6 Jam di Surabaya

Saya cuma punya waktu 6  jam di Surabaya. Jadilah saya pada tanggal 24 April 2011 ini berusaha memanfaatkan waktu dengan mencari tempat menarik yang ada di sana.

Pilihan pertama jatuh pada House of Sampoerna. 

Di sana saya bisa tahu banyak hal tentang asal-usul Sampoerna, perusahaan rokok tershor itu. Kalau datang di hari kerja, kita bisa sekaligus  melihat cara kerja pembuatan rokok.

Tak hanya museum Sampoerna, di sana ada juga gallery yang menunjukkan proses pembuatan tenun ikat. Museum Sampoerna membawa Sanggar Budaya Biliran Sina yang berasal dari Watubai, Maumere, Flores NTT. Jadi, saya benar-benar bisa melihat proses pembuatan tenun ikat sejak pembentukan benang sampai penenunan kain kain yang berwarna cantik itu.

Jam 9 saya mulai bertualang di Surabaya dan jam 11 saya selesai dari House of Sampoerna. Dari situ perut berbunyi minta diisi.

Atas rekomendasi seorang teman, saya mencoba Sate Klopo. Sate Klopo ini adalah sate ayam yang dimasak dengan kelapa. Nyamnyammm…

Selesai makan, waktu masih menunjukkan pukul 12.30, akhirnya saya lanjutkan perjalanan ke Monumen Kapal Selam. Namanya sudah menunjukkan apa yang akan saya lihat. Yuhuu.. kapal selam 😀

Masuk ke sana membuat saya berfikir, para tentara angkatan laut itu hebat ya. Bisa bertahan di ruangan sempit seperti itu dan masih harus melakukan tugas mulia di dalamnya. Ckckk… Di dalamnya ada pemandu yang menerangkan segala perlengkapan dan ruangan yang ada di dalamnya.

Tak lama-lama di sana, saya masih berusaha berkuliner ria di sana. Saya pilih Lontong Balap!


Menurut saya, si Lontong ini balapan dengan isi makanan yang lainnya seperti tauge dan sambel petis yang nikmat. Bingung pilih yang mana karena semuanya enak.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 2, dan saya harus mengejar pesawat yang take off jam 15.45. Saya sudahi 6 jam perjalanan di Surabaya dengan mengunjungi 2 tempat dan 2 kuliner pilihan.

Kalau ditanya mau balik lagi ke sana nggak, saya akan jawab “Mau! Saya mau cicipi kuliner lebih banyak lagi, hehhe..”

Sawarna, Satu Warna

“I can’t go, I need a rest.”

begitu tolak saya ketika pada 29 April 2011 lalu teman-teman mengajak saya untuk ke Sawarna. Sebelumnya saya sudah mengiyakan ajakan teman-teman untuk pergi ke Sawarna. Tapi, karena jumat pagi itu saya merasa tidak enak badan, akibat kesibukan yang tak hentibeberapa bulan terakhir, akhirnya saya menyerah dan menolak ajakan menggiurkan itu.

Tapi, mereka tidak menyerah begitu saja. Segala macam tawaran pun diajukan. “Elu bisa istirahat di mobil malam ini. Besok pagi lu bisa istirahat di pinggir pantai sambil nikmatin deburan ombak dan kicauan burung camar”, begitu salah satu iming-imingnya.

Ahh, akhirnya saya menyerah lagi. Perkara sakit, saya usahakan bertahan. Berbekal jaket tebal saya pergi.

Benar saja, selama 6 jam perjalanan dari Jakarta ke Sawarna saya menggigil. Nggak bisa tidur. Sampai keesokan pagi sarapan pun tangan saya masih bergetar. Sssst, none of my friends knew about this :p

Begitu sampai, tanpa istirahat, saya ikuti Satrio, Ian dan Adam untuk mengejar Sunrise ke tanjung Layar. Teman cewe lainnya (Merlyn, Nanche, Ratna, Merry, Hana) istirahat dulu di penginapan. Dari penginapan butuh waktu perjalanan sekitar 40 menit. Dan inilah Tanjung Layar itu…


Di sana, karena faktor nggak enak badan