Nanya dikit, boleh?

Pernah ada satu masa aku ingin menjadi seorang pelukis. Ketika melihat ada titik-titik bertebaran di atas kanvas yang putih bersih. Lalu entah bagaimana kau datang sambil membawa kuas dan banyak tube berisi cat air berwarna-warni. “Mari menciptakan garis bersama, siapa tahu jadi lukisan,” ajakmu. Dan aku mengikuti, menikmati olesan tangan-tangan itu mencipta garis demi garis.

Di masa lain aku ingin menjadi penyanyi. Mengimbangi alunan gitar yang kau petik malam demi malam saat menghitung bintang. “Baiknya kau yang bernyanyi, agar ku tak lelah minta ditemani bintang-bintang yang membisu,” pintamu. Lagi-lagi aku menuruti, mendendangkan bait demi bait.

Kemudian datang waktuku ingin menjadi penulis. Inilah saatnya aku ingin merekam semua momen sedih dan senang yang pernah kita lalui. Agar ingatanku yang buruk ini tak lagi menjadi pengganggu saat ingin kuceritakan pada semua orang betapa bahagianya aku mengenalmu.

Ada lagi masaku ingin menjadi penari, penyair, penggubah.. dan lainnya..

Lalu sekarang, aku ingin menjadi pembuat arloji. Ya, Arloji!

Arloji yang akan dipakai di seluruh dunia. Tak kusalahkan waktu yang tak bisa berhenti barang sejenak. Bahwa arloji sebagai penunjuk waktu itulah yang akan kusamakan di seluruh dunia. Mauku cuma sedikit, hanya ingin membagi detik-detik itu dengan porsi yang kuinginkan. Memperlambat ukuran detik ketika bersamamu, dan mempercepat ketika tak sedang bersamamu..

Bolehkan?

***

Ps: Pemanasan dikiiiit untuk PictFiction selanjutnya 😉

The Intro

Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my friend.

Ini kali ke empat saya datang dalam minggu ini dan sambutannya masih sama. Ratusan manusia yang mengantri di koridor berkapasitas 500 orang semakin terasa sempit. Awalnya aku ingin mengabadikan banyak moment perjalananku menggunakan Bus yang mulai beroperasi 15 Januari 2004 ini. Tapi kuurungkan niatku melihat limpahan manusia yang entah dari mana datangnya berkumpul di tempat ini.

Shelter Harmoni Transjakarta, dan aku tak punya pilihan lain selain mengantri. Keluar dari tempat ini dan mencari taksi bukanlah solusi. Hanya akan menambah kemacetan di ruas-ruas jalan ibukota. Aku juga tak diburu waktu.

Mempunyai tubuh dengan ukuran tinggi yang lebih dari rata-rata pria Indonesia lainnya terkadang terasa menguntungkan. Seperti sore ini, aku bisa leluasa memandangi satu persatu kesibukan masing-masing orang yang ada di sini.

Pekerjaan mereka sama, pengantri. Tapi cara mereka melakukannya berbeda-beda. Bapak yang berdiri di sudut sana sibuk membenahi ransel membelendung yang tersampir di pundak, terlihat ketidaknyamanan yang amat sangat di wajahnya. Mungkin ranselnya sudah kelebihan beban. Ibu-ibu berpakaian safari cokelat yang kutaksir umurnya empat puluh lima tahun, sedang terdiam termangu. Aku menebak bahwa dia sedang bingung memikirkan makanan apa yang harus disuguhkan ke suaminya malam nanti. Seorang laki-laki remaja berkaus biru, berkacamata berbingkai tebal, sibuk memainkan jari jemarinya di atas tuts blackberry bersarung biru yang senada dengan warna bajunya. Sesekali dia tersenyum. Entah siapa yang diajaknya bicara di seberang sana, tapi caranya menghabiskan waktu sepertinya pilihan yang tepat. Ada pasangan muda-mudi yang sibuk bercengkrama, serasa dunia milik berdua. Antrian yang semakin merapat tak membuat mereka gusar seperti kebanyakan orang di sini, bagi mereka ini menjadi momen yang menyenangkan.

