Silver Age :D

“Heyyyy… Hari ini saya Ulang Tahun lohh!!”

…dan Ya, itulah kalimat yang saya teriakan hari ini ke orang-orang yang saya temui 😉

Sebenarnya, sounding ulang tahun sudah saya lakukan sejak bulan-bulan lalu. Biasanya kalau kalendar baru untuk tahun baru sudah datang di kantor, sudah langsung saya corat-coret nandain tanggal ultah saya. Ehemm.. nggak cuma kalendar saya, kalendar temen-temen kantor juga 😀

Selain bawain jajanan pasar segambreng, yang menunya sesuai pesanan mereka (ya, saya nanyain mereka mau apa..huahahhaa..) saya juga dapet kue! ihiiyyy…Dengan alasan nggak mau nyusahin temen buat mikir mau ngasih kado apa, biasanya saya langsung sebut kue apa yang saya mau dari hari-hari sebelumnya, hehehe… Tahun ini mintanya fruit cake. Dan saya dapet dari Bubu! yippiee.. dan temen-temen kantor lainnya bikin surprise ngasih pudding coklat yang enaaaakkk… Officially, today is cake day!

Teriakan teman-teman buat minta traktir makan-makan, tahun ini bisa saya jawab dengan mudah. “Kebetulan” ada yang ngundang makan hari ini. Undang makan se-departemen, makan buffet di Yuraku! Yeahh.. saya ditraktir di hari ulang tahun sekaligus bisa ngajakin teman-teman kantor. Serunya lagi, tadi waktu makan-makan ada acara doorprize. Guess what?! saya dapet doorprize dong.. How lucky I am!

Banyak keseruan lainnya, hadiah-hadiah manis dan kejutan menyenangkan yang saya dapatkan hari ini. Semuanya menyenangkan, karena mereka sangat sangat tahu apa yang buat saya bahagia. Full off laugh, full of love!

Ucapan-ucapan di facebook, twitter, sms, telpon emang nggak semua bisa dibales satu-satu.. tapi  saya aminkan. Semoga di-ijabah. Semoga selalu berkah untuk semua teman-teman saya. Terima kasih yaaaa 🙂

Alhamdulillah…

I am truly blessed.

“And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.”


 

Advertisements

Seru-seruan di awal Januari

Awal Januari ini sungguh seru.

Dimulai dengan memulai tahun baru di rumah. Formasi lengkap, mama, daddy dan ketigaadik saya. Moment yang sungguh langka.

Kembali ke Jakarta, mulai kerja di awal tahun. Jiwa saya semangat. Sayangnya fisik tidak mengikuti. Saya drop di hari pertama kerja. Kena thyphus ditambah usus buntu kronis. Walhasil dirawat 5 hari di rumah sakit.

Di hari ke-3, atasan saya di kantor bilang kalau minggu depannya (13-14) akan ada Planning Session di Novus Hotel, Puncak. Begitu dibilangin, saya semangat banget pengen cepet-cepet ke luar RS. Soalnya Planning Session kan artinya datang ke tempat baru. Dua tahun lalu saya pernah ikut planning session. Waktu itu masih anak baru. Kerjaan saya adalah dengerin orang-orang presentasi, makan, ngemil, foto-foto dan spa. Bener-bener disempet-sempetin buat main, padahal peserta lainnya pada serius nyiapin presentasi plan setahun ke dapan.

Nah, setelah berhari-hari di RS, tanggal 10 saya sudah masuk kerja meskipun masih agak lemes. Nggak betah di RS lama-lama.

Di sore harinya, atasan saya manggil buat meeting, dia bilang “Nanda, nanti kamu ikut Planning Session ya.. tapi buat kali ini ada persiapannya” Jedeeeengggg… ternyata disuruh presentasi dong! Langsung bingung waktu diminta nyiapin improvement plan. Topiknya belum pernah kepikiran dan yah.. waktunya 3 hari ajah.

