Air

There are things that  can only be erased by water..

Seperti cuaca di bulan Juli yang menjadi tanda tanya

Seperti rasa hati yang tak kunjung menjadi nyata

Seperti kamu yang tak kunjung ada

Langit pun mencurah rasa

Seperti rasa yang terkungkung

Menyiramkan asa yang tak kunjung henti

Biasanya dia diam beristirahat di bulan Juli

Namun rela bekerja di hari-hari ini

Menyatu dengan rasa yang tak kunjung kemari

Seperti hujan di bulan juli yang menghantam kegersangan

Seperti air mata yang menghilangkan kekeringan

Seperti kamu yang mengisi kekosongan

Hujan, air mata, dan kamu adalah air…

mampu menghapus yang telah terlansir

Advertisements

The Button

…bahwa mood itu harusnya bisa diatur sendiri, asal kita tahu benar apa yang kita mau.

Hampir dua jam Principilla duduk sambil memandangi layar laptop. Membuka halaman demi halaman web, membaca satu demi satu blog pribadi teman-teman dekatnya dan melihat foto apa saja yang dia anggap menarik. Di sela-sela kegiatannya itu, selalu saja ada satu kegiatan yang tidak bisa dihilangkan. Memandangi layar yahoo messenger. Berharap satu nama muncul dan berubah status dari offline jadi online.

Lama kelamaan Phy bosan dengan kegiatannya itu. Menunggu. Siapa yang bisa bertahan menunggu tanpa kepastian? Dia juga tak tahu kapan nama itu akan muncul. Pun muncul, apakah dia akan menyapanya? Phy tak tahu…

Tak berapa lama, Phy mengganti status yahoo messanger-nya. “Where is the mood booster button?”. Dia menulis sesuai kata hatinya. Seakan memberi sinyal, bahwa dia sedang mencari-cari seseorang yang selalu sukses membuat mood nya berubah. Menjadi baik, atau setidaknya tidak sebosan saat ini.

Menit demi menit berlalu. Nama itu belum muncul juga. Phy semakin bosan menunggu. Akhirnya dia memutuskan untuk segera memutuskan koneksi internetnya, menutup laptop dan tidur.

Tak dinyana, sesaat  sebelum Phy mengeksekusi keinginannya ada sebuah pesan pop out di layar laptop-nya.

SeaSkySnow: Right in front of u… the mood booster

Selesai membaca, Phy tersenyum. Dia lagi, pikirnya. Phy tak langsung menanggapinya. Membalas dengan emoticon

PhyPrincess: 🙂

Tak berapa lama, dibalas lagi..

SeaSkySnow: Just spin the button at a clock wise

PhyPrincess: 🙂

Senyum Phy semakin melebar. Tak ada salahnya mengobrol dengan pria ini.

PhyPrincess: wish, that easy..

SeaSkySnow: Easy kok..

Menjadi penasaran, Phy berani melontarkan pertanyaan.

PhyPrincess: hihii.. gmn coba?

SeaSkySnow: Yee tinggal puter ajee knobnya

SeaSkySnow: 🙂

PhyPrincess: nah, si knob nya kagak ade,,

SeaSkySnow: Ada

SeaSkySnow: Lu nya aje ga perhatikan scr detail

PhyPrincess: kyknya button nya di push deh, bukan di spin

SeaSkySnow: Tuhkan…

PhyPrincess: apa?

SeaSkySnow: Wong model buttonnya kan beda!

PhyPrincess: hooo, makanya gw ga nemu yak?

SeaSkySnow: Nah tuh ngerti…

Pembicaraan dengan Pria ini semakin menarik. Setidaknya Phy menyadari, bahwa mood itu harusnya bisa diatur sendiri, asal kita tahu benar apa yang kita mau.

Tidak hanya tentang mood booster button, bahasan mengapa warna tombol di mesin itu merah atau kuning, dan sampai pula pada riset tentang biru sebagai warna tombol virtual yang sering dipakai di iPhone. Tak berhenti pada tombol, pembahasan berlanjut pada kancing yang juga diterjemaakan sebagai button di bahasa Inggris.  Dari pembahasan bahwa kancing ditemukan pada era 2800-2600 SM di Pedesaan Indus Kuno dan masa perunggu di Cina, pada tahun 2000-1500 SM, jenis-jenis kancing dan lainnya.

SeaSkySnow: Eh, baju lu berkancing nggak?

PhyPrincess: iya, kenapa?

SeaSkySnow: perhatiin deh, kancing nya pasti di sisi kiri, bukan kanan?

PhyPrincess: Ho oh, emang kenapa gitu?

SeaSkySnow: coba cari kemeja pria di sana,, ada nggak? Perhatiin kancingnya..

Tanpa menjawab, Phy langsung berlari ke ruang tempat Mbak Suti, pembantunya, biasa menyetrika baju. Mencari-cari sebentar kemeja ayahnya di antara banyak kemeja yang tergantung. Memperhatikan dengan seksama letak kancing, mengambil sehelai kemeja dan langsung kembali berlari ke kamarnya.

PhyPrincess: Di kanan, emang beda gitu ya?

SeaSkySnow: coba tebak kenapa beda?

PhyPrincess: ya bedain aja antara kemeja wanita dan pria.. emang apalagi?

SeaSkySnow: menurutmu, enakan mana kancing di kanan apa di kiri?

Phy mencoba-coba kancing bajunya. Lalu, dia coba kemeja sang ayah. Sesaat kemudian dia menyadari sesuatu.

PhyPrincess: iya, sepertinya aneh ada di kiri. Kenapa ya?

SeaSkySnow: ada sejarahnya.. jadi.. Jaman dulu tuh bangsawan wanita nggak ngancing baju sendiri, tapi dikancingkan oleh para ”pembantu” nya.. jadi, kancing wanita itu nggak di desain buat di kancing sendiri.

