Air

There are things that  can only be erased by water..

Seperti cuaca di bulan Juli yang menjadi tanda tanya

Seperti rasa hati yang tak kunjung menjadi nyata

Seperti kamu yang tak kunjung ada

Langit pun mencurah rasa

Seperti rasa yang terkungkung

Menyiramkan asa yang tak kunjung henti

Biasanya dia diam beristirahat di bulan Juli

Namun rela bekerja di hari-hari ini

Menyatu dengan rasa yang tak kunjung kemari

Seperti hujan di bulan juli yang menghantam kegersangan

Seperti air mata yang menghilangkan kekeringan

Seperti kamu yang mengisi kekosongan

Hujan, air mata, dan kamu adalah air…

mampu menghapus yang telah terlansir

The Button

…bahwa mood itu harusnya bisa diatur sendiri, asal kita tahu benar apa yang kita mau.

Hampir dua jam Principilla duduk sambil memandangi layar laptop. Membuka halaman demi halaman web, membaca satu demi satu blog pribadi teman-teman dekatnya dan melihat foto apa saja yang dia anggap menarik. Di sela-sela kegiatannya itu, selalu saja ada satu kegiatan yang tidak bisa dihilangkan. Memandangi layar yahoo messenger. Berharap satu nama muncul dan berubah status dari offline jadi online.

Lama kelamaan Phy bosan dengan kegiatannya itu. Menunggu. Siapa yang bisa bertahan menunggu tanpa kepastian? Dia juga tak tahu kapan nama itu akan muncul. Pun muncul, apakah dia akan menyapanya? Phy tak tahu…

Tak berapa lama, Phy mengganti status yahoo messanger-nya. “Where is the mood booster button?”. Dia menulis sesuai kata hatinya. Seakan memberi sinyal, bahwa dia sedang mencari-cari seseorang yang selalu sukses membuat mood nya berubah. Menjadi baik, atau setidaknya tidak sebosan saat ini.

Menit demi menit berlalu. Nama itu belum muncul juga. Phy semakin bosan menunggu. Akhirnya dia memutuskan untuk segera memutuskan koneksi internetnya, menutup laptop dan tidur.

Tak dinyana, sesaat  sebelum Phy mengeksekusi keinginannya ada sebuah pesan pop out di layar laptop-nya.

SeaSkySnow: Right in front of u… the mood booster

Selesai membaca, Phy tersenyum. Dia lagi, pikirnya. Phy tak langsung menanggapinya. Membalas dengan emoticon

PhyPrincess: 🙂

Tak berapa lama, dibalas lagi..

SeaSkySnow: Just spin the button at a clock wise

PhyPrincess: 🙂

Senyum Phy semakin melebar. Tak ada salahnya mengobrol dengan pria ini.

PhyPrincess: wish, that easy..

SeaSkySnow: Easy kok..

Menjadi penasaran, Phy berani melontarkan pertanyaan.

PhyPrincess: hihii.. gmn coba?

SeaSkySnow: Yee tinggal puter ajee knobnya

SeaSkySnow: 🙂

PhyPrincess: nah, si knob nya kagak ade,,

SeaSkySnow: Ada

SeaSkySnow: Lu nya aje ga perhatikan scr detail

PhyPrincess: kyknya button nya di push deh, bukan di spin

SeaSkySnow: Tuhkan…

PhyPrincess: apa?

SeaSkySnow: Wong model buttonnya kan beda!

PhyPrincess: hooo, makanya gw ga nemu yak?

SeaSkySnow: Nah tuh ngerti…

Pembicaraan dengan Pria ini semakin menarik. Setidaknya Phy menyadari, bahwa mood itu harusnya bisa diatur sendiri, asal kita tahu benar apa yang kita mau.