Tapi, demi ikut jalan-jalan, saya mah semangat aja 😀

Dan presentasilah saya…

Planning Session kali ini jadwalnya padat banget.  Hari pertama dari jam 8-12 malem. hari kedua jam 7-7malem. Nggak ada cerita spa-spa-an. Makan pun nggak banyak karena habis sakit jadi nggak berani ngemil macem-macem. Tapi, teteplah saya sempetin poto-poto meski sedikit…

 

Setelah planning session, besoknya saya ke Bandung. Trus, kemarin saya tepar lagi. Kayaknya terlalu capek, ehh malah radang tenggorokan lagi. Walhasil 2 hari ini saya tak bersuara. Jadi, kecuali bisa dengar suara hati saya.. jangan ajak saya ngobrol dulu ya 😉

“Here we go” to Kawah Putih

Sabtu, 4 Desember lalu saya dengan 6 orang teman sekantor pergi ke Kawah Putih. Ini pertama kalinya saya datang ke sana. Selama perjalanan berulang kali saya ditanya “Udah sering ke sana?” dan jawabannya “belum pernah” Okelah.. setelah 4 tahun tinggal di Bandung saya baru pertama kali ke sana.

Perjalanan di mulai pukul 8 dari Jakarta, sampai bandung jam 11 dan terkena macet di daerah Kopo, Bandung. Kami baru sampai di Kawah Putih jam 2 siang. Enam jam dalam macet bukan perjalanan yang menyenangkan jika bepergian dengan teman-teman yang hanya mengeluh selama perjalanan.

Tapi, beruntungnya saya… Kami semua sangat menikmati perjalanan.  Ngobrol sana sini, mengkhayal ini itu, foto-foto, merencanakan weekend getaway selanjutnya dan end up dengan teriakan semangat “Here we Go!” walaupun mobil berjalan merayap huehehehe..

Setelah berjam-jam akhirnya kami sampai juga. Dengan tiket masuk IDR 15.000 per orang dan uang tiket masuk untuk 1 mobil IDR 150.000 kita bisa melewati gerbang masuknya (yaiyalah..). Dari gerbang masuk kita harus menempuh jalan berkelok-kelok lagi untuk sampai ke kawah.

Sampai di kawah putih hujan deras, total hanya 15 menit kami di sana. Kecewa? Enggak… Bersyukur  dapet foto ini..

Terutama foto ini, karena ada sayanya…(udah lama nggak dipotret :D). Dari ki-ka: Saya, Luhur, Leo, Ea, Yudi. Yang motretin Adel. Di foto kurang satu orang, Kang Arief, yang bersedia nungguin tas dan payung kita 😀

Dari Kawah putih, kita lanjut cari makan. Tujuannya Bandung. Awalnya mau ngopi-ngopi dulu, tapi Pak supir maunya makan steak. Ya kita nurut aja, daripada kita ditinggalin di tengah jalan hehhe.. Jadilah kita ke Suis Butcher steak yang ada di Jl Setiabudi. Steaknya enak, empuk dan harganya terjangkau. Dengan IDR 37.000 saya bisa dapat Tenderloin enak inih…

Well yeah, perjalanan ke Kawah Putih ini sangat menyenangkan. Terutama pergi dengan orang-orang yang selalu bersemangat dan nggak pernah mengeluh dengan segala badai yang menghadang di tengah jalan *apasih*.

Thanks  Leo, Luhur, Yudi, Ea, Adel, Kang Arief  🙂

“Never go on trips with anyone you do not love.”

~Ernest Hemingway

Next destination… Here We go!

 

Presence

Saya paling tak pandai mengucapkan “turut berduka cita”. Rasanya kalimat itu tidak akan berguna untuk orang yang sedang berduka. Ini memang personal opinion sih. Dulu, waktu saya pernah sangat berduka saya merasa nggak ada gunanya orang mengucapkan “Turut berduka cita”. Buat saya itu bohong, mereka tidak benar-benar berduka seperti apa yang saya rasakan. Oleh karenanyalah, saya jarang mengucapkan “turut berduka cita” pada orang-orang yang berduka.