PhyPrincess: ohh gitu…

Phy manggut-manggut seolah pria di seberang sana bisa melihatnya

SeaSkySnow: Eh, aku off dulu ya.

PhyPrincess: hah?

SeaSkySnow: dagh

SeaSkySnow is now appear offline

Terbengong-bengong Phy menatapi layar monitor. Lagi-lagi pria ini datang dan pergi sesukanya. Tapi, memang toh kehadirannya tidak dia duga sebelumnya. Jadi, sebenarnya obrolan ringan tadi memang seharusnya dianggap angin lalu saja.

Selesai obrolan itu, Phy melirik lagi friend list yahoo messenger-nya, “masih belum ada..” desisnya.

Phy memencet tombol shutdown, menutup laptop dan mengakhiri penantiannya.

Setidaknya, untuk saat ini…

***

*Lagi nggak punya gambar yg jadi inspirasi, bikin cerita nggak pake gambar jadinya :p ada yang mau sumbang gambar button?

Jeda

Penunjuk waktu di sudut kanan laptop-ku menunjukkan angka 2.54. Biasanya pada waktu seperti ini kamu sudah terbangun dan mengirimkan pesan singkat padaku. Ngabsen. Begitu selalu katamu. Adzan subuh mungkin sudah berkumandang di sana, sedangkan di sini malam masih pekat. Bulan baru bergeser sedikit dari puncak kepala.

“Lebih baik beda waktunya sekalian  dua belas jam Phy,” katamu sambil menghela nafas, “kalau dua jam begini serba salah..”

“Kenapa?” ujarku tak mengerti.

“Kalau dua belas jam, ya di sini malam, di sana siang, tapi kan misalnya sama-sama jam 6, waktunya kita masih sama-sama mungkin ngobrol, bisa di tolerir”, begitu katamu, “kalau dua jam, waktu kamu masih seger, akunya udah capek”

Sesaat setelah mengingat kata-katanya, seorang teman menyapaku di dunia maya.

“Hei Phy,,” sapaan ringan, tapi membawa kami pada percakapan panjang. Bercerita tentang hari-hari yang sudah dilalui masing-masing. Tentang kegelisahannya pada pencarian yang panjang. Tentang kebingunganku pada pilihan. Sampai akhirnya terputus oleh ucapannya, “Phy, udah dulu ya. Sore ini aku mau ketemu dosen. Nanti kapan-kapan kita sambung”

Lihatlah… dia berada di belahan dunia yang berseberangan denganku. Dua belas jam bedanya. Kamu benar, aku bisa berbagi cerita dengannya, di pagi seperti ini di kala tetanggaku masih lelap tidur.

Tapi, tahukah kamu apa artinya dua belas jam itu?

Bagiku dua belas jam sama dengan pukul delapan pagi di saat aku tergesa bersiap beraktivitas, dan kamu yang bersiap istirahat.

Dua belas jam itu berarti pencapaian perjalanan dengan waktu tempuh dua puluh jam.

Dua belas jam itu seharga seratus dua puluh lembaran sepuluh dollar.

Dan terkadang, dua belas jam itu berarti dua detik jeda saat kita berbicara melalui skype.

Silahkan.. silahkan kamu menghitung.. aku cukup saja membayangkan apa yang ada di depanku saat ini.

Jadi, tak masalah bagiku untuk jeda dua jam.

Seperti pagi-pagi kemarin aku bersedia bangun saat ayam belum berkokok. Menunggu empat jam untuk bertemu bukan hal yang sulit. Juga tak perlulah kita membuang ribuan dollar, cukuplah memutarkan lembaran rupiah di negeri sendiri. Dan, tanpa jeda tentunya, saat kita bercerita.

“Hei, jangan nangis lagi..” suaramu mengagetkanku kala itu.

Aku berbalik, tersenyum saja melihat kamu dengan tampilan yang tampak berbeda. “Ready to go?”

All my bags are packed..” kamu menjawab sambil menyenandungkan lagu Leaving on a Jetplane.

“Good..” jawabku pendek.

“Kamu siap ditinggal?” raut mukamu berubah serius.

Aku terbahak. Mengisi kebingungan dengan mengambil ice chocolate, dan meminum sedikit-sedikit. “Yuk ngobrolin yang lain..” kuputuskan untuk mengalihkan pertanyaannya, lalu  mengalirlah cerita yang panjang. Tentang rencana kepergian yang tergesa dan persiapan singkat membuat banyak kejadian menarik yang bisa kamu bagi.

Sampai pada satu waktu, cerita rasanya habis dibagi. Seluruh tawa rasanya sudah terurai. Ada jeda yang kupikir tak mencapai satu menit. Tapi, jeda itu terasa lama. Lagi-lagi jeda ini kami isi dengan meneyeruput sedikit-sedikit ice chocolate yang terhidang.

“Haha..” kamu tertawa, “rasanya pengen ada remote control deh, yang bisa berhentiin waktu sekarang.. “

Aku mengerti maksudmu. “Sekalian punya kantong ajaib doraemon ajah, punya baling-baling bambu.. pintu ke mana saja..” dan akhirnya pernyataanmu tersirat itu tenggelam di khayalan kita pada boneka robot negeri sakura.

Kali ini bukan waktunya kita membahas kesedihan perpisahan. Jika, besok tak ada, apakah kita akan menghabiskannya dengan tangis dan keluh kesah?

Bagiku tidak..

For if tomorrow never comes, you’ll surely regret the day, that you didn’t take that extra time for a smile, a hug or a kiss and you were too busy to grant someone, what turned out to be their one last wish.

Dan ya, aku lebih memilih hari itu diisi dengan cerita, tawa dan gembira.  Tidak merutuk karena jeda yang tercipta. Hingga jika besok tak ada, bukan penyesalan yang jadi memori. Tapi, cerita indah yang terekam.

***

Nanya dikit, boleh?

