Masuk Tipi nih!

Kapan lagi masuk tipi nasional, meski cuma beberapa menit, ya judulnya masuk tipi deh 😀 Shooting 4 jam, tapi muncul 5 menit. Yang di shoot juga rame-rame, sampe-sampe nggak berani bilang ke banyak orang, takutnya ga muncul soalnya. Haha.. Tapi, pas lagi beruntung, yang muncul banyakan hasil interview saya. Horay!

IMG_8863Karimah Trans 7, 4 Juli 2015

Gimana ceritanya bisa masuk tipi?

Jadi, beberapa minggu yang lalu saya ditelpon orang trans 7. Diajakin buat shooting acara “Karimah” di trans 7, pas lagi tema “me time”. Hla bingung juga kenapa tau nomor saya. Ternyata lihat nomor hape di instagram, waktu saya jadi contact person untuk acara “meet up” Kompakers Bekasi. Jadilah saya dikontak, sebagai anggota “Upload Kompakan” dan memang mau ceritain soal Upload Kompakan sebagai wadah mahmud-mahmud buat “me time” di sela-sela kegiatannya.

Apa itu Kompakers Bekasi & Upload Kompakan?

Jadi, upload kompakan itu sebenernya nama akun di instagram. Setiap harinya si admin akan info tema foto yang bisa kita ikutin, dan kita bisa upload foto sesuai dengan tema tersebut. Jadinya kompakan buat nge-upload dengan tema yang sama. Sebagai “reward” nya, tiap hari akan dipilih foto-foto yang paling menarik untuk di “grid” di akun Upload Kompakan. Oya, ini tulisan lumayan “resmi” mengenai sejarah Upload Kompakan

Founder dan ketiga sahabatnya suka janjian upload pecah belah bareng. Kebetulan kami banyak memiliki pecah belah yg sama. Janjian upload, lama2 ada teman2 lain yg ikut.
Disitulah founder berfikir untuk membuat akun aja utk mewadahi hobby ini.
Jadi pas di tanggal 9 Sepetemer 2014, lahirlah Komunitas @uploadkompakan, dan Echi Sofwan foundernya dari Medan.
Dinamakan #uploadkompakan karena kita harus upload secara kompakan, tema photo yg kompak & di waktu yg ditentukan.

Jumlah Member sudah 25ribuan. Di Indonesia dan Luar Negri seperti Korea, Jepang, Australia, Jerman, Belanda, qatar, Abu Dhabi, USA, dll

Dan pada bln November tiba2 founder ada timbul Ide utk mempersatukan kompakers di daerahnya masing2, dengan cara membuat hashtag sesuai tempat tinggalnya. Agar mudah bagi mereka utk mencari teman sedaerahnya. Misalnya #KompakersBekasi #KompakersSurabaya #Kompakersqatar dll. Dan member ada menunjuk 1 leader utk mengatur kegiatan2 mereka. Leader Tiap daerah itu kita namai Bu Lurah (Bulurik = Bu Lurah Cantik).
Kompakers sendiri itu sebutan utk member #uploadkompakan.

Media komunitas kami hanya Instagram.

Kegiatan rutin upload kompakan Di dunia maya ya upload kompakan, Terdiri dari Daily Theme & Theme Challenge; Theme Challenge ini berhadiah, jadi kayak lomba Photo gt, sudah 50 kali theme challenge.

Kalo kegiatan rutin di dunia nyatanya, Kompakers mengadakan silaturrahim “meet up”, Belajar decoupage, Workshop FoodPhotography, Ada juga yg renang & Yoga, Kegiatan sosial ke panti asuhan, Sedekah kompakan, & Medan kmrn buat Pengajian.

Sebenarnya ini wadah khusus perempuan Indonesia dimanasaja berada, tp ada yg laki2 mau follow kita akan confirm selagi niatnya bener2 mau upload juga, itu bisa dilihat dr photo2 instagramnya yg bagus2.

UK Tidak mengkhususkan tema pecah belah. Krn tema kita beragam apa saja.

Syarat menjadi member sangat mudah, Cukup follow & ikuti rules di UK.

Nah gitu deh soal Upload Kompakan. Next time saya mau ceritain udah dapet apa aja ya gara-gara ikut komunitas ini. Sekarang masih hore-hore happy karena masuk tipi. Hehe…

Advertisements

Membagi Mimpi Besar

 I always enjoy playing with kids. Letting them explore new things is my favourite moment…

Foto di atas di ambil oleh mas Iman, teman baru yang jago foto dan saya kenal di @shoeboxproject.

Acara @shoeboxproject ini sudah lama saya tahu dan ingin saya ikuti. Tapi, beberapa kegiatan yang dilakukan sebelumnya selalu bentrok dengan kegiatan @childcanlead. Jadi, ketika saya sedang tidak ada kegiatan, saya langsung berminat untuk ikut.