Kusapukan pandanganku lagi ke satu demi satu wajah yang ada di antrian. Kurang lebih tampak sama. Kelelahan dan bosan seperti menempel di raut muka mereka. Kota berpenduduk delapan juta lima ratus dua puluh tiga ribu delapan ratus tiga puluh enam orang ini telah berhasil mengerutkan muka-muka mereka lebih cepat melalui kerapatan dan kemacetannya. Yah, siapa suruh datang Jakarta?

Pandanganku tiba-tiba berhenti pada seorang perempuan yang mengantri tak jauh dariku. Tak seperti yang lain yang mengguratkan keletihan di wajah, perempuan ini masih terlihat segar di sore yang panas. Mukanya sumringah. Garis bibirnya yang sedikit tertarik ke atas membuatnya menarik untuk diperhatikan. Ransel yang dibawa digantungkan di bagian depan tubuhnya. Mengantisipasi tangan usil yang mungkin berminat membuka-buka ransel merahnya. Wajahnya menunduk, pandangannya melekat ke baris-baris tulisan di buku yang dipegangnya sedari tadi. Buku yang sama yang kulihat tiga hari lalu saat pertama kali aku mengamati perempuan ini. Ya, ini kali ke empat! Bedanya, kali ini bagian tumpukkan halaman buku yang dipegang dengan tangan kiri lebih banyak dari tangan kanannya. Belum lama aku menatapnya, tiba-tiba antrian bergerak penanda bahwa ada satu bus yang siap mengangkut kami. Aku memfokuskan pandanganku ke depan.

“Perhatikan langkahnya.. perhatikan.. jangan dorong-dorong”, kata-kata itu meluncur dari Bapak yang menjaga pintu Bus Transjakarta. Perannya mungkin kurang lebih sama dengan kenek di Bus Kota lainnya. Aku mengikuti sarannya, bukan hanya untukku tapi untuk orang-orang yang ada di sini juga. Kalau aku terjatuh, maka akan menyulitkan orang lain yang harus membopong, lalu jalan bus akan terhambat, dan Ibu bersafari cokelat tadi bisa terlambat memasak untuk suaminya.

Namun, aliran manusia itu seperti tak sabar. Bahkan, tak perlulah aku bergerak melangkah, cukuplah menyeret-nyeret langkah dan sekarang aku sudah berada di dalam bus.

Setelah pintu tertutup rapat, aku memegang gantungan tangan yang berada di atas kepala. Lagi-lagi keuntungan berperawakan tinggi, aku tak terlalu sulit menjangkau pegangan tangan, dan tentunya tidak terasa pegal jika harus berlama-lama. Sekelilingku sudah penuh manusia, berdiri merapat. Bahkan kupikir, tubuh-tubuh kami bisa saling menumpu sehingga tak perlu berpegangan pada gantungan di atas.

Posisiku ada di tengah-tengah badan bus. Sejajar di kanan kiri adalah pintu. Posisi yang cukup menguntungkan, jika akan ke luar nantinya akan lebih mudah menerobos tumpukkan manusia di sini. Aku menolehkan pandangan ke kiri. Perempuan dengan buku di tangannya itu seperti bergeming, masih sama posisinya seperti sebelum memasuki bus. Ia bahkan tak berpegangan tangan. Tubuhnya sebagian tertumpu pada pintu dan dia terlihat sekali pandai menjaga keseimbangan hingga tak perlu menempelkan tubuhnya pada orang lain. Ranselnya seakan membantu menjaga jarak dengan sekitarnya.

Perempuan ini sepertinya memiliki dunianya sendiri.

Dia menabir sekelilingnya dengan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Dia bahkan tak terganggu dengan keluhan sekelilingnya.

Aku menerobos pandangan ke arah kaca pintu di belakang perempuan itu. Busway ini bergerak lambat. Tapi, antrian kendaraan di luar jalur busway bahkan tak bergerak. Langit memang mengucurkan air ke bumi. Tapi, seperti hal yang telah menjadi biasa, Jakarta pasti akan macet lebih parah ketika hujan turun. Mungkinkah dua koma satu juta unit kendaraan di Jakarta ini ditumpahkan semua ke jalanan oleh pemiliknya?