Pernah ada satu masa aku ingin menjadi seorang pelukis. Ketika melihat ada titik-titik bertebaran di atas kanvas yang putih bersih. Lalu entah bagaimana kau datang sambil membawa kuas dan banyak tube berisi cat air berwarna-warni. “Mari menciptakan garis bersama, siapa tahu jadi lukisan,” ajakmu. Dan aku mengikuti, menikmati olesan tangan-tangan itu mencipta garis demi garis.

Di masa lain aku ingin menjadi penyanyi. Mengimbangi alunan gitar yang kau petik malam demi malam saat menghitung bintang. “Baiknya kau yang bernyanyi, agar ku tak lelah minta ditemani bintang-bintang yang membisu,” pintamu. Lagi-lagi aku menuruti, mendendangkan bait demi bait.

Kemudian datang waktuku ingin menjadi penulis. Inilah saatnya aku ingin merekam semua momen sedih dan senang yang pernah kita lalui. Agar ingatanku yang buruk ini tak lagi menjadi pengganggu saat ingin kuceritakan pada semua orang betapa bahagianya aku mengenalmu.

Ada lagi masaku ingin menjadi penari, penyair, penggubah.. dan lainnya..

Lalu sekarang, aku ingin menjadi pembuat arloji. Ya, Arloji!

Arloji yang akan dipakai di seluruh dunia. Tak kusalahkan waktu yang tak bisa berhenti barang sejenak. Bahwa arloji sebagai penunjuk waktu itulah yang akan kusamakan di seluruh dunia. Mauku cuma sedikit, hanya ingin membagi detik-detik itu dengan porsi yang kuinginkan. Memperlambat ukuran detik ketika bersamamu, dan mempercepat ketika tak sedang bersamamu..

Bolehkan?

***

Ps: Pemanasan dikiiiit untuk PictFiction selanjutnya 😉

The Intro

Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my friend.

Ini kali ke empat saya datang dalam minggu ini dan sambutannya masih sama. Ratusan manusia yang mengantri di koridor berkapasitas 500 orang semakin terasa sempit. Awalnya aku ingin mengabadikan banyak moment perjalananku menggunakan Bus yang mulai beroperasi 15 Januari 2004 ini. Tapi kuurungkan niatku melihat limpahan manusia yang entah dari mana datangnya berkumpul di tempat ini.

Shelter Harmoni Transjakarta, dan aku tak punya pilihan lain selain mengantri. Keluar dari tempat ini dan mencari taksi bukanlah solusi. Hanya akan menambah kemacetan di ruas-ruas jalan ibukota. Aku juga tak diburu waktu.

Mempunyai tubuh dengan ukuran tinggi yang lebih dari rata-rata pria Indonesia lainnya terkadang terasa menguntungkan. Seperti sore ini, aku bisa leluasa memandangi satu persatu kesibukan masing-masing orang yang ada di sini.

Pekerjaan mereka sama, pengantri. Tapi cara mereka melakukannya berbeda-beda. Bapak yang berdiri di sudut sana sibuk membenahi ransel membelendung yang tersampir di pundak, terlihat ketidaknyamanan yang amat sangat di wajahnya. Mungkin ranselnya sudah kelebihan beban. Ibu-ibu berpakaian safari cokelat yang kutaksir umurnya empat puluh lima tahun, sedang terdiam termangu. Aku menebak bahwa dia sedang bingung memikirkan makanan apa yang harus disuguhkan ke suaminya malam nanti. Seorang laki-laki remaja berkaus biru, berkacamata berbingkai tebal, sibuk memainkan jari jemarinya di atas tuts blackberry bersarung biru yang senada dengan warna bajunya. Sesekali dia tersenyum. Entah siapa yang diajaknya bicara di seberang sana, tapi caranya menghabiskan waktu sepertinya pilihan yang tepat. Ada pasangan muda-mudi yang sibuk bercengkrama, serasa dunia milik berdua. Antrian yang semakin merapat tak membuat mereka gusar seperti kebanyakan orang di sini, bagi mereka ini menjadi momen yang menyenangkan.

Kusapukan pandanganku lagi ke satu demi satu wajah yang ada di antrian. Kurang lebih tampak sama. Kelelahan dan bosan seperti menempel di raut muka mereka. Kota berpenduduk delapan juta lima ratus dua puluh tiga ribu delapan ratus tiga puluh enam orang ini telah berhasil mengerutkan muka-muka mereka lebih cepat melalui kerapatan dan kemacetannya. Yah, siapa suruh datang Jakarta?

Pandanganku tiba-tiba berhenti pada seorang perempuan yang mengantri tak jauh dariku. Tak seperti yang lain yang mengguratkan keletihan di wajah, perempuan ini masih terlihat segar di sore yang panas. Mukanya sumringah. Garis bibirnya yang sedikit tertarik ke atas membuatnya menarik untuk diperhatikan. Ransel yang dibawa digantungkan di bagian depan tubuhnya. Mengantisipasi tangan usil yang mungkin berminat membuka-buka ransel merahnya. Wajahnya menunduk, pandangannya melekat ke baris-baris tulisan di buku yang dipegangnya sedari tadi. Buku yang sama yang kulihat tiga hari lalu saat pertama kali aku mengamati perempuan ini. Ya, ini kali ke empat! Bedanya, kali ini bagian tumpukkan halaman buku yang dipegang dengan tangan kiri lebih banyak dari tangan kanannya. Belum lama aku menatapnya, tiba-tiba antrian bergerak penanda bahwa ada satu bus yang siap mengangkut kami. Aku memfokuskan pandanganku ke depan.

“Perhatikan langkahnya.. perhatikan.. jangan dorong-dorong”, kata-kata itu meluncur dari Bapak yang menjaga pintu Bus Transjakarta. Perannya mungkin kurang lebih sama dengan kenek di Bus Kota lainnya. Aku mengikuti sarannya, bukan hanya untukku tapi untuk orang-orang yang ada di sini juga. Kalau aku terjatuh, maka akan menyulitkan orang lain yang harus membopong, lalu jalan bus akan terhambat, dan Ibu bersafari cokelat tadi bisa terlambat memasak untuk suaminya.