Tidak hanya tentang mood booster button, bahasan mengapa warna tombol di mesin itu merah atau kuning, dan sampai pula pada riset tentang biru sebagai warna tombol virtual yang sering dipakai di iPhone. Tak berhenti pada tombol, pembahasan berlanjut pada kancing yang juga diterjemaakan sebagai button di bahasa Inggris.  Dari pembahasan bahwa kancing ditemukan pada era 2800-2600 SM di Pedesaan Indus Kuno dan masa perunggu di Cina, pada tahun 2000-1500 SM, jenis-jenis kancing dan lainnya.

SeaSkySnow: Eh, baju lu berkancing nggak?

PhyPrincess: iya, kenapa?

SeaSkySnow: perhatiin deh, kancing nya pasti di sisi kiri, bukan kanan?

PhyPrincess: Ho oh, emang kenapa gitu?

SeaSkySnow: coba cari kemeja pria di sana,, ada nggak? Perhatiin kancingnya..

Tanpa menjawab, Phy langsung berlari ke ruang tempat Mbak Suti, pembantunya, biasa menyetrika baju. Mencari-cari sebentar kemeja ayahnya di antara banyak kemeja yang tergantung. Memperhatikan dengan seksama letak kancing, mengambil sehelai kemeja dan langsung kembali berlari ke kamarnya.

PhyPrincess: Di kanan, emang beda gitu ya?

SeaSkySnow: coba tebak kenapa beda?

PhyPrincess: ya bedain aja antara kemeja wanita dan pria.. emang apalagi?

SeaSkySnow: menurutmu, enakan mana kancing di kanan apa di kiri?

Phy mencoba-coba kancing bajunya. Lalu, dia coba kemeja sang ayah. Sesaat kemudian dia menyadari sesuatu.

PhyPrincess: iya, sepertinya aneh ada di kiri. Kenapa ya?

SeaSkySnow: ada sejarahnya.. jadi.. Jaman dulu tuh bangsawan wanita nggak ngancing baju sendiri, tapi dikancingkan oleh para ”pembantu” nya.. jadi, kancing wanita itu nggak di desain buat di kancing sendiri.

PhyPrincess: ohh gitu…

Phy manggut-manggut seolah pria di seberang sana bisa melihatnya

SeaSkySnow: Eh, aku off dulu ya.

PhyPrincess: hah?

SeaSkySnow: dagh

SeaSkySnow is now appear offline

Terbengong-bengong Phy menatapi layar monitor. Lagi-lagi pria ini datang dan pergi sesukanya. Tapi, memang toh kehadirannya tidak dia duga sebelumnya. Jadi, sebenarnya obrolan ringan tadi memang seharusnya dianggap angin lalu saja.

Selesai obrolan itu, Phy melirik lagi friend list yahoo messenger-nya, “masih belum ada..” desisnya.

Phy memencet tombol shutdown, menutup laptop dan mengakhiri penantiannya.

Setidaknya, untuk saat ini…

***

*Lagi nggak punya gambar yg jadi inspirasi, bikin cerita nggak pake gambar jadinya :p ada yang mau sumbang gambar button?

Jeda

Penunjuk waktu di sudut kanan laptop-ku menunjukkan angka 2.54. Biasanya pada waktu seperti ini kamu sudah terbangun dan mengirimkan pesan singkat padaku. Ngabsen. Begitu selalu katamu. Adzan subuh mungkin sudah berkumandang di sana, sedangkan di sini malam masih pekat. Bulan baru bergeser sedikit dari puncak kepala.

“Lebih baik beda waktunya sekalian  dua belas jam Phy,” katamu sambil menghela nafas, “kalau dua jam begini serba salah..”

“Kenapa?” ujarku tak mengerti.

“Kalau dua belas jam, ya di sini malam, di sana siang, tapi kan misalnya sama-sama jam 6, waktunya kita masih sama-sama mungkin ngobrol, bisa di tolerir”, begitu katamu, “kalau dua jam, waktu kamu masih seger, akunya udah capek”

Sesaat setelah mengingat kata-katanya, seorang teman menyapaku di dunia maya.