Jarak dari halte yang terletak di atas sungai ciliwung sampai dengan halte bendungan hilir memang tak terlalu jauh. Belum sempat mengamat-amati lebih lama perempuan dengan dunianya sendiri itu, halte tujuanku sudah di depan mata. Begitu pintu terbuka, aku bergegas berjalan keluar menerobos tumpukkan manusia yang masih berdiri pasrah di dalam bus. Bergantian saat aku ke luar, ada seorang pria berperawakan kecil, bertopi abu-abu yang sudah lusuh namun membawa tas yang seakan lebih besar dari ukuran badannya. Saat bersisian dengannya, jaket yang kupakai tersangkut dengan tali yang menjuntai dari salah satu bagian tasnya yang besar. Butuh beberapa detik untuk melepaskan kaitan. Setelah selesai, pria itu hanya menunduk santun pertanda minta maaf. Aku hanya tersenyum membalas, seakan mengatakan “Nggak apa kok, Pak”.

Aku melanjutkan perjalanan. Saat melewati portal ke luar halte, aku melihat sosok perempuan berransel merah tadi, sedang berjalan sembari memasukkan buku yang dibacanya ke ransel. Lalu ia memindahkan beban ransel dari depan tubuh ke punggungnya. Ia berjalan cepat, sedang aku masih dengan kecepatan yang rendah sehingga aku tak bisa menyusulnya.

Air masih bercucuran dari langit. Tak deras tapi bukan gerimis. Tapi warna langit yang abu-abu membuat suasana bernuansa jadi kelabu. Sampai di ujung halte, aku sudah tak melihat perempuan itu lagi, mungkin karena aku terlalu lambat atau karena sibuk memandangi Langit. Yah, apapun namanya, Langit selalu menarik bagiku.

Kukembangkan payung yang kubawa. Meski tak deras, bukan berarti aku mau diguyur oleh air begitu saja. Baru jalan beberapa langkah, aku melihat lagi perempuan itu. Berjalan hati-hati, mencari bagian trotoar yang tak tersiram hujan. Sesekali dia harus melalui tempat tak beratap, hingga ia harus menyampirkan tangan di kepala, sedikit mengurangi risiko pusing barangkali. Aku biarkan saja, masih mengamatinya dari tempat yang aman.

Ada beberapa detik saat perempuan itu terdiam. Kukira-kira alasannya. Kutebak, karena jalan di depannya tak ada lagi yang beratap. Rindangnya pepohon tak juga membantu, toh air masih mengucur di sela-sela dedaunan. Tak kusangka, dia terus saja melanjutkan perjalanan.

Kusigapkan jalanku mengejarnya. Payung yang kubawa cukup besar untuk berbagi. Langkah kakiku pasti bisa menyusulnya, toh dia berjalan dengan kecepatan rendah, berhati-hati tak terpeleset.

Tepat di belakangnya, kusorongkan payung ke arahnya sedikit, cukup untuk melindungi dia dari hujan. Ada beberapa waktu dia tak menyadari bahwa dirinya kini tak tersiram hujan. Dia juga tak menyadari aku yang ada di belakangnya. Sampai pada akhirnya aku tak bisa mengimbangi langkahnya yang pendek-pendek, dan kakiku sedikit menyentuh kakinya. Dia berhenti berjalan. Saat dia diam aku hampir menabrak dirinya, untungnya masih bisa kukuasai tubuhku.

Dia menoleh, mengamatiku, menilai dan mengernyit sebentar seakan berkata “Mau apa kamu?”

Sebelum dia membuka mulut, aku duluan berkata, “kamu kehujanan, payungku cukup lebar. Aku mau ke arah sana” tunjukku ke satu arah,”sekalian saja” kataku antara perduli dan tidak.

Dia mengamatiku cepat, dari atas ke bawah.

