Air

There are things that  can only be erased by water.. Seperti cuaca di bulan Juli yang menjadi tanda tanya Seperti rasa hati yang tak kunjung menjadi nyata Seperti kamu yang tak kunjung ada Langit pun mencurah rasa Seperti rasa yang terkungkung Menyiramkan asa yang tak kunjung henti Biasanya dia diam beristirahat di bulan Juli Namun… Continue reading Air

The Button

…bahwa mood itu harusnya bisa diatur sendiri, asal kita tahu benar apa yang kita mau. Hampir dua jam Principilla duduk sambil memandangi layar laptop. Membuka halaman demi halaman web, membaca satu demi satu blog pribadi teman-teman dekatnya dan melihat foto apa saja yang dia anggap menarik. Di sela-sela kegiatannya itu, selalu saja ada satu kegiatan… Continue reading The Button

Jeda

Penunjuk waktu di sudut kanan laptop-ku menunjukkan angka 2.54. Biasanya pada waktu seperti ini kamu sudah terbangun dan mengirimkan pesan singkat padaku. Ngabsen. Begitu selalu katamu. Adzan subuh mungkin sudah berkumandang di sana, sedangkan di sini malam masih pekat. Bulan baru bergeser sedikit dari puncak kepala. “Lebih baik beda waktunya sekalian  dua belas jam Phy,”… Continue reading Jeda

Nanya dikit, boleh?

Pernah ada satu masa aku ingin menjadi seorang pelukis. Ketika melihat ada titik-titik bertebaran di atas kanvas yang putih bersih. Lalu entah bagaimana kau datang sambil membawa kuas dan banyak tube berisi cat air berwarna-warni. “Mari menciptakan garis bersama, siapa tahu jadi lukisan,” ajakmu. Dan aku mengikuti, menikmati olesan tangan-tangan itu mencipta garis demi garis.… Continue reading Nanya dikit, boleh?

The Intro

Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my friend. Ini kali ke empat saya datang dalam minggu ini dan sambutannya masih sama. Ratusan manusia yang mengantri di koridor berkapasitas 500 orang semakin terasa sempit. Awalnya aku ingin mengabadikan… Continue reading The Intro

Kebiasaan yang Biasa

Dari kejauhan aku memandang pria itu berdiri. Jarak kami dipisahkan oleh jalan raya berjalur empat. Sedikit dedaunan yang menjuntai dari pohon di tengah pembatas jalan menghalangi pandangan mata kami. Ketika pandangan mata kami berserobok, pria itu tersenyum. Dengan sendirinya, keningku berkerut. Senyum pria itu semakin mengembang, kali ini menunjukkan barisan gigi-giginya yang rapih. Melihat itu,… Continue reading Kebiasaan yang Biasa