Mengosongkan Gelas

Minggu lalu saya mengikuti sebuah sesi sertifikasi. Karena diadakan di tempat yang sejuk dan tenang, serta saya pun membatasi diri dari dunia luar, saya jadi banyak berpikir *biasanya ga sempet mikir😀 *

Saat mengamati gelas yang ada di depan saya, tiba-tiba saya menganalogikan diri dengan gelas.  Ibarat gelas, kalau mau diisi air teh, ya nggak bisa dalemnya sudah ada coca cola. Harus kosong dulu, baru bisa diisi teh sehingga nanti akan bisa diminum dengan rasa teh.

Untuk menerima ilmu baru, saya merasa butuh untuk merasa “kosong” jadi lebih “bodoh” dulu agar bisa menerima sesuatu yang baru. Saat merasa kosong, saya lebih mudah menyerap ilmunya. Saat merasa lebih bodoh, saya jadi banyak bertanya untuk meyakinkan diri saya bahwa saya paham mengenai materi yang diberikan. Saat merasa kosong dan saya tahu apa yang akan diisi, saya pun lebih fokus dan akhirnya lebih mudah menerima.

Seringkali, ketika saya belajar ilmu baru, bisa saat pelatihan atau sekedar belajar sendiri, ilmu terasa susah masuk. Penyebabnya bisa jadi karena memikirkan urusan di kantor yang belum selesai, merasa sudah pintar jadi  tidak merasa perlu menggali lebih banyak, tiba-tiba teringat sesuatu yang harus dikerjakan dan banyak hal lain. Dalam kondisi itu, sulit rasanya menerima hal baru karena fokus terpecah.

Ilmu mengosongkan gelas saya terapkan selama mengikuti sesi sertifikasi tersebut. Hasilnya? Meski ilmu baru, saya menyerap ilmu dengan mudah🙂

Hari ini saya blogwalking, dan menemukan tulisan ini dan menemukan analogi serta pendapat yang mirip😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s