Shoeboxproject ini sudah sampai ke kegiatan yang ke-7. Setiap bulannya akan ada kegiatan yang berbeda-beda. Untuk kegiatan ke-7 ini datang ke sebuah sekolah dasar di daerah Pedongkelan Jakarta Timur. Ini sekolah SD dari kelas 1-6, terdiri dari 2 ruangan kelas dan diajar oleh 2 orang guru. Bisa bayangkan bagaimana jadwal mereka belajar? 😀

Hari Sabtu 2 April 2011 lalu, para volunteer datang untuk dibagi menjadi 2 kegiatan, renovasi gedung sekolah dan mengajak anak-anak belajar sambil bermain. Sekolah direnovasi dan diberi fasilitas misal kipas angin dan rak buku. Tim lainnya menemani anak-anak bermain sambil belajar. Sebelumnya, anak-anak diberi “Pe-er” untuk menuliskan mimpi mereka, lalu saat kami datang kami minta mereka untuk menceritakan ulang.

Ada salah satu anak, yang tulisannya berjudul “Musibah Membuat Tidak Bisa Sekolah”. Saat saya membaca sekilas judulnya saja saya merasa sedih. Anak-anak diajak “bermimpi”, namun yang mereka terpikirkan kok ya seperti itu. Apakah mereka sudah kehilangan pengetahuan mengenai “mimpi yang menakjubkan” atau “mimpi mendapatkan kesuksesan”? Entahlah…

Tapi, saya tetap optimis, suatu saat semua anak Indonesia akan punya mimpi besar. Mimpi yang menunjukkan bahwa mereka ingin sukses.

Bagi kita yang “sudah” mempunyai mimpi besar, bisa membantu mereka menginformasikan hal-hal baru. Membiarkan mereka eksplor banyak hal sehingga mereka punya pengetahuan yang lebih luas.

Melakukan kegiatan untuk membagi sedikit mimpi-mimpi besar kita untuk mereka…

Kegiatan serupa Shoeboxproject atau ChildCanLead lah yang bisa membantu mereka mewujudkannya. Dan kita semua-lah yang bisa membantu mewujudkan itu 🙂

I feel like I’m falling in love again

“If u want to feel happiness, simply falling in love. I think I’m falling in love again”

Sulit tidur, perasaan pengen ketemu terus dan selalu pengen berdekatan biasanya jadi ciri-ciri orang yang jatuh cinta. Ini yang saya rasain sekarang. Saya tadi tidur jam 10 malam, jam 1 pagi saya terbangun karena merasa hari ini belum membuat progress banyak pada children education project ini.

Begitu saya terbangun, ada mention dari Mbak Ollie begini:

Shukla Bose: Teaching one child at a time http://on.ted.com/8sTq cc@inandatiaka

Wow… she’s very a great mentor! Nggak ngelepasin saya begitu aja lohhh J

Lalu, saya bangun dan langsung nonton. Speaker di video TED itu adalah Shukla Bose. Dia mengajarkan pendidikan di slum area. Intisari yang saya dapat di video itu di antaranya adalah berikan pendidikan berkualitas dan harus yakin kalau mereka juga bisa mengikuti pendidikan dengan kurikulum berkualitas itu. Saya juga lihat semangat bahwa berubah itu bisa dilakukan, jika kita percaya.

Selain video itu, saya akan explore lebih banyak. Seperti yang Mbak Ollie bilang, cari referensi sebanyak-banyaknya. Jadi, salah satu langkah yang akan saya lakukan setiap hari adalah menonton video atau membaca tulisan inspiratif setiap harinya, yang related dengan project yang akan saya lakukan. Ini akan sangat membantu saya mendetailkan outline yang sudah saya buat.

Video lain yang saya tonton adalah Kiran Bir Sethi teaches kids to take charge http://on.ted.com/8sWE. Videonya menceritakan bagaimana menularkan prinsip “You Can “. Mentransformasikan  prinsip “teacher do” menjadi “Children do”. Membiarkan anak-anak untuk tidak takut melakukan sesuatu.

Ohya, saya ngerjain PeeR dari Mbak Ollie loh *mentee yang baik*. Yang saya buat adalah outline dengan prinsip 5W1H. Metode 5W1H ini membantu saya mendefinisikan inti dari project ini dengan baik. Tapi,masih perlu di detailkan lagi setiap pointnya.

Sedikit bocoran, project yang saya buat ini keywordnya adalah”leadership”, “book and sharing”, “creating smiles” and “going thousand miles”.