“Baiklah”, katanya dengan muka datar, “Berjalan di sampingku, jangan di belakang, atau di depan”.

Bagiku, kata-katanya lebih dari sekedar jawaban “boleh”, tapi lebih menyiratkan ajakan perteman.

Sejak itu, kami selalu berjalan bersisian.

***

Picture taken by me.

Sandal Jepit

Saat jatuh cinta, yang dibayangin dia terus. Kita ngelihat apa-apa berasa ngelihat mukanya dia.

Raisha datang menghampiri, duduk di kursi yang ada di sampingku, lalu langsung menarik selembar kertas putih di atas meja, yang sedari tadi kucoret-coret. Aku menggeser tanganku yang menimpa kertas itu agar Raisha bisa mengambilnya tanpa harus terobek.

I don’t mind to freeze, if it’s the only way to feel the warm..” Raisha membaca keras-keras tulisan yang dia lihat, “eh, ini apaan si Phy? Tulisannya nggak nyambung begini?” Raisha mengalihkan pandangannya dari kertas ke diriku.

Aku hanya menoleh sekilas “Itu.. si Zen yang minta aku bikinin story buat iklannya dia,” kataku sambil  meneruskan mencoret-coret kertas yang lain.

Story? Buat apa? Lagian ini maksudnya apaan sih?” Raisha masih tak mengerti.

“Sekarang Zen produksi sandal juga, dia mau bikin iklan, tapi yang ada story-nya..”

“Iklan? Loh, trus maksud tulisan ini apa?” Raisha menyodorkan kertas yang dipegangnya ke hadapanku.

“Duuh, si eneng.. dengerin dulu dong penjelasannya, jangan langsung apah-apah begitu,” kataku sambil mengambil kertas itu, dan menyodorkan kertas yang lain padanya, ”nih, lihat gambarnya..”

Raisha memperhatikan gambar di atas kertas tadi. Dua pasang sandal jepit masing-masing  berwarna merah dan biru terpampang di sana. Hamparan pasir sedikit menutupi sandal-sandal yang menginjak tumpukkan pasir lainnya.

“Umm.. okay.. aku nggak ngerti..” terlihat kebingungan dari raut wajah Raisha. Matanya masih tak beranjak dari gambar yang kusodorkan, “coba jelasin..” suaranya lebih mirip perintah ketimbang pertanyaan.

“Jadi..” ucapku memulai penjelasan,” Ini kan pasir tuh..” kataku sambil menunjuk ke arah gambar. “ini menandai kalau lokasinya ada di pantai. Kalau di pantai kan seringnya dingin karena angin yang bertiup terus-terusan.. nah, kalau kaki kamu dibenamkan di dalam pasir, kakimu jadi hangat. Jadi, untuk mencapai kehangatan itu, ya nggak apa-apa deh rela kedinginan dulu..” kataku menutup penjelasan.

Kening Raisha berkerut, “Phy.. ini iklan sandal kan?”

“Iya, Sha.. kenapa?” tanyaku tak mengerti arah ucapan Raisha.

“Trus, apa hubungannya dengan sandal? Tadi penjelasanmu cuma tentang kaki dan pasir? Sandalnya mana?” Raisha balik bertanya.

“Eh..” tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu yang salah, “iya.. ya..” aku menggumam.

“Aneh..” Raisha hanya geleng-geleng melihatku. Tak berapa lama Raisha mengambil kertas lainnya yang sudah kucoret-coret, “banyak banget coretannya Phy?”

“Iya.. namanya juga nyari inspirasi,”kataku sambil mengerling ke arahnya.

Raisha seperti tak menggubris ucapanku.

“Wow!” tiba-tiba Raisha berteriak.

“Apa Sha? Ada yang keren yah?” kataku antusias.

I will face the fear, if it’s the only way to touch your skin.” Raisha tersenyum, lalu tak berapa lama tawanya pecah, “Huahhahhaaa…” Raisha tak bisa menahan tawanya.

“Hah? Kenapa?” aku semakin tak mengerti tanggapan Raisha.