Namun, aliran manusia itu seperti tak sabar. Bahkan, tak perlulah aku bergerak melangkah, cukuplah menyeret-nyeret langkah dan sekarang aku sudah berada di dalam bus.

Setelah pintu tertutup rapat, aku memegang gantungan tangan yang berada di atas kepala. Lagi-lagi keuntungan berperawakan tinggi, aku tak terlalu sulit menjangkau pegangan tangan, dan tentunya tidak terasa pegal jika harus berlama-lama. Sekelilingku sudah penuh manusia, berdiri merapat. Bahkan kupikir, tubuh-tubuh kami bisa saling menumpu sehingga tak perlu berpegangan pada gantungan di atas.

Posisiku ada di tengah-tengah badan bus. Sejajar di kanan kiri adalah pintu. Posisi yang cukup menguntungkan, jika akan ke luar nantinya akan lebih mudah menerobos tumpukkan manusia di sini. Aku menolehkan pandangan ke kiri. Perempuan dengan buku di tangannya itu seperti bergeming, masih sama posisinya seperti sebelum memasuki bus. Ia bahkan tak berpegangan tangan. Tubuhnya sebagian tertumpu pada pintu dan dia terlihat sekali pandai menjaga keseimbangan hingga tak perlu menempelkan tubuhnya pada orang lain. Ranselnya seakan membantu menjaga jarak dengan sekitarnya.

Perempuan ini sepertinya memiliki dunianya sendiri.

Dia menabir sekelilingnya dengan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Dia bahkan tak terganggu dengan keluhan sekelilingnya.

Aku menerobos pandangan ke arah kaca pintu di belakang perempuan itu. Busway ini bergerak lambat. Tapi, antrian kendaraan di luar jalur busway bahkan tak bergerak. Langit memang mengucurkan air ke bumi. Tapi, seperti hal yang telah menjadi biasa, Jakarta pasti akan macet lebih parah ketika hujan turun. Mungkinkah dua koma satu juta unit kendaraan di Jakarta ini ditumpahkan semua ke jalanan oleh pemiliknya?

Jarak dari halte yang terletak di atas sungai ciliwung sampai dengan halte bendungan hilir memang tak terlalu jauh. Belum sempat mengamat-amati lebih lama perempuan dengan dunianya sendiri itu, halte tujuanku sudah di depan mata. Begitu pintu terbuka, aku bergegas berjalan keluar menerobos tumpukkan manusia yang masih berdiri pasrah di dalam bus. Bergantian saat aku ke luar, ada seorang pria berperawakan kecil, bertopi abu-abu yang sudah lusuh namun membawa tas yang seakan lebih besar dari ukuran badannya. Saat bersisian dengannya, jaket yang kupakai tersangkut dengan tali yang menjuntai dari salah satu bagian tasnya yang besar. Butuh beberapa detik untuk melepaskan kaitan. Setelah selesai, pria itu hanya menunduk santun pertanda minta maaf. Aku hanya tersenyum membalas, seakan mengatakan “Nggak apa kok, Pak”.

Aku melanjutkan perjalanan. Saat melewati portal ke luar halte, aku melihat sosok perempuan berransel merah tadi, sedang berjalan sembari memasukkan buku yang dibacanya ke ransel. Lalu ia memindahkan beban ransel dari depan tubuh ke punggungnya. Ia berjalan cepat, sedang aku masih dengan kecepatan yang rendah sehingga aku tak bisa menyusulnya.

Air masih bercucuran dari langit. Tak deras tapi bukan gerimis. Tapi warna langit yang abu-abu membuat suasana bernuansa jadi kelabu. Sampai di ujung halte, aku sudah tak melihat perempuan itu lagi, mungkin karena aku terlalu lambat atau karena sibuk memandangi Langit. Yah, apapun namanya, Langit selalu menarik bagiku.

Kukembangkan payung yang kubawa. Meski tak deras, bukan berarti aku mau diguyur oleh air begitu saja. Baru jalan beberapa langkah, aku melihat lagi perempuan itu. Berjalan hati-hati, mencari bagian trotoar yang tak tersiram hujan. Sesekali dia harus melalui tempat tak beratap, hingga ia harus menyampirkan tangan di kepala, sedikit mengurangi risiko pusing barangkali. Aku biarkan saja, masih mengamatinya dari tempat yang aman.

Ada beberapa detik saat perempuan itu terdiam. Kukira-kira alasannya. Kutebak, karena jalan di depannya tak ada lagi yang beratap. Rindangnya pepohon tak juga membantu, toh air masih mengucur di sela-sela dedaunan. Tak kusangka, dia terus saja melanjutkan perjalanan.

Kusigapkan jalanku mengejarnya. Payung yang kubawa cukup besar untuk berbagi. Langkah kakiku pasti bisa menyusulnya, toh dia berjalan dengan kecepatan rendah, berhati-hati tak terpeleset.

Tepat di belakangnya, kusorongkan payung ke arahnya sedikit, cukup untuk melindungi dia dari hujan. Ada beberapa waktu dia tak menyadari bahwa dirinya kini tak tersiram hujan. Dia juga tak menyadari aku yang ada di belakangnya. Sampai pada akhirnya aku tak bisa mengimbangi langkahnya yang pendek-pendek, dan kakiku sedikit menyentuh kakinya. Dia berhenti berjalan. Saat dia diam aku hampir menabrak dirinya, untungnya masih bisa kukuasai tubuhku.

Dia menoleh, mengamatiku, menilai dan mengernyit sebentar seakan berkata “Mau apa kamu?”