Hari ini, saya dikagetkan oleh satu hal. Seseorang menyapa saya duluan, lalu tersenyum dan mengucapkan “Nanda, Thank you ya..”.

Saya sempat terdiam, dan saya hanya mengangguk sambil balas tersenyum.

Mungkin tidak ada yang aneh dengan sapaan. Tapi, kalau kamu mengenal orang ini, sapaan ditambah senyuman benar-benar sesuatu dengan probabilitas yang sangat kecil sekali. Itulah kenapa saya sempat terdiam.

Setelah dia berlalu, saya baru ingat. Jumat kemarin dia sedang berduka karena kehilangan orang yang saya pikir adalah orang yang dia sayang. Jumat kemarin saya dengan teman-teman datang ke rumah duka. Dia memang sedang tidak di tempat. Tapi, buku tamu yang saya isi mungkin “bercerita” padanya.

Saya baru sadar apa yang membuat dia mengucapkan terima kasih dengan bersahaja. Kehadiran. Iya, kehadiran di saat berduka berarti lebih daripada sekedar ucapan. Merelakan sedikit waktu untuk datang menunjukkan kalau memang “ikut” merasakan duka yang dialami.

In sorrow, we need their presence more than their presents.

Tak perlulah banyak kata, cukup datang dan diam.

***

*foto diambil dari rumah duka.

Famday lagi nih!

Di cerita saya tentang Family Day tahun kemaren, bisa dilihat betapa kemaruknya saya. Jadi panitia, jadi pengisi acara, dapat doorprize pula.

Tahun ini, saya nggak kemaruk kayak tahun kemaren. Saya nggak jadi panitia lagi, pengisi acara juga nggak. Berminat untuk main-main juga nggak.  Cuma dua dari sekian banyak wahana di Dufan yang saya naiki. Masih bawaan lemes karena sakit yang saya ceritain itu. Bahkan, sesi narsis juga nggak ada. Saya nggak punya dokumentasi foto saya di Famday tanggal 27 November ituh 😦

Lalu, apa kerjaan saya di acara seharian itu? Saya cuma bantuin sepupu dan teman-teman saya yang jadi pengisi acara. Mereka jadi dancer. Bantuinnya juga dikit-dikit, nabur-nabur glitter waktu persiapan, dan tentunya moto-motoin pas mereka nampil. Berharap sedikit foto jepretan saya bisa buat mereka seneng! Ini beberapa  fotonya…

Tapi, nggak kemaruk bukan berarti saya nggak dapat apa-apa. Jadi panitia enggak, jadi pengisi acara juga enggak, bukan berarti saya nggak dapet doorprize kan?;)

Yup! Alhamdulillah saya menang lagi! Dapet juicer, sama persis seperti yang saya inginkan beberapa waktu belakangan ini. Sama banget. Sangat sama dengan yang saya idam-idamkan selama ini! Selama ini saya tangguhkan karena saya lebih memilih untuk beli barang yang lebih penting. Rencananya, bulan Desember ini saya mau beli. Tapi, Allah kasih saya dengan cara yang berbeda. Allah Maha Baik yaaa… 🙂 🙂 🙂

Btw, ada cerita dibalik doorprize ini.

Jadi, sehari sebelumnya saya sudah bilang sama teman-teman “Do’ain ya.. mudah-mudahan besok menang dapet Juicer“. Terus, pas hari-H penarikan doorprize, saya nggak ada di tempat. Sibuk bantuin temen-temen dancer. Pas balik ke acara, manager HRD saya bilang.. “Nanda, dapet hadiah ya?” Saya cuma bengong lalu jawab kalau saya nggak tahu.

Trus Diana bilang kalau saya dapet Happy Call. Itu tuh si panci penggorengan ajaib itu.  Temen-temen yang lain bilang juga kalau saya dapet Happy Call. Saya seneng-seneng aja, la wong dapet gratis apa aja saya terima 🙂 Cuma hadiahnya nggak bisa diambil hari itu juga, harus tunggu hari senin.

