Lanjutan tentang Ipat

Waktu saya ceritakan soal Ipat, beberapa teman langsung bertanya “Lalu apa?”
Saya memang waktu itu baru sekedar sharing bahwa saya bertemu dengan Ipat. Yang dipikirkan di benak saya adalah “kita harus bantu”.

Untuk mulai membantu, paling tidak saya harus datang ke rumahnya untuk melihat kondisi keluarga yang sebenernya. Karena memang saat itu saya bertemu hanya sekilas lalu di jalan. Sayangnya, saya sangat sibuk belakangan. Branch visit ke luar kota dan beberapa hal tentang perubahan pekerjaan yang menghabiskan waktu saya di hari sabtu atau minggu. Agak terbengkalai memang. Jadilah saya baru sempat 2 kali datang ke rumahnya.

Tujuan saya pertama kali datang ke rumahnya adalah untuk mengetahui kondisi rumah dan lingkungannya. Daerahnya memang tidak jauh dari tempat tinggal saya. Ipat tinggal di daerah Warakas, Jakarta Utara. Terus terang agak kebingungan untuk mencari rumahnya. Saya harus melewati jalan ramai dan sempit untuk sampai di Jalan Warakas I. Setelah sampai di Jln, Warakas I pun kami harus bertanya kesana kemari. Akhirnya seseorang memberi petunjuk “rumahnya di belakang, lewat gang kecil yang di sana”. Kami ikuti jalan yang ditunjuk.

Gang yang dimaksud benar-benar kecil. Hanya jalan sangat sempit di antara dinding dua rumah. Melewatinya pun saya harus berjalan menyamping. Setelah bertanya sana sini, akhirnya saya menemukan rumahnya yang terletak persis di pinggir kali. Saya mengetuk dinding rumah yang sudah miring itu, lalu munculnya Pak Ecim, ayah Ipat.

Pertemuan pertama itu banyak membicarakan tentang usaha yang dilakukan ayah Ipat untuk mengobati penyakit anaknya itu. Sudah sempat dibawa ke RS Cipto bersama ketua RW, lalu terbentur biaya lab sebesar 1,5juta. Menurut Pak Ecim, biaya lab itu digunakan untuk tes kromosom sebelum Ipat dioperasi. Waktu saya tanya kenapa mengeluarkan biaya lagi karena setahu saya dia memiliki kartu Gakin, Pak Ecim menjawab “periksanya memang di Cipto, tapi lab nya itu di sebelah RS. Bagian swastanya, jadi harus bayar”.

Setelah cari tahu sana sini, info yang saya dapat adalah seharusnya pemilik kartu Gakin tidak dibebankan biaya apapun untuk pengobatan.

Setelah dapat info itu, saya datang lagi ke rumah Ipat untuk kedua kalinya. Saya tuliskan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar biaya operasi Ipat bisa di cover oleh pemerintah. Saya minta mereka menyiapkan semua surat-surat seperti fotokopi KK, KTP, surat keterangan dari RT/RW, dan surat pengantar dari Puskesmas.

Minggu ini rencananya saya akan datang lagi ke sana untuk cek semua kelengkapan. Jika sudah, selanjutnya harus ke RSCM untuk pendaftaran pengobatan. Jika sudah didaftar maka Ipat tinggal menunggu jadwal operasi.

Salah satu yang jadi kesulitan saya adalah pendaftaran harus mengikuti jadwal poliklinik, yaitu hari dan jam kerja. Sedangkan saya sendiri bekerja. Sebenarnya bisa saja Pak Ecim mendaftar sendiri ke sana. Tapi, pengalaman sebelumnya dia diarahkan ke jalur yang salah yang membuat dia harus membayar ini itu sehingga Pak Ecim batal untuk mengurus karena memang nggak ada uangnya. Info dari adik saya yang dokter, di rumah sakit memang banyak calo untuk pasien Gakin ini 😦 Oleh karenanya butuh pendampingan untuk mengurus ini itu.

Jadi, kalau ditanya “selanjutnya apa?” dan “apa yang bisa dibantu?” kira-kira begini urutannya:
1. Hari Sabtu 23 Juli saya akan memastikan ke Pak Ecim bahwa semua persyaratan terpenuhi. Silahkan kontak saya jika ingin ikut datang ke sana.
2. Mengurus pendaftaran ke RSCM –> kalau ada volunteer yang bisa menemani di hari kerja, please contact me.
3. Kalau memenuhi persyaratan bahwa dia bisa di cover full oleh pemerintah, berarti tinggal tunggu jadwal operasi.
4. Kalau tidak memenuhi persyaratan, Ipat hanya bisa di cover separuh biaya operasi (ini tergantung jenis kartu Gakin yang dimiliki Ipat), maka kita semua bisa sama-sama mengumpulkan uang untuk cover separuh biaya operasi. Selain mengumpulkan uang, bisa saja kita info lembaga atau yayasan yang kira-kira bisa bantu cover biayanya ini.

