Senyum Ipat

Sabtu kemarin tidak banyak rencana yang harus saya kerjakan. Saya hanya punya jadwal berkunjung ke #perpuskreatif karena menemani seorang teman yang ingin mengadakan acara di sana.

Sudah lama saya tidak mengobrol dengan orang tua anak-anak di Sungai Bambu. Beberapa bulan belakangan yang sering saya temui hanyalah anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk bersilaturahmi ke rumah Manda, salah satu anak di sana.

Setelah ngobrol sebentar, perut terasa lapar. Saya beli nasi kuning untuk dimakan. Tak lama kemudian, seorang teman membawakan nasi ayam. Saya putuskan untuk makan 2 bungkus nasi itu bersama 5 anak yang kebetulan sedang main sama saya. Nikmat sekali, 2 bungkus dimakan ber 6🙂 Serunya lagi kita harus saling membagi supaya cukup untuk berenam. Tak sedikit senyum dan tawa yang mengembang ketika kami saling membagi makanan.

Saat akan menyuap suapan terakhir, tiba-tiba seorang Ibu bersama seorang anak putri mendatangi saya. Lalu menyodorkan gambar ini.

“Mbak, mau nyumbang nggak? Buat operasi anak ini..”
Belum sempat saya menjawab, Ibu itu langsung membuka celana anak yang dia bawa bersamanya. Saya menoleh sekilas. Anak itu berkelamin ganda.

Saya tak langsung menyodorkan uang. Saya bertanya tentang anak ini. Sayangnya, Ibu yang membawa ini bukan orang tuanya. Dia hanya penduduk sekitar yang kebetulan juga tergerak untuk mencari bantuan. Lalu saya minta bertemu dengan ayahnya.

“Namanya Ipat, umurnya 5 tahun. Kata dokter dia kelebihan gen. Makanya badannya begini” kata Pak Ecim, ayah Ipat, sambil menunjukkan permukaan kulit Ipat yang hitam dan ditumbuhi bulu.

“Kemarin ada bantuan operasi dari stasiun televisi swasta, tapi operasinya baru separuh” lanjut Pak Ecim sambil menunjukkan parut bekas operasi di perut Ipat. “Saya sebenernya mau terusin operasi, tapi sudah dicoba pakai kartu GAKIN tapi tidak terlalu diperdulikan rumah sakit. Saya mau coba operasi sendiri, makanya cari bantuan keliling begini. Saya cuma pengen anak saya punya status yang jelas, dengan operasi kelamin”

Dari ceritanya, Pak Ecim berkeliling dari satu rumah ke rumah lain untuk mencari bantuan. Setiap kali berkeliling, Ipat diajak untuk sekalian ditunjukkan.

Sembari mengobrol, saya minta untuk foto Ipat sendirian. Sayangnya, Ipat tidak mau.  Saya coba bujuk, tapi dia akhirnya menangis.

Satu hal yang saya perhatikan, dia tidak sedikitpun menunjukkan senyum. Mukanya selalu menunduk jika bertemu orang baru. Terlebih lagi, karena ayahnya mengajak berkeliling, Ipat sering jadi tontonan orang banyak. Sepertinya, tak cuma secara fisik yang perlu diobati, secara psikologis Ipat juga butuh bantuan. Agar dia berani menegakkan kepala dan tersenyum menghadapi siapapun.

Ahh, siapa yang bisa bantu Ipat? Saya, kamu, atau kita?

Yaaa.. kita!

Terus terang, sampai sekarang saya juga belum tahu pasti penyakit apa yang diderita Ipat hingga seperti itu. Pengobatan seperti apa yang harus dia jalani juga saya belum tahu. Tapi, saya sangat mau melihat Ipat bisa sembuh dan kembali normal. Punya kulit yang mulus dan berkelamin tunggal. Saya yakin, akan lebih mudah bagi Ipat untuk tersenyum nantinya.

Jika kamu juga mau melihat senyum Ipat terukir di bibirnya, please do contact me at inandatiaka[at]gmail.

Kita lihat seberapa mampu kita untuk mengembangkan senyum di bibir Ipat.

“Let us always meet each other with smile, for the smile is the beginning of love.”

5 thoughts on “Senyum Ipat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s