“Hei Phy,,” sapaan ringan, tapi membawa kami pada percakapan panjang. Bercerita tentang hari-hari yang sudah dilalui masing-masing. Tentang kegelisahannya pada pencarian yang panjang. Tentang kebingunganku pada pilihan. Sampai akhirnya terputus oleh ucapannya, “Phy, udah dulu ya. Sore ini aku mau ketemu dosen. Nanti kapan-kapan kita sambung”

Lihatlah… dia berada di belahan dunia yang berseberangan denganku. Dua belas jam bedanya. Kamu benar, aku bisa berbagi cerita dengannya, di pagi seperti ini di kala tetanggaku masih lelap tidur.

Tapi, tahukah kamu apa artinya dua belas jam itu?

Bagiku dua belas jam sama dengan pukul delapan pagi di saat aku tergesa bersiap beraktivitas, dan kamu yang bersiap istirahat.

Dua belas jam itu berarti pencapaian perjalanan dengan waktu tempuh dua puluh jam.

Dua belas jam itu seharga seratus dua puluh lembaran sepuluh dollar.

Dan terkadang, dua belas jam itu berarti dua detik jeda saat kita berbicara melalui skype.

Silahkan.. silahkan kamu menghitung.. aku cukup saja membayangkan apa yang ada di depanku saat ini.

Jadi, tak masalah bagiku untuk jeda dua jam.

Seperti pagi-pagi kemarin aku bersedia bangun saat ayam belum berkokok. Menunggu empat jam untuk bertemu bukan hal yang sulit. Juga tak perlulah kita membuang ribuan dollar, cukuplah memutarkan lembaran rupiah di negeri sendiri. Dan, tanpa jeda tentunya, saat kita bercerita.

“Hei, jangan nangis lagi..” suaramu mengagetkanku kala itu.

Aku berbalik, tersenyum saja melihat kamu dengan tampilan yang tampak berbeda. “Ready to go?”

All my bags are packed..” kamu menjawab sambil menyenandungkan lagu Leaving on a Jetplane.

“Good..” jawabku pendek.

“Kamu siap ditinggal?” raut mukamu berubah serius.

Aku terbahak. Mengisi kebingungan dengan mengambil ice chocolate, dan meminum sedikit-sedikit. “Yuk ngobrolin yang lain..” kuputuskan untuk mengalihkan pertanyaannya, lalu  mengalirlah cerita yang panjang. Tentang rencana kepergian yang tergesa dan persiapan singkat membuat banyak kejadian menarik yang bisa kamu bagi.

Sampai pada satu waktu, cerita rasanya habis dibagi. Seluruh tawa rasanya sudah terurai. Ada jeda yang kupikir tak mencapai satu menit. Tapi, jeda itu terasa lama. Lagi-lagi jeda ini kami isi dengan meneyeruput sedikit-sedikit ice chocolate yang terhidang.

“Haha..” kamu tertawa, “rasanya pengen ada remote control deh, yang bisa berhentiin waktu sekarang.. “

Aku mengerti maksudmu. “Sekalian punya kantong ajaib doraemon ajah, punya baling-baling bambu.. pintu ke mana saja..” dan akhirnya pernyataanmu tersirat itu tenggelam di khayalan kita pada boneka robot negeri sakura.

Kali ini bukan waktunya kita membahas kesedihan perpisahan. Jika, besok tak ada, apakah kita akan menghabiskannya dengan tangis dan keluh kesah?

Bagiku tidak..

For if tomorrow never comes, you’ll surely regret the day, that you didn’t take that extra time for a smile, a hug or a kiss and you were too busy to grant someone, what turned out to be their one last wish.

Dan ya, aku lebih memilih hari itu diisi dengan cerita, tawa dan gembira.  Tidak merutuk karena jeda yang tercipta. Hingga jika besok tak ada, bukan penyesalan yang jadi memori. Tapi, cerita indah yang terekam.

***