mau bermimpi dan mewujudkan mimpi?

Sekarang saatnya!

____

Updated:

Hari ini banyak yang tanya ke saya, kirim donasi bisa ke mana. Bisa kirim ke:

Rekening Bank Permata Cabang AMDI

No rek: 41012 04737

a/n: Inanda Tiaka Putri

Kalau sudah kirim, tolong kabari saya jumlah pengiriman dan nama rekening pengirim by email ya di inandatiaka@gmail.com . Ini memudahkan monitoring dan kirim report pengeluaran ke teman-teman yang memberi donasi.

Untuk foto-foto kondisi, saya waktu datang belum sempat ambil. Insya Allah Rabu saya ke sana, nanti saya update lagi ya…

Btw, untuk semua yang sudah bantu, terima kasih banyak..🙂🙂

5 thoughts on “Mimpi dari Petak 3x4m

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s