Sebelum dia membuka mulut, aku duluan berkata, “kamu kehujanan, payungku cukup lebar. Aku mau ke arah sana” tunjukku ke satu arah,”sekalian saja” kataku antara perduli dan tidak.

Dia mengamatiku cepat, dari atas ke bawah.

“Baiklah”, katanya dengan muka datar, “Berjalan di sampingku, jangan di belakang, atau di depan”.

Bagiku, kata-katanya lebih dari sekedar jawaban “boleh”, tapi lebih menyiratkan ajakan perteman.

Sejak itu, kami selalu berjalan bersisian.

***

Picture taken by me.

Sandal Jepit

Saat jatuh cinta, yang dibayangin dia terus. Kita ngelihat apa-apa berasa ngelihat mukanya dia.

Raisha datang menghampiri, duduk di kursi yang ada di sampingku, lalu langsung menarik selembar kertas putih di atas meja, yang sedari tadi kucoret-coret. Aku menggeser tanganku yang menimpa kertas itu agar Raisha bisa mengambilnya tanpa harus terobek.

I don’t mind to freeze, if it’s the only way to feel the warm..” Raisha membaca keras-keras tulisan yang dia lihat, “eh, ini apaan si Phy? Tulisannya nggak nyambung begini?” Raisha mengalihkan pandangannya dari kertas ke diriku.

Aku hanya menoleh sekilas “Itu.. si Zen yang minta aku bikinin story buat iklannya dia,” kataku sambil  meneruskan mencoret-coret kertas yang lain.

Story? Buat apa? Lagian ini maksudnya apaan sih?” Raisha masih tak mengerti.

“Sekarang Zen produksi sandal juga, dia mau bikin iklan, tapi yang ada story-nya..”

“Iklan? Loh, trus maksud tulisan ini apa?” Raisha menyodorkan kertas yang dipegangnya ke hadapanku.

“Duuh, si eneng.. dengerin dulu dong penjelasannya, jangan langsung apah-apah begitu,” kataku sambil mengambil kertas itu, dan menyodorkan kertas yang lain padanya, ”nih, lihat gambarnya..”

Raisha memperhatikan gambar di atas kertas tadi. Dua pasang sandal jepit masing-masing  berwarna merah dan biru terpampang di sana. Hamparan pasir sedikit menutupi sandal-sandal yang menginjak tumpukkan pasir lainnya.

“Umm.. okay.. aku nggak ngerti..” terlihat kebingungan dari raut wajah Raisha. Matanya masih tak beranjak dari gambar yang kusodorkan, “coba jelasin..” suaranya lebih mirip perintah ketimbang pertanyaan.

“Jadi..” ucapku memulai penjelasan,” Ini kan pasir tuh..” kataku sambil menunjuk ke arah gambar. “ini menandai kalau lokasinya ada di pantai. Kalau di pantai kan seringnya dingin karena angin yang bertiup terus-terusan.. nah, kalau kaki kamu dibenamkan di dalam pasir, kakimu jadi hangat. Jadi, untuk mencapai kehangatan itu, ya nggak apa-apa deh rela kedinginan dulu..” kataku menutup penjelasan.

Kening Raisha berkerut, “Phy.. ini iklan sandal kan?”

“Iya, Sha.. kenapa?” tanyaku tak mengerti arah ucapan Raisha.

“Trus, apa hubungannya dengan sandal? Tadi penjelasanmu cuma tentang kaki dan pasir? Sandalnya mana?” Raisha balik bertanya.

“Eh..” tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu yang salah, “iya.. ya..” aku menggumam.

“Aneh..” Raisha hanya geleng-geleng melihatku. Tak berapa lama Raisha mengambil kertas lainnya yang sudah kucoret-coret, “banyak banget coretannya Phy?”

“Iya.. namanya juga nyari inspirasi,”kataku sambil mengerling ke arahnya.

Raisha seperti tak menggubris ucapanku.

“Wow!” tiba-tiba Raisha berteriak.

“Apa Sha? Ada yang keren yah?” kataku antusias.

I will face the fear, if it’s the only way to touch your skin.” Raisha tersenyum, lalu tak berapa lama tawanya pecah, “Huahhahhaaa…” Raisha tak bisa menahan tawanya.

“Hah? Kenapa?” aku semakin tak mengerti tanggapan Raisha.

“Bentar-bentar..” tiba-tiba Raisha mengambil koran terbitan lokal yang ada di mejaku. Dia membalik-balik halaman yang ada di sana. “tuh kan.. bener perkiraanku”

“Apa?” suaraku sedikit meninggi karena kaget.

“Nih..” Raisha menunjuk ke satu gambar yang ada di koran, jari-jarinya menelusuri gambar demi gambar ”kamu abis nonton ini kan..” jari telunjuk Raisha mengarah pada poster film yang sedang diputar di bioskop-bioskop di ibukota, poster yang paling menunjukkan gambar yang terlihat menyeramkan “abis nonton film vampir.. hahaha..” Raisha tertawa semakin terbahak.

“Sha!” kataku pura-pura membentak, “apaan sih?”

“Kamu kan paling takut sama film serem-serem gini. Apalagi lagi sih ketakutan kamu selain film horor? Pasti keinspirasi gara-gara abis nonton”

“Raishaaaaa…”aku berteriak, “Enggak aku nggak habis nonton.. dan bukan gitu juga maksudnya…”

“eh bentar-bentar, maksudnya apa nih touching skin? Ada yang aneh..” Raisha seperti tak mendengar ucapanku.

“Gini ya Sha, maksud fear di sini ituh.. ngegambarin kalo kita berani berjalan di tempat-tempat yang nggak nyaman buat kaki. Tempat licin lah, berbatu lah… Pokoknya tempat-tempat yang nggak enak dilewatin apalagi sambil pake sandal jepit,” kucoba untuk menjelaskan semampunya sebelum Raisha memotong lagi, “nah, skin di sini maksudnya skin si sandal. Jadi, ya selama pake sandal ini, kita bisa melewati segala halangan, rintangan dan ketakutan itu.” Kataku untuk menutup penjelasan.