Dari keywords-nya juga sudah ketahuan ini akan pakai buku sebagai salah satu media-nya. Jadi, untuk teman-teman yang berminat untuk membantu project ini, salah satunya adalah dengan menyumbangkan buku-buku. Jangan takut untuk menyumbang jenis buku apapun, sejauh buku tersebut bisa memberikan pengetahuan yang positif  🙂 Silahkan contact saya di email inandatiaka[at]gmail.com.

Nggak cuma buku, kalau teman-teman punya minat yang sama, punya ide apapun terkait dengan children education in Indonesia, mari kita diskusi. Bisa lewat komen di blog, email saya tadi, atau lewat twitter saya di @inandatiaka.

Ini memang baru hari pertama, tapi saya yakin, langkah-langkah kecil yang saya buat setiap harinya akan menjadi dasar yang kuat buat saya untuk mencapai thousand miles 😉

Ahya, terkait children education juga, hari ini saya pergi ke RS Dharmais buat bertemu dengan salah satu pengurus Yayasan Pita Kuning. Honestly saya belum bisa cerita banyak tentang ini karena belum terjun langsung. Hari ini saya baru berdiskusi seputar kegiatan dan beberapa cerita tentang bagaimana handling anak penderita kanker.

Salah satu cerita yang buat saya tersentuh adalah ketika salah satu anak, namanya Aji,  anak kecil penderita kanker yang sudah 2 kali mengalami perawatan (seharusnya anak bisa diobati dengan cukup 1 perawatan saja) bilang begini kepada dokternya:

“Dokter, jangan pernah menyerah untuk mengobati saya ya Dok..”

Hmmm… anak kecil penderita kanker dengan tingkat risiko tinggi seperti dia aja bisa menyemangati dokter untuk tidka berhenti menyerah. Saya jadi malu dengernya. Sering mudah menyerah kalau melakukan apapun.

Ahhh…  saya rasa saya sedang jatuh cinta dengan project ini. Jam segini aja belum tidur 🙂

Kamu, sedang jatuh cinta pada apa?

😉

Famday lagi nih!

Di cerita saya tentang Family Day tahun kemaren, bisa dilihat betapa kemaruknya saya. Jadi panitia, jadi pengisi acara, dapat doorprize pula.

Tahun ini, saya nggak kemaruk kayak tahun kemaren. Saya nggak jadi panitia lagi, pengisi acara juga nggak. Berminat untuk main-main juga nggak.  Cuma dua dari sekian banyak wahana di Dufan yang saya naiki. Masih bawaan lemes karena sakit yang saya ceritain itu. Bahkan, sesi narsis juga nggak ada. Saya nggak punya dokumentasi foto saya di Famday tanggal 27 November ituh 😦

Lalu, apa kerjaan saya di acara seharian itu? Saya cuma bantuin sepupu dan teman-teman saya yang jadi pengisi acara. Mereka jadi dancer. Bantuinnya juga dikit-dikit, nabur-nabur glitter waktu persiapan, dan tentunya moto-motoin pas mereka nampil. Berharap sedikit foto jepretan saya bisa buat mereka seneng! Ini beberapa  fotonya…

Tapi, nggak kemaruk bukan berarti saya nggak dapat apa-apa. Jadi panitia enggak, jadi pengisi acara juga enggak, bukan berarti saya nggak dapet doorprize kan?;)

Yup! Alhamdulillah saya menang lagi! Dapet juicer, sama persis seperti yang saya inginkan beberapa waktu belakangan ini. Sama banget. Sangat sama dengan yang saya idam-idamkan selama ini! Selama ini saya tangguhkan karena saya lebih memilih untuk beli barang yang lebih penting. Rencananya, bulan Desember ini saya mau beli. Tapi, Allah kasih saya dengan cara yang berbeda. Allah Maha Baik yaaa… 🙂 🙂 🙂

Btw, ada cerita dibalik doorprize ini.

Jadi, sehari sebelumnya saya sudah bilang sama teman-teman “Do’ain ya.. mudah-mudahan besok menang dapet Juicer“. Terus, pas hari-H penarikan doorprize, saya nggak ada di tempat. Sibuk bantuin temen-temen dancer. Pas balik ke acara, manager HRD saya bilang.. “Nanda, dapet hadiah ya?” Saya cuma bengong lalu jawab kalau saya nggak tahu.

Trus Diana bilang kalau saya dapet Happy Call. Itu tuh si panci penggorengan ajaib itu.  Temen-temen yang lain bilang juga kalau saya dapet Happy Call. Saya seneng-seneng aja, la wong dapet gratis apa aja saya terima 🙂 Cuma hadiahnya nggak bisa diambil hari itu juga, harus tunggu hari senin.