Temen saya yang tau saya dapet penggorengan dan tahu saya pengennya juicer akhirnya bilang penggorengannya buat dia aja. Saya bilang, iya saya jual aja, saya mau beli juicer. Sabtu itu, kita nego harga sampe malem. Karena dia mau harga rendah yang saya tahu nggak cukup buat beli juicer idaman. Sudah hampir pagi akhirnya saya bilang “Entar lihat senin aja ya, saya juga nggak tahu dapet apa nggak, waktu diumumin saya nggak di tempat”. Negosiasi ditangguhkan.

Hari seninnya saya dapet kabar,  saya nggak dapet Happy Call seperti yang digosipin sebelumnya, tapi dapat hadiah Juicer! Wuiiihhh… langsung senengnya bukan main.

Temen saya itu jadinya gimana? Hari ini saya lihat dia sudah pesan langsung tuh si Happy Call-nya 😀 Yah, mungkin belum berjodoh sama saya untuk bertransaksi.

Jadi, kesimpulan dari Family Day kali ini apa?

“It is not how much we have, but how much we enjoy, that makes happiness.”

Charles H. Spurgeon

Child’s Smile

Kira-kira setahun lalu saya pernah menulis tentang bagaimana cara mengembalikan mood saya di tengah keruwetan yang dihadapi.

Saya lagi nggak dalam kondisi ruwet-ruwet banget kayak dulu. Ruwet sih, cuma alhamdulillah sudah bisa lebih tenang. Kerjaan memang nggak selalu mulus, tapi untungnya saya dikelilingi teman kantor yang menyenangkan, yang bisa diganggu kapan saja kalo lagi pengen ngelepasin unek-unek (yes, that’s you Diana 😉 ).

Hal yang paling jadi masalah sama saya sekarang adalah gimana caranya nurunin berat 4 kg dalam 1 bulan. Berhubung ini kompetisi dengan 2 orang teman saya, ya mau nggak mau saya harus menang. Bukan hadiah yang saya dapet yang saya pikirin, tapi ruginya kalau kalah harus ngeluarin duit yang cukup besar 😀 Kompetisinya baru jalan 1 minggu. Saya sudah mengubah pola makan. Hasilnya? Alih-alih turun berat, saya malah nambah 2 kg. Grrrr…. masih ada 3 minggu buat ngejar. Do’akan saya berhasil ya!!

Ada keruwetan-keruwetan kecil dalam hidup kita yang sering kita alami. Hal kecil yang bikin kesel, seperti orang yang menyela antrian makan siang padahal kita lagi laper-lapernya atau sesederhana orang yang tiba-tiba ngomel ke kita padahal kita nggak ada hubungannya atau mungkin tiba-tiba ngerasa nggak enak perasaan. Yap, tiba-tiba.. tanpa sebab yang kita tahu.

Kalau lagi ngerasa seperti itu, mau nggak mau kita mesti cari cara buat balikin mood. Setiap orang punya caranya masing-masing. Salah satu cara yang saya lakukan adalah lihat foto ini..

Yup, foto anak-anak kecil yang tersenyum. Jadi ceritanya saya waktu itu lagi foto-foto. Terus anak-anak ini lihat saya foto, mereka gangguin objek foto saya. Supaya mereka nggak ganggu, saya bilang saya akan foto mereka. Dan itulah hasilnya.

Saya suka anak kecil. Saya suka senyum. Foto di atas perpaduan dari keduanya. Anak kecil yang tersenyum.

Setiap kali saya lagi nggak mood, saya lihat foto itu dan saya jadi ingat keriangan mereka. Mood saya bisa balik lagi 🙂 Senang rasanya. Kebahagian itu bisa dengan mudah kita dapatkan, kalau kita tahu apa yang kita inginkan, apa yang kita suka. Memang tidak semua hal yang kita suka itu bisa kita dapatkan. Tapi, tentunya ada hal-hal sederhana dan mudah kita dapatkan yang bisa buat kita bahagia. Sesederhana mendaftar hal-hal kecil itu, lalu melakukannya di setiap mood lagi drop pasti bisa naikin mood lagi.