Sejenak Raisha menyimak, namun sesaat kemudian dia kembali tertawa,”Hahaha.. kalo gitu, kamu bikin kalimatnya salah dong”

“Kenapa?” kataku masih tak mengerti.

“Masa’ kalimat yang menggabungkannya itu if it’s the only way ? Ya kesannya si sandal cuma bisa dipake kalo di tempat-tempat menyeramkan yang kamu jelasin itu tadi aja”

“Eh.. iya juga ya? Jadi, harus…” belum tuntas kalimat yang ingin kubicarakan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku langsung teralihkan untuk mencari ponselku, “hape..hape.. mana hape” ujarku sedikit panik.

“Cuma sms kok Phy, nggak usah panik gitu..”

Entah dari mana, ponsel yang kucari sudah ada di tangan Raisha. Dia lalu menyodorkan padaku.

Aku tak bisa menahan rasa yang aneh di hatiku. Seketika mukaku berubah sangat antusias. Aku sangat berharap pengirim SMS itu adalah orang yang sudah mengenyangkan aku dengan banyak kupu-kupu di perutku akhir-akhir ini. Aku paksakan untuk menahan antusiasme agar Raisha tak melihat perubahan raut mukaku.

Ketika ponsel sudah di tanganku, aku melihat nama yang tertera ”Zen” bisikku. Tiba-tiba rasa bersemangat untuk membuka SMS tadi, sedikit meluntur. Aku membaca cepat SMS dari Zen, yang mengabarkan kalau dia baru saja mengirim gambar lain agar dibuatkan cerita untuk iklannya.

“Zen kok Sha..” ucapku sambil mengalihkan pandangan dari ponsel ke muka Raisha. Aku menyadari Raisha sedang mengamatiku. “kenapa?” tanyaku

“Enggak.. tadi aku lihat yang ini..” kata Raisha sambil menunjukkun tulisan di kertas yang lain lagi, “ini bagus..”katanya, “sedikit nyambung..” Raisha tersenyum sambil  menyerahkan kertas itu. Senyumannya menyiratkan sesuatu. Dia seperti ingin menggodaku.

Tak kugubris senyuman anehnya. Pelan-pelan kubaca satu-satunya baris kalimat yang tidak tercoret di atas kertas itu, “Walking a thousand miles under the rain and thunder, would be okay as long as I walk with you… yang ini bagus ya Sha?” kataku meminta persetujuan.

“Setidaknya sedikit lebih nyambung. Aku mengerti maksud di dalamnya. Trus ada walking-walking-nya.. jadi nyambung lah sama sendal jepit yang biasa dipake jalan.” Raisha menjawab pertanyaanku tanpa menoleh. Dia tampak sibuk membaca satu-satu tulisan yang sudah kucoret-coret.

“Tapi Sha, ini sih nggak nyambung.. nggak ada unsur pasir kayak di gambar” kataku sedikit tak setuju.

“Memang tulisan-tulisan kamu ini ada yang nyambung sama fotonya?” Raisha menjawab sambil mengulum senyum.

“Hah? Maksud kamu..?” mataku sedikit mebelalak. Pendapat Raisha  tentang sekian banyak tulisan yang kubuat tidak bisa mendeskripsikan pesan produk, sedikit membuatku sedih “Bagaimana mau buat iklan kalau begini” ucapku dalam hati.

“Kamu lagi jatuh cinta ya Phy?” tiba-tiba Raisha menatapku lurus-lurus. Mengunci mataku dengan pandangannya. Senyum terkembang di bibirnya. Raut mukanya secara keseluruhan seakan ingin berkata “Hey, aku tahu sesuatu loh. Jangan bohongin aku lagi deh”.

“Apa-apaan sih Sha?” aku mengalihkan pandanganku. Lalu bergerak memberesi kertas-kertas yang berserakan di meja.

“Principilla.. Hahha.. I know you.. U just got caught. Just say yes!” Raisha memaksa

“No, I’m not…”

“Yes..”

“No..”

“Inih ya.. lihat semua tulisan kamu… yang kehangatan lah… melewati ketakutan lah.. pokoknya menunjukkan kalau kamu sudah siap ajah..” kata Raisha

“Loh, aku memang mau nunjukkin kalo sendal memang cocok dan nyaman dipakai kapan saja, ke mana saja..” kataku protes.

“Iya.. message nya sih gitu..” jawab Raisha,” tapi, iklan sandal jepit kok ya begitu…” Raisha balik protes.

“Kan supaya dapet feel-nya, harus soulfull dong” kataku meluruskan “emang iklan sandal harusnya gimana.

“Ya harusnya tuh.. kayak yang di tipi-tipi.. nyaman di hati pas di kaki”  Raisha menyebutkan satu tagline iklan sandal yang sering berseliwiren di layar kaca, “gitu loh, ada sebutin kaki-kakinya gitu… bukan malah kayak gini.. feel sandal jepit nya nggak dapet ahh..” Raisha mengerling ke arahku sebelum melanjutkan kalimatnya, “feel yang aku rasain itu.. the sky..” lalu dia tertawa sebentar.

“Raisha!”aku refleks membentaknya. Mukaku seketika memerah.

“Hahha.. untuk nggak kamu buat story-nya begini.. Langit itu tak terbatas, sehingga kemanapun aku pergi, dia selalu ada. Meski tak kugubris, dia selalu memandangiku… Jika kupedulikan, dia menjauhiku.. Ohh,, langit…”Raisha  menyebutkan itu sambil tertawa-tawa dan berpose seperti seorang Rendra yang sedang membacakan sajak.

“Shaaa…” aku berteriak sambil mengejar Raisha yang sudah lebih dulu berlari ke luar ruangan. Kumpulan kertas sudah kugulung agar bisa menjadi alat untuk memukulnya.