Temen saya yang tau saya dapet penggorengan dan tahu saya pengennya juicer akhirnya bilang penggorengannya buat dia aja. Saya bilang, iya saya jual aja, saya mau beli juicer. Sabtu itu, kita nego harga sampe malem. Karena dia mau harga rendah yang saya tahu nggak cukup buat beli juicer idaman. Sudah hampir pagi akhirnya saya bilang “Entar lihat senin aja ya, saya juga nggak tahu dapet apa nggak, waktu diumumin saya nggak di tempat”. Negosiasi ditangguhkan.

Hari seninnya saya dapet kabar,  saya nggak dapet Happy Call seperti yang digosipin sebelumnya, tapi dapat hadiah Juicer! Wuiiihhh… langsung senengnya bukan main.

Temen saya itu jadinya gimana? Hari ini saya lihat dia sudah pesan langsung tuh si Happy Call-nya 😀 Yah, mungkin belum berjodoh sama saya untuk bertransaksi.

Jadi, kesimpulan dari Family Day kali ini apa?

“It is not how much we have, but how much we enjoy, that makes happiness.”

Charles H. Spurgeon

Tentang TEDxJKT 3rd event

Event ini saya datangi sudah lebih satu bulan yang lalu. Tapi, belum sempat buat nulis ceritanya. Sebelum benar-benar basi, saya mau mulai cerita deh, mumpung belum ada event TEDx lainnya 😀

Saya diajak datang ke event ini oleh Mona. Ajakannya serta merta saya jawab “Mau!” Entah apa isinya, pokoknya ikutan dulu. Saya nggak peduli sudah daftar dan bayar seminar di tempat lain, pokoknya datang ke TED event sepertinya lebih menarik.


Tentang TED

Adalah TED yang dimulai dari sebuah konferensi dengan benang merah “Technology, Entertainment and Design”. Mereka berkumpul dengan satu tujuan yaitu menyebarkan ide-ide yang berharga. Tujuannya supaya banyak orang mengerti berbagai issue yang ada di dunia dan tergerak untuk membantu agar tercipta masa depan yang lebih baik. Ide untuk “menyebarkan ide” ini tertuang di tagline mereka “Ideas Worth Spreading”. Yayasan pencetus TED ini percaya kalau tidak ada kekuatan untuk mengubah dunia kecuali ide-ide besar.

Basis TED ada di New York dan Vancouver. Tapi sekarang TED sendiri membuka peluang untuk organisasi independen di negara-negara lain untuk menyelenggarakan TED event. Tiga anak muda Indonesia, Arief, Karina dan Tika mengambil peluang ini untuk memulai TED event di Jakarta, dan dinamakan TEDxJakarta (TEDxJkt). Huruf “x” di tengah nama menunjukkan bahwa ini merupakan organisasi independen dalam penyelenggaraan event tersebut.

TEDx event yang saya datangi pada sore 22 November 2009 lalu itu merupakan acara TEDxJkt yang ke 3 kalinya. Awalnya dijanjikan 4 orang yang menjadi pembicara yaitu Yuyun Ismawati, Hokky Situngkir, Silverius Oscar Unggul dan Jacko Hendrick Ayub Bullan. But, lucky them, Silverius Oscar Unggul atau yang biasa dipanggil “Onte” mengenalkan TEDxJkt committee pada Willie Smits, pecinta lingkungan dan juga pecinta Indonesia. Walhasil pada event itu ada 4 pembicara dengan bonus 1 orang lagi 🙂


Tentang Pembicara

Salah satu kreatifitas dari panitia TEDxJkt ini adalah setiap pembicara melakukan presentasi, ada seorang “mind map artist” yang membuatkan mind map dari isi-isi presentasi mereka. Jadi, audience diharapkan mudah untuk mengerti kerangka dari ide yang dipresentasikan.

Hokky Situngkir

Presentasi dimulai dari Hokky Situngkir. Pemuda 31 tahun ini menceritakan minatnya pada ilmu “Kompleksitas”. Hah? mendengarnya saja kening saya sudah berkerut. Orang mencari penyederhanaan nah dia mempelajari kerumitan. Hokky menceritakan bahwa segala ke-abstrak-an itu memiliki pola. Kita hanya perlu melihat segala hal dari berbagai sudut pandang baik dari ekonomi, matematika dan budaya untuk bisa melihat pola-pola itu. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang namanya kompleks 🙂 Pada presentasinya Hokky menceritakan mengenai phylomemetic dari batik di Indonesia. Wow, how amazing that non-scientific issue can be seen from scientific side!