“Bentar-bentar..” tiba-tiba Raisha mengambil koran terbitan lokal yang ada di mejaku. Dia membalik-balik halaman yang ada di sana. “tuh kan.. bener perkiraanku”

“Apa?” suaraku sedikit meninggi karena kaget.

“Nih..” Raisha menunjuk ke satu gambar yang ada di koran, jari-jarinya menelusuri gambar demi gambar ”kamu abis nonton ini kan..” jari telunjuk Raisha mengarah pada poster film yang sedang diputar di bioskop-bioskop di ibukota, poster yang paling menunjukkan gambar yang terlihat menyeramkan “abis nonton film vampir.. hahaha..” Raisha tertawa semakin terbahak.

“Sha!” kataku pura-pura membentak, “apaan sih?”

“Kamu kan paling takut sama film serem-serem gini. Apalagi lagi sih ketakutan kamu selain film horor? Pasti keinspirasi gara-gara abis nonton”

“Raishaaaaa…”aku berteriak, “Enggak aku nggak habis nonton.. dan bukan gitu juga maksudnya…”

“eh bentar-bentar, maksudnya apa nih touching skin? Ada yang aneh..” Raisha seperti tak mendengar ucapanku.

“Gini ya Sha, maksud fear di sini ituh.. ngegambarin kalo kita berani berjalan di tempat-tempat yang nggak nyaman buat kaki. Tempat licin lah, berbatu lah… Pokoknya tempat-tempat yang nggak enak dilewatin apalagi sambil pake sandal jepit,” kucoba untuk menjelaskan semampunya sebelum Raisha memotong lagi, “nah, skin di sini maksudnya skin si sandal. Jadi, ya selama pake sandal ini, kita bisa melewati segala halangan, rintangan dan ketakutan itu.” Kataku untuk menutup penjelasan.

Sejenak Raisha menyimak, namun sesaat kemudian dia kembali tertawa,”Hahaha.. kalo gitu, kamu bikin kalimatnya salah dong”

“Kenapa?” kataku masih tak mengerti.

“Masa’ kalimat yang menggabungkannya itu if it’s the only way ? Ya kesannya si sandal cuma bisa dipake kalo di tempat-tempat menyeramkan yang kamu jelasin itu tadi aja”

“Eh.. iya juga ya? Jadi, harus…” belum tuntas kalimat yang ingin kubicarakan, tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku langsung teralihkan untuk mencari ponselku, “hape..hape.. mana hape” ujarku sedikit panik.

“Cuma sms kok Phy, nggak usah panik gitu..”

Entah dari mana, ponsel yang kucari sudah ada di tangan Raisha. Dia lalu menyodorkan padaku.

Aku tak bisa menahan rasa yang aneh di hatiku. Seketika mukaku berubah sangat antusias. Aku sangat berharap pengirim SMS itu adalah orang yang sudah mengenyangkan aku dengan banyak kupu-kupu di perutku akhir-akhir ini. Aku paksakan untuk menahan antusiasme agar Raisha tak melihat perubahan raut mukaku.

Ketika ponsel sudah di tanganku, aku melihat nama yang tertera ”Zen” bisikku. Tiba-tiba rasa bersemangat untuk membuka SMS tadi, sedikit meluntur. Aku membaca cepat SMS dari Zen, yang mengabarkan kalau dia baru saja mengirim gambar lain agar dibuatkan cerita untuk iklannya.

“Zen kok Sha..” ucapku sambil mengalihkan pandangan dari ponsel ke muka Raisha. Aku menyadari Raisha sedang mengamatiku. “kenapa?” tanyaku

“Enggak.. tadi aku lihat yang ini..” kata Raisha sambil menunjukkun tulisan di kertas yang lain lagi, “ini bagus..”katanya, “sedikit nyambung..” Raisha tersenyum sambil  menyerahkan kertas itu. Senyumannya menyiratkan sesuatu. Dia seperti ingin menggodaku.