“Udah deh Phy.. ngaku ajah… Saat jatuh cinta, yang dibayangin dia terus. Kita ngelihat apa-apa berasa ngelihat mukanya dia. Sandal jepit aja dianggap Langit.. Ohh plis deh..” Raisha tak henti mengejekku sambil terus berlari.

Lalu kami berkejaran di sekeliling rumah.

***

Picture taken by Mona Luthfina

Kebiasaan yang Biasa

Dari kejauhan aku memandang pria itu berdiri. Jarak kami dipisahkan oleh jalan raya berjalur empat. Sedikit dedaunan yang menjuntai dari pohon di tengah pembatas jalan menghalangi pandangan mata kami. Ketika pandangan mata kami berserobok, pria itu tersenyum. Dengan sendirinya, keningku berkerut. Senyum pria itu semakin mengembang, kali ini menunjukkan barisan gigi-giginya yang rapih. Melihat itu, sudut-sudut bibirku jadi tertarik ke atas. Tak berapa lama aku lambaikan tanganku bersemangat ke arahnya.

“Ngapain kamu?” tiba-tiba datang sesosok pria berdiri si sampingku.

“Oh, nggak.. dadah dadah aja..” ucapku sambil menoleh padanya. Kulayangkan sebaris senyum padanya.

“Emang siapa itu?”, Langit bertanya penasaran.

“Nggak tau. Aku nggak kenal” kataku cuek. Kali ini kugeser posisi tubuhku menghadap Langit.

“Heh? Trus kenapa kamu dadahin?” Langit bingung dengan penjelasanku.

“Lagian dia senyum-senyum ke arahku. Kupikir dia tahu aku, kudadahin ajah”

Langit menoleh ke arah pria di seberang jalan, aku mengikuti arah pandangan matanya. Pria di seberang tampak sekali kebingungan. Terlihat sekarang dahinya yang berkerut. Melihat pemandangan itu, kami berdua spontan tertawa.

“Kebiasaan kamu. Iseng..” tiba-tiba Langit menjitak lembut ke atas kepalaku.

Kalau yang melakukan itu orang lain, aku mungkin sudah marah-marah. Karena ini Langit, kubiarkan saja. Aku hanya membalasnya dengan tertawa ringan.

“Yuk ahh.. keburu siang,” Langit berbalik dan berjalan meninggalkanku.

Kali ini aku tak menyusulnya dengan tergopoh. Membiarkan dirinya ada di depan memimpin jalanku.

Langkah kaki kami mengarah pada sebuah taman kota. Bukan taman yang berisi banyak bunga, dengan dedaunan hijau di sana sini. Ini lebih tampak seperti memorial park.

“Langit.. aku mau foto bunga matahari itu..” teriakku spontan kala melihat ada sekumpulan bunga matahari di salah satu sudut taman.

“Iya boleh..”, jawab Langit sabar. Dia mengarahkan langkah kakinya ke sudut itu.

Seperti biasa, aku mengikutinya.

“Nih, kamu yang foto. Coba setting kameranya..”Langit menyerahkan kameranya padaku.

Ketika kamera sudah berpindah tangan, aku berusaha mengatur sesuai dengan ilmu fotografi yang pernah kupelajari. Tak berapa lama aku sudah mengambil foto dari sudut yang menarik menurutku. Selesai satu, aku melihat hasilnya di tampilan di LCD.

“Yahh.. blur..” teriakku. Langit hanya menoleh sekilas. Lalu membiarkanku mengatur ulang. Kuulangi pengambilan gambar. Setiap selesai satu gambar aku selalu melihat hasilnya. Namun hingga beberapa kali pengambilan, tetap saja teriakan.. “Ahh.. masih blur..” tidak bisa tergantikan.

“Yahh.. susah ahh..” akhirnya aku mulai menyerah, “nggak asik foto bunga” ucapku seenaknya.

Langit hanya tergelak melihatku. “Sini aku bantu setting..” Langit menawarkan.

Sesaat ketika aku akan menyerahkan kamera padanya, tiba-tiba ponsel Langit berbunyi. “Sebentar..” dia mengisyaratkan padaku untuk tetap memegang kamera. “Iya Halo Pak.. ”Saat mengatakan itu Langit menoleh, lalu Langit menunjuk ponselnya sambil menunjukkan mimik muka yang ingin mengatakan “si Bos”. Aku mengangguk mengerti.

Saat Langit sedang berbicara di telepon, beberapa kali aku mengambil foto sesukaku. Seketika ada objek yang menarik perhatianku. Kufokuskan pengambilan foto ke arah sana. Saat sedang asik memotret, Langit tiba-tiba  memanggil.

“Phy..”

“Yak..” aku menoleh ke arahnya.

“Maaf lama.” Permintaan maafnya aku balas dengan anggukan,”udah selesai foto bunga mataharinya?”

“Err..” mukaku tampak seperti seorang murid yang ketahuan belum buat PR.

“Hahaa..”Langit tertawa, sembari memasukkan ponsel ke saku celananya.”yuk, review yang ada dulu..”

“Yuk.. “ jawabku cepat. Sebenarnya bukan karena benar-benar ingin me-review, tapi aku mulai merasakan pegal di kakiku. “eh, di mana ya? Tempat duduk penuh semua,” kataku sambil memandang sekeliling.

Saat mengatakan itu, sekali lagi jitakan lembut mampir di kepalaku. “aduh” aku berkata refleks.

“Kebiasaan deh, langsung jawab gitu. Tuh, lihat di sana ada tempat yang kosong. Jangan asal bilang nggak ada” Langit menunjuk ke satu bangku kosong yang tadi sempat jadi objek fotoku.

“He eh.. iya..”

Lalu kami berjalan menuju bangku itu. Sesampainya di sana, kami duduk bersebelahan. Meletakkan tas bawaan kami di sisi bangku yang masih kosong. Langit mengambil kamera yang sedari tadi kupegang.