Jacko Hendrick Ayub Bullan

Ingat uang 5000an jaman dulu yang bergambar Sasando? Nah, TED event kali ini mendatangkan satu dari hanya sepuluh orang yang mahir memainkan alat musik asal Rote ini. Jangan ditanya suaranya, indah bagai dentingan harpa diiringi piano. Apalagi Sasando yang dimainkan Jacko kala itu bukan sasando biasa melainkan sasando elektrik, yang dia ciptakan sendiri. Passion-nya pada alat musik ini menjadikan ia mampu melanglang buana ke berbagai negara, dan tentunya ia juga bermain di acara-acara kenegaraan. Saking seringnya, di salah satu acara kenegaraan, salah satu menteri wanita pernah menegurnya begini, “Jacko, kamu lagi kamu lagi.. bosan saya” ujar menteri itu sambil tertawa. Lalu jacko hanya menjawab “Yaaa, mau bagaimana lagi, yang bisa cuma saya Bu…”. Pernyataan ironis yang terlontar dari mulutnya itu sebenarnya berupa bentuk kekhawatiran Jacko terhadap kekayaan Indonesia. Kita punya beragam budaya dan seni, tapi tidak dilestarkan. “Murid yang belajar sasando dengan saya itu sebagian besar bukan warga negara Indonesia, yang orang Indonesia paling satu atau dua…”, ujarnya kala itu. Lagi-lagi ia ingin mengingatkan bahwa seharusnya bangsa kita itu bangga dengan kebudayaan sendiri. Belajar, memahami dan memainkan kesenian asal Indonesia. Jangan hanya bisa kalangkabut ketika hasil seni dan budayanya dicatut oleh negara lain.

Yuyun Ismawati

“What is the purpose of your life?”, itu adalah pertanyaan balik yang dilontarkan Yuyun Ismawati untuk menjawab mengapa ia melakukan pekerjaannya yang sekarang. Yuyun memang bercita-cita agar lingkungan ini bisa diwariskan dengan baik pada anak cucunya. Ia seperti tidak peduli apa omongan orang mengenai pekerjaan yang dianggap menjijikkan oleh orang lain, yaitu mengenai waste atau buangan. Dia mengabdikan hidupnya untuk menyadarkan bahwa kita sedang menghadapi permasalahan lingkungan yang serius. Bahwa komunitas biasanya mengambil sumber daya, menggunakan dan pada akhirnya membuang sisanya begitu saja. Kita tidak memperdulikan apa yang selanjutnya terjadi dari hasil buangan itu. Bertolak dari hal tersebut, Yuyun, bersama NGO yang dinaunginya, berusaha mengedukasi lingkungan agar bisa mengatur buangan tersebut dengan cara diolah lagi dan pada akhirnya menjadi barang bernilai ekonomi. Tidak hanya sekedar bicara dan berorasi di lapangan mengenai isu lingkungan, tapi dia juga membantu orang-orang yang “tak punya” agar menjadi mandiri dengan cara mengajarkan mereka bagaimana menghasilkan uang menggunakan limbah rumah tangga.

Willie Smits

Sebelum Willie tampil, MC memperkenalkan Willie Smits menggunakan bahasa inggris. Tapi, ketika ia buka suara, dia menggunakan bahasa Indonesia yang apik sekali sampai presentasi selesai. Dia memang “orang asing yang tak asing”, karena memang dia tinggal lama di Indonesia dan kini memperistri wanita Indonesia juga. Orang Utan adalah satu dari sekian kekayaan Indonesia yang membuatnya betah ada di negeri ini. Awalnya dia melakukan penyelamatan Orang Utan yang hampir punah karena hutan-hutan Indonesia dibakar untuk membuka lahan. Selain Orang Utan, ketertarikannya pada lingkungan membuatnya melakukan studi untuk disertasinya mengenai Pohon Aren. Pohon yang banyak sekali tersedia di hutan-hutan di Indonesia, terutama di Borneo. Willie menceritakan betapa banyak kelebihan dari Pohon Aren ini. Buah Aren jika diolah bisa menjadi sumber gula yang baru, belum lagi akar pohonnya yang sangat kuat melebihi kekuatan dari Stainless Steel. “Semua kelebihan yang dimiliki aren ini seharusnya merupakan potensi ekonomi yang besar jika diolah dengan benar”, begitu ujarnya. Sayang, pemerintah sepertinya belum tanggap mengenai hal ini. Tapi, Willie optimis bahwa dia bisa mengembangkan Aren menjadi lebih berdaya guna.