Happiness is conscious choice, not an automatic response

~Mildred Barthel

Mulai mendaftar hal-hal sederhana itu yuk…

Give chance to miss each other

Setelah seminggu ngoprek foto-foto buat referensi, diskusi sama partner soal konsep, tanya sana  sini, akhirnya hari minggu kemarin saya foto pre-wed juga. Ehem.. bukan saya yang dipotoin sih, tapi kali ini saya yang moto. Ihiy, seneng deh, kalo foto-foto nya ga sekedar foto iseng kayak selama ini. Ini fotonya setahap lebih serius dibanding biasanya 😉

Buat kali ini, saya foto bareng “partner kerja”, si calon pengantin, satu orang teman si calon pengantin  dan TarOshino.

TarOshino itu si Oshino dan soulmate-nya si Taro. Hmm.. belum sempet kenalin mereka personally ya?

Anyway, nggak cuma calon pengantin yang centil buat di foto, si TarOshino juga sempat ikut Photo session. Nih fotonya…

TarOshino nggak bosen kemarin ikut foto pre-wed nya. Mereka main balon warna-warni berbentuk apel, yang bikinnya susaaaahhh banget. Karena setelah ditiup, harus ditusuk-tusuk sedemikian rupa supaya berbentuk tangkainya. Tapi, balonnya jadi lucu kan??

Nggak cuma main balon, TarOshino juga ikutan basah-basahan karena kemarin sempet hujan turun. Sempet makan gulali, nyicip es potong sampe ikutan marahin anak kecil yang ngegangguin waktu kita lagi foto.

Marahin? enggak sih.. cuma saya omelin lalu diemin karena saya kesal. Jadi, waktu kita lagi ambil foto dan si calon pengantin udah dapet ekspresi yang pas (ngatur ekspresi nggak gampang looohhh..) tiba-tiba dateng segerombolan anak kecil yang minta properti yang dipakai waktu foto. Awalnya saya cuma bilang “Nanti dikasih ya Dek, minggir dulu”.

Diomongin sekali nggak nurut..

Dua kali masih enggak..

Tiga kali suara saya makin kenceng sampe saya ngomel-ngomel.

Tapi, tetep aja mereka nggak perduli. Dari gangguin si calon pengantin, sampe gangguin saya. Akhirnya, saya cuma diem, liatin tuh anak sampai dia akhirnya nunduk karena takut.

Fiuhhh.. anak-anak emang nggak pernah bisa nurut kalo kita bilangin sambil ngomel-ngomel. Ini juga yang menjawab kenapa Ibu-ibu yang sering banget marah-marah, anakanya biasanya tetep aja nakal. Udah nggak mempan!

Ahya, selain main-main TarOshino juga sempet nanya-nanya sama si calon pengantin gimana mereka ketemu. Ringkasnya, mereka memang berteman sejak lama dan mereka “ngeh” kalau ada rasa setelah mereka mau pisah.

Yayayaa…  Selalu saja merasa kalau seseorang itu penting ketika mau pisah. Somehow, saya merasa perpisahan itu penting. Jadi inget film Eat Pray Love, di salah satu scene  David bilang gini ke Elizabeth “you don’t even give me chance to miss you“. Seinget saya kondisinya saat itu adalah si David mulai bosan dengan hubungannya dengan Elizabeth, dan keduanya sadar kalau hubungannya nggak jalan. Karena setiap hari berdua dan menghabiskan waktu selalu sama-sama. Jadinya ya segala sesuatu nggak special lagi.

Give chance to miss each other, and you will realize how important to be with.

Setidaknya itu terbukti pada calon pengantin tadi. Setelah berpisah, hubungan mereka jadi makin baik. Mereka saling  memberi ruang dan waktu untuk menyadari kalau mereka saling membutuhkan. Ya, akhirnya paling tidak  mereka sudah merencanakan dengan sangat serius pernikahan mereka, setidaknya mereka sudah foto pre-wedding tho?