“Sinih aku lihat..” lalu Langit melihat-lihat gambar yang ada di LCD. Aku ikut memandang ke arah yang sama. Kulihat Langit sedang mengamati gambar bunga matahari.

“Eh, kenapa blur ya?” kataku tak sabar ingin tahu,”padahal aku pakai speed nya nggak rendah-rendah banget… satu per lima belas.”

“Kamu yakin ini nggak rendah? Satu per lima belas itu termasuk lambat. Kecuali kamu tahan freeze tangan. Tangan manusia itu bisa nggak shake di satu per delapan puluh ke atas..”

“Oooohhh gituu…” aku mengangguk angguk mengerti,”salah dong akuh..”

“Nggak apa, namanya juga belajar..” kata Langit sambil menoleh dan tersenyum ke arahku. “tapi tergantung di zoom berapa juga sih..” lalu langit menjelaskan mengenai speed, zoom, focal length dan rumus-rumus yang otakku sudah tak mampu menangkapnya. Aku sudah terbius karena senyumnya, belum lagi penjelasan Langit yang bersemangat membuatku terkesima. Aku berjanji dalam hati untuk mencari lagi di internet segala kata-kata yang Langit jelaskan. Jangan sampai di “kelas” selanjutnya Langit menyadari kalau aku tak menyimak apa yang dia sebutkan. Oh Tuhan, semoga aku masih mampu mengingatnya.

“… gitu Phy,” suara Langit tiba-tiba menyadarkanku. Supaya tidak terlihat aku kurang menyimak, aku cepat-cepat mengangguk. “coba kita lihat foto yang lain” Lalu Langit menggeser foto itu dengan foto selanjutnya.

Memandang foto itu, Langit mengerutkan keningnya. Tiba-tiba menoleh ke arah kiri atas. Lalu balik menoleh memandang LCD kamera. “ini di sini ya..?”

“Iya,”

“Hahaha.. ini fotonya lucu” kata Langit sambil memandangnya.

“Ya sayang, kamu ngomong apa?” tiba-tiba Langit mengubah suaranya menjadi mode Bapak-bapak bersuara sangat bariton. Aku tertawa mendengarnya. “Nggak apa sayang.. aku cuma mau memandang kamu saja lebih dekat” lalu diubah suaranya menjadi lebih halus, berusaha meniru suara khas wanita.

Aku tergelak mendengar monolog yang dilakukan oleh Langit. Tapi, aku juga tergelitik untuk ikut menyulih suara “aktor-aktor” yang ada di foto

“Ahh, dasar wanita genit. Bisa-bisanya merayu dia. Huh.. padahal kan dia nggak ada apa-apanya dibanding aku, ngapain sih pria itu mau-maunya sama dia” aku bersuara dengan intonasi wanita yang sedang iri melihat pemandangan romantis di sampingnya.

Cukup lama kami melakukan percakapan, sebagai pengganti tiga orang yang ada di dalam gambar. Seringkali percakapan kami tersendat karena kami tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan kami sendiri. Sampai akhirnya, aku dan Langit sudah tak mampu meneruskan, karena perut kami sakit karena tertawa.

“Phy.. kita tuh ya..” kata Langit di sela-sela tawa yang hampir mereda, “seenaknya aja ngomongin orang begini..”

“Hehe.. iya nih.. tapi emang lucu kan..” kataku mengiyakan.

“Iya, tapi kebayang nggak apa yang benar-benar mereka rasakan di sini..” Langit mulai berkata sedikit lebih serius, “oke, anggaplah si pasangan ini memang sedang berbahagia, tapi coba lihat wanita ini” katanya sambil menunjuk wanita bertopi yang sedang memandangi kedua pasangan di sebelahnya.

“Ya..” kataku ikut semakin serius.

“… kalau misalnya dia sedang sedih bagaimana. Bukan wanita berhati iri seperti yang tadi kita pikirkan.”

“hmm..” aku tak tahu harus berkata apa.

“Gitu ya Phy.. kita itu sering memandang sesuatu sesuka kita saja. Seharusnya kita bisa lebih empati terhadap apa yang ada di sekitar kita. Membiasakan untuk menempatkan diri di posisi orang lain..”

“Umm.. okay, ini bukan tentang si kulit salak dan serangga kan?”

“Hehe.. bukan.. sedikiiiittt bedaaa…” Langit menekankan kata sedikit, seolah meyakinkan kalau itu benar-benar sedikit.

“Hahaha..”

“Nah,” Langit meneruskan,”seringkali kita mengejek orang-orang di sekitar kita. Lihat saja tayangan-tanyangan di televisi” Langit lalu menyebutkan satu contoh acara TV yang ditayangkan hampir setiap malam di salah satu TV swasta nasional, “kita disuguhkan dengan kisah seseorang  menyakiti orang lain, mengeluarkan sarkasme dan si korban diatur sedemikian rupa sehingga kita jadikan bahan tertawaan. Tayangan seperti itu ya nggak mendidik. Orang-orang yang menontonnya jadi terbiasa untuk menertawakan kesalahan, kesakitan… Pada kehidupan nyata, kurang lebih pasti akan terbawa…dan itu bukan contoh yang baik”

“Umm.. iya, tayangan TV baiknya memberikan humor cerdas, bukan humor yang membodohi..”kalimatku seolah mengamini perkataan Langit.

“Huahhaa.. ngomong apa sih aku ini..” Langit seakan menyadari kalau dia membahas ini terlalu dalam, “kayaknya gara-gara udah siang nih.. laper, jadinya ngelantur” Langit langsung memberesi barang-barangnya, dan beranjak berdiri. Menoleh sejenak ke arahku, “Yuk..” dan seperti biasa berjalan duluan di depanku.

***

* Picture taken by Mona Luthfina