Tak kugubris senyuman anehnya. Pelan-pelan kubaca satu-satunya baris kalimat yang tidak tercoret di atas kertas itu, “Walking a thousand miles under the rain and thunder, would be okay as long as I walk with you… yang ini bagus ya Sha?” kataku meminta persetujuan.

“Setidaknya sedikit lebih nyambung. Aku mengerti maksud di dalamnya. Trus ada walking-walking-nya.. jadi nyambung lah sama sendal jepit yang biasa dipake jalan.” Raisha menjawab pertanyaanku tanpa menoleh. Dia tampak sibuk membaca satu-satu tulisan yang sudah kucoret-coret.

“Tapi Sha, ini sih nggak nyambung.. nggak ada unsur pasir kayak di gambar” kataku sedikit tak setuju.

“Memang tulisan-tulisan kamu ini ada yang nyambung sama fotonya?” Raisha menjawab sambil mengulum senyum.

“Hah? Maksud kamu..?” mataku sedikit mebelalak. Pendapat Raisha  tentang sekian banyak tulisan yang kubuat tidak bisa mendeskripsikan pesan produk, sedikit membuatku sedih “Bagaimana mau buat iklan kalau begini” ucapku dalam hati.

“Kamu lagi jatuh cinta ya Phy?” tiba-tiba Raisha menatapku lurus-lurus. Mengunci mataku dengan pandangannya. Senyum terkembang di bibirnya. Raut mukanya secara keseluruhan seakan ingin berkata “Hey, aku tahu sesuatu loh. Jangan bohongin aku lagi deh”.

“Apa-apaan sih Sha?” aku mengalihkan pandanganku. Lalu bergerak memberesi kertas-kertas yang berserakan di meja.

“Principilla.. Hahha.. I know you.. U just got caught. Just say yes!” Raisha memaksa

“No, I’m not…”

“Yes..”

“No..”

“Inih ya.. lihat semua tulisan kamu… yang kehangatan lah… melewati ketakutan lah.. pokoknya menunjukkan kalau kamu sudah siap ajah..” kata Raisha

“Loh, aku memang mau nunjukkin kalo sendal memang cocok dan nyaman dipakai kapan saja, ke mana saja..” kataku protes.

“Iya.. message nya sih gitu..” jawab Raisha,” tapi, iklan sandal jepit kok ya begitu…” Raisha balik protes.

“Kan supaya dapet feel-nya, harus soulfull dong” kataku meluruskan “emang iklan sandal harusnya gimana.

“Ya harusnya tuh.. kayak yang di tipi-tipi.. nyaman di hati pas di kaki”  Raisha menyebutkan satu tagline iklan sandal yang sering berseliwiren di layar kaca, “gitu loh, ada sebutin kaki-kakinya gitu… bukan malah kayak gini.. feel sandal jepit nya nggak dapet ahh..” Raisha mengerling ke arahku sebelum melanjutkan kalimatnya, “feel yang aku rasain itu.. the sky..” lalu dia tertawa sebentar.

“Raisha!”aku refleks membentaknya. Mukaku seketika memerah.

“Hahha.. untuk nggak kamu buat story-nya begini.. Langit itu tak terbatas, sehingga kemanapun aku pergi, dia selalu ada. Meski tak kugubris, dia selalu memandangiku… Jika kupedulikan, dia menjauhiku.. Ohh,, langit…”Raisha  menyebutkan itu sambil tertawa-tawa dan berpose seperti seorang Rendra yang sedang membacakan sajak.

“Shaaa…” aku berteriak sambil mengejar Raisha yang sudah lebih dulu berlari ke luar ruangan. Kumpulan kertas sudah kugulung agar bisa menjadi alat untuk memukulnya.

“Udah deh Phy.. ngaku ajah… Saat jatuh cinta, yang dibayangin dia terus. Kita ngelihat apa-apa berasa ngelihat mukanya dia. Sandal jepit aja dianggap Langit.. Ohh plis deh..” Raisha tak henti mengejekku sambil terus berlari.

Lalu kami berkejaran di sekeliling rumah.

***

Picture taken by Mona Luthfina