Silverius Oscar Unggul

Ini pembicara favorit saya di event ini. Pak Onte, begitu panggilannya, menceritakan kisahnya dengan gaya yang menarik. Dia menceritakan bagaimana jatuh bangun saat dia merintis sebuah stasiun radio demi hasratnya “menyuarakan” issue-issue lingkungan. Kerja kerasnya berbuah manis, tak hanya stasiun radio, saat ini dia bahkan sudah memiliki stasiun televisi sendiri yaitu TV daerah Kendari. “Satu untuk Semua” begitu tagline Kendari TV. Memang mirip dengan tagline salah satu TV swasta di Indonesia, tapi dia bisa membuktikan bahwa TV nya memang lebih dulu lahir ketimbang TV swasta tersebut. Mengenai tagline TV nya dia bercerita bahwa memang TV nya itu berisikam siaran-siaran yang dibuat oleh penduduk setempat. “Kita juga ada Sinetron”, ujarnya,”Ya pemerannya para penduduk. Kalo hansip jadi hansip kalo Pak Lurah tetap jadi lurah… untungnya ceritanya tidak ada yang jadi koruptor, pasti tak ada yang mau berperan..”, katanya sambil tergelak. “TV ini memang menyuguhkan kisah-kisah nyata di sekililing kita. Jadi, TV tidak mendikte masyarakat. Masyarakatlah yang memilih apa yang ingin mereka tonton”, sambungnya. Dari apa yang dia bicarakan, satu hal yang saya lihat dari dia adalah kepercayaan diri yang tinggi. Bahwa yang tampak tidak mungkin, bukan berarti tidak bisa terjadi. “Banyak yang pernah melihat dan berkata ‘mengapa?’. Tetapi kami menampilkan hal-hal yang tak pernah ada dan mengatakan ‘mengapa tidak’ “, begitu dia menutup presentasinya sore itu.


Tentang sore itu

Video-video yang sering saya tonton di TED.com memang selalu membawa inspirasi. Begitu banyak “wow” yang saya dapatkan setiap saya menontonnya. Sama halnya dengan presentasi yang saya lihat sore itu. Tapi, TED hanyalah sekedar video, konferensi atau presentasi jika hanya memunculkan decak kagum saja. Harus ada tindakan yang dilakukan oleh semua yang menontonnya agar ide-ide besar itu bisa benar-benar bisa mengubah dunia.

So, are you ready to spread the ideas?


*PS: here’s my college friends I met on the event


Goyang India bersama Didik Nini Thowok di GKJ

The dance of drama is conceived to enact a very interesting, but less popular, episode of “Mahabharata” which emphasizes the role of transgender, Shikhandi, in making of our history. The dance drama will be blended with an Indian Kathak dance performance by Pooja Bhatnagar and students of the Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre.

Di atas adalah tulisan pembuka dari salah satu selebaran yang saya ambil di pintu masuk Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) hari Jumat, 4 Desember, lalu. Malam itu saya dan Riky memang sengaja datang ke GKJ karena ingin menghadiri Festival of India.  Agendanya  adalah Performance of a Fusion of Indian and Javanese dance drama and music, Sangam. Selain tertarik untuk menontong live goyangan India, rasa penasaran pada performa Didik Ninik Thowok menjadi salah satu hal yang membuat saya rela untuk menerobos rintiknya hujan Jakarta malam itu.

Begitu melewati pintu masuk GKJ, spontan kami berjalan ke arah kiri, karena arus manusia saat itu memang lebih banyak ke arah sana. Ternyata, daya tarik dari arus kiri itu adalah makanan. Yaiy! pucuk dicinta ulam tiba, sejak berangkat memang perut berbunyi minta diisi. Walhasil kami menghabiskan beberapa menit di sana untuk menyantap makanan khas India. Saya tidak ingat namanya, yang pasti makanannya berbumbu kari khas masakan India tapi rasanya tidak terlalu “berbumbu dan menyengat” jadi bagi lidah saya itu cukup pas. Sayangnya kami tidak sempat mencicipi teh India, karena saat itu teh nya sedang habis dan lagipula pertunjukan sudah akan dimulai.

Panitia mengarahkan kami untuk masuk ke area pertunjukan. Beruntungnya, teman saya, Eksi , Mbak Yaya & Tyas sudah mendapat tempat duduk di bagian depan. Lumayan, di barisan ketiga dari depan, jadi tidak terlalu banyak terhalang oleh kepala orang-orang India yang posturnya lebih besar dari saya.

MC malam itu mulai membuka acara dengan bahasa yang menarik. Namanya Arletha, malam itu dia menggunakan kebaya coklat muda dengan kain batik sebagai padanannya.  Versi saya, MC ini termasuk kategori MC dengan jam terbang yang tinggi karena pembawaannya sangat tenang, bahasa Inggrisnya mumpuni dan tanpa mesti berjingkrak atau berteriak, orang-orang akan tertarik dengan apa yang dibicarakannya.

Seperti layaknya acara formal, speech adalah acara pembukanya. Duta besar India untuk Indonesia, Biren Nanda, membukanya dengan speech yang cepat tanpa basa-basi. Beliau hanya menceritakan sedikit sejarah mengenai Shikandi ini. Lumayan membantu untuk mengira-ngira apa yang akan dipertunjukkan nantinya.

Selesai speech, dilakukanlah ritual “menyalakan lampu minyak” . Ini merupakan kebiasaan orang India, yang dimaksudkan agar apa yang dilakukan mendapatkan berkah dari Sang Pencipta.


Tidak langsung masuk ke pertunjukkan utama, London School Public Relation (LSPR) Choir menjadi penampilan pembuka dari acara ini. Tidak kurang dari 15 pasang perempuan dan laki-laki menyanyikan berbagai lagu khas daerah-daerah di Indonesia, dipimpin oleh seorang konduktor yang (ehem!) lumayan tampan. Dari mulai lagu dari Betawi sampai dengan lagu khas daerah Bali mereka nyanyikan. Tidak hanya berdiri tegak lalu bergoyang kanan kiri serempak saja, namun mereka menyanyikan dengan gaya yang menarik. Walaupun mulut terus melantunkan lagu, tapi terlihat ekspresi unik dari mereka yang disesuaikan dengan lirik lagu yang dinyanyikan. Bercanda, menari berpasangan sampai menatap sambil bercerita satu sama lain adalah sedikit dari bentuk ekspresi yang ditunjukkan. Benar-benar, penampilan yang menyegarkan 🙂

Setelah penonton dibuat terkagum-kagum oleh penampilan dari mahasiwa & mahasiswi LSPR, lalu dimulailah pertunjukkan utama dari Festival of India malam itu. Penampilan dimulai dengan tarian dua penari, Aila-el Edroos dan Ms Vidya Sharma. Penampilan mereka mengingatkan pada film-film India yang dulu sering muncul di layar TV, enerjik dan memikat. Tapi lupakan sejenak penari India di TV yang beradegan di bawah hujan menari-nari cari tiang buat bergoyang, ini tarian dengan koreografi lebih teratur, membumi dan tampak bernilai seni tinggi. Tidak lama berselang, muncullah penari-penari lainnya, dan cerita pun dimulai.

The story of  Shikhandi and his destinical relation with Bhisma, who could not be vanquished till he laid his weapons down, is weaved around an interesting piece of existential inevitability that humans suffer in their respective lives.

It takes two lives of Shikandi, who was Amba in his past life, along with a host of others, and a series of worldly events to vindicate how humans are guided by their destiny in disguise and have little control on the course of their lives including a person of Bhisma’s might and knowledge.

Meskipun ceritanya diangkat dari cerita rakyat India, namun nuansa gamelan Jawa dan Bali cukup kental terasa. Bagi saya pertunjukkan kemarin sukses memadukan kultur India dan Indonesia. Goyangan penari-penari India-nya sangat gemulai.  Tapi, semua tarian India itu rasanya sekejap bisa dikalahkan oleh gemulainya tarian sang master dancer Didik Ninik Thowok. Penampilannya benar-benar memukau. Setiap tarian yang dibawakannya sangat soulful, ekspresinya sangat sesuai dengan lakon yang sedang dibawakan. Saya jadi mengerti alur cerita pertunjukan itu karena ekspresi yang dia tampilkan. Saya tahu kalau itu adalah adegan pernikahan dari semburat bahagia wajahnya, dan saya tahu kalau saat itu adalah adegan kematian dari tangis tertahan yang menyayat jiwa *tsaaahhhh*.

Menit-menit berlalu, dan perpaduan “magis” dari kedua tradisi itupun selesai. Applause panjang menjadi penutup dari pertunjukkan malam itu.  Kolaborasi kultur India dan Indonesia itu sukses menyihir para hadirin selama empat puluh menit sebelumnya.

Berawal dari rasa penasaran saya pada performa Didik, yang memang tampil dengan stunning, dan yang tersisa adalah kehausan akan pertunjukkan “megah” dari kesenian tradisional Indonesia. Bukan berarti pertunjukkan khas India nya tidak menarik, tapi saya semakin yakin kalau kesenian Indonesia memang lebih menarik.

Semoga saja masih banyak lagi pertunjukan-pertunjukan seperti itu ditampilkan, dan saya punya banyak kesempatan untuk menontonnya 😉

Pecah telok, apaan tuh..?

Diambil dari bahasa Palembang, kalo pecah ya artinya pecah (apalagi?) trus Telok itu ya artinya Telur. Nah ya.. kenapa juga dengan pecah-pecahan si telur ini..