Pertanyaan yang muncul lagi mungkin “kalau di cover full, berarti kita nggak usah bantu apa-apa?”.
Kita bisa bantu biaya selama Ipat dirawat, yaitu biaya Pak Ecim dan istrinya saat menunggui Ipat, karena berarti Pak Ecim tidak bisa bekerja saat itu. Biaya transportasi untuk bolak-balik RSCM ke rumahnya juga bisa kita bantu.

Saat ini, sebagian teman sudah mengumpulkan uangnya ke saya, total uang Rp 1.050.000. Sebanyak Rp 200.000 sudah saya berikan ke Pak Ecim minggu lalu. Ini untuk biaya transportasi dia mengurus berbagai surat-surat persyaratan. Sebagian lagi akan segera saya salurkan.

Jadi, sekarang sudah ada gambaran kan ya tentang apa yang bisa kita bantu untuk Ipat ? Jika belum, feel free to contact me on inandatiaka[at]gmail.com

Senyum Ipat

Sabtu kemarin tidak banyak rencana yang harus saya kerjakan. Saya hanya punya jadwal berkunjung ke #perpuskreatif karena menemani seorang teman yang ingin mengadakan acara di sana.

Sudah lama saya tidak mengobrol dengan orang tua anak-anak di Sungai Bambu. Beberapa bulan belakangan yang sering saya temui hanyalah anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk bersilaturahmi ke rumah Manda, salah satu anak di sana.

Setelah ngobrol sebentar, perut terasa lapar. Saya beli nasi kuning untuk dimakan. Tak lama kemudian, seorang teman membawakan nasi ayam. Saya putuskan untuk makan 2 bungkus nasi itu bersama 5 anak yang kebetulan sedang main sama saya. Nikmat sekali, 2 bungkus dimakan ber 6 🙂 Serunya lagi kita harus saling membagi supaya cukup untuk berenam. Tak sedikit senyum dan tawa yang mengembang ketika kami saling membagi makanan.

Saat akan menyuap suapan terakhir, tiba-tiba seorang Ibu bersama seorang anak putri mendatangi saya. Lalu menyodorkan gambar ini.

“Mbak, mau nyumbang nggak? Buat operasi anak ini..”
Belum sempat saya menjawab, Ibu itu langsung membuka celana anak yang dia bawa bersamanya. Saya menoleh sekilas. Anak itu berkelamin ganda.

Saya tak langsung menyodorkan uang. Saya bertanya tentang anak ini. Sayangnya, Ibu yang membawa ini bukan orang tuanya. Dia hanya penduduk sekitar yang kebetulan juga tergerak untuk mencari bantuan. Lalu saya minta bertemu dengan ayahnya.

“Namanya Ipat, umurnya 5 tahun. Kata dokter dia kelebihan gen. Makanya badannya begini” kata Pak Ecim, ayah Ipat, sambil menunjukkan permukaan kulit Ipat yang hitam dan ditumbuhi bulu.

“Kemarin ada bantuan operasi dari stasiun televisi swasta, tapi operasinya baru separuh” lanjut Pak Ecim sambil menunjukkan parut bekas operasi di perut Ipat. “Saya sebenernya mau terusin operasi, tapi sudah dicoba pakai kartu GAKIN tapi tidak terlalu diperdulikan rumah sakit. Saya mau coba operasi sendiri, makanya cari bantuan keliling begini. Saya cuma pengen anak saya punya status yang jelas, dengan operasi kelamin”

Dari ceritanya, Pak Ecim berkeliling dari satu rumah ke rumah lain untuk mencari bantuan. Setiap kali berkeliling, Ipat diajak untuk sekalian ditunjukkan.

Sembari mengobrol, saya minta untuk foto Ipat sendirian. Sayangnya, Ipat tidak mau.  Saya coba bujuk, tapi dia akhirnya menangis.

Satu hal yang saya perhatikan, dia tidak sedikitpun menunjukkan senyum. Mukanya selalu menunduk jika bertemu orang baru. Terlebih lagi, karena ayahnya mengajak berkeliling, Ipat sering jadi tontonan orang banyak. Sepertinya, tak cuma secara fisik yang perlu diobati, secara psikologis Ipat juga butuh bantuan. Agar dia berani menegakkan kepala dan tersenyum menghadapi siapapun.

Ahh, siapa yang bisa bantu Ipat? Saya, kamu, atau kita?

Yaaa.. kita!

Terus terang, sampai sekarang saya juga belum tahu pasti penyakit apa yang diderita Ipat hingga seperti itu. Pengobatan seperti apa yang harus dia jalani juga saya belum tahu. Tapi, saya sangat mau melihat Ipat bisa sembuh dan kembali normal. Punya kulit yang mulus dan berkelamin tunggal. Saya yakin, akan lebih mudah bagi Ipat untuk tersenyum nantinya.

Jika kamu juga mau melihat senyum Ipat terukir di bibirnya, please do contact me at inandatiaka[at]gmail.

Kita lihat seberapa mampu kita untuk mengembangkan senyum di bibir Ipat.

“Let us always meet each other with smile, for the smile is the beginning of love.”