Ceritanya ada yang namanya WongKito, komunitas blogger daerah asal Palembang. Saya tahu soal WongKito (WK) sebenernya udah lama, sejak pernah iseng-iseng klak klik link di blog nya Riky. Dulu sih sekedar “hooo..” aja, ga pengen juga ikutan, soalnya nggak ngerti apaan :p

Pernah satu kali waktu jalan2 di Palembang Indah Mall trus lihat ada satu acara yang lagi berlangsung,  Ena, adek saya bilang gini..

“Kak, WongKito itu apaan sih?”

“oh, itu komunitas blogger Palembang,,”, jawab saya sambil lalu.

“Ih, mau donk Kak, soalnya kayaknya keren, kalo ada acara mereka itu dapet tempat khusus gitu.. tuh kayak acara yang itu”, kata Ena sambil nunjuk acara yang lagi berlangsung.

“Oh ya?” baru ngeh kalo WongKito itu ya sgitu serunya.

Setelah itu, ya tapi tetep lewat aja. Tapi, beberapa kali sempet juga ditinggal-tinggal pacar gara-gara dia ikutan beberapa acara sebagai wakil WK. Koq ya, jadi pengen ikutan. Bukan karena pengen nempel terus sama pacar, tapi ya karena pengen ikutan WK nya ini. Soalnya seru keliatannya..

Mulailah pengen ikutan WK , baca-baca gimana caranya, ternyata harus daftar ke milisnya, trus kudu ngelakuin yang namanya ritual Pecah Telok (PT) alias perkenalan ke member WK yang lain. Hoalaahh, perkara kenal mengenal inilah saya nggak berani, kan saya pemalu *wink*. Akhirnya beberapa kali batal aja karena malu. Belum lagi ada warning begini: PIKIR DULU SEBELUM JOIN! SIAPKAN MENTAL. Nah lo ya.. makin aje nggak berani.

Tapi makin lama dicuekin koq ya makin pengen ikutan, akhirnya ya, menyiapkan mental buat ikutan. Apapun yang saya kudu lakuin yowislah, daftar aja dulu ke milisnya perkara mau nulis apa di PT itu liat ntar dulu.

Selasa kemaren akhirnya saya beraniin buat ikutan milisnya. Nggak berapa lama ada email masuk dari Indah, yang ngabarin kalo uda di approve dan segera harus bikin PT. Uhye, ini dia nih yang saya nggak tau mau ngapain. Indah ngasih beberapa detail yang kudu wajib ditulisin di PT. Lengkap aje, kudu cerita soal pendidikan, asal usul, kerjaan sampe soal status. Trus di wanti-wanti juga jangan sampe ada yang kurang, karna bisa-bisa kudu ngulang. Oya, syarat lulus PT ini kalo postingan saya di reply  50 kali oleh member WK lainnya. Kebayang kalo ngulang berarti harus bikin PT lagi, n harap2 cemas dapet reply-an 50 kali. hadoh.. Tapi, untungnya Indah bilang mau bantuin nge back-up. Asiikk 😀

Setelah ngoprek2 arsip lama soal PT orang-orang, akhirnya saya buat PT. Trus saya posting deh pagi-pagi. Kenapa pagi-pagi? Karena ngarepin kesempatan orang buat reply yang makin banyak. Kalo kesiangan kan waktunya jadi makin pendek, walopun kalo di liat-liat mereka pada posting di milis sampe tengah malem juga masih ada sih. Cuma kan nggak akan sebanyak kalo siang-siang, ya apalagi kalo nggak ngarepin internetan gratis di kantor #indonesiabanget.

Strategi pagi-pagi juga ternyata lumayan berhasil, seenggaknya dalam standar saya 😀 Sampe sore hari  sudah ada 46 reply. Yowis, tinggal tunggu 4 lagi donk! Ehhh… begitu reply yang ke 47, malah ada member yang nyuruh ngulang, gara-gara dibilangin postingan PT nya ga kreatif. Nahloooo.. Bikin drop tiba2. huhu.. apa  kudu ngulang PT gitu? hiks.. Ditunggu sampe malem ga ada lagi tuh yang nge reply 😦 Indah, yang tadinya mau back up, ternyata Laptop nya rusak. Jadi bantuinnya ga bisa full (tapi tetep dibantuin lohh ) huaaa…

Besok paginya, ternyata ada yang berbaik hati nge reply dengan alasan “sudah mau libur idul adha..” hueheee.. apapunlah alasannya, yang penting mah di reply *desperate*.. dan yippiee.. akhirnya dapet 50 reply an juga pagi itu.. Asiik asiikk.. lulus juga PT nya..

Sekarang dah lulus Pecah Telok nya, trus resmi deh jadi “Penguni Rumah” WongKito. Seneng? Pasti duonk 😉 Jadi, buat yang berasa dari Palembang, berdomisili di Palembang, pernah tinggal di Palembang, atau berasa dekat dengan Palembang..  yuk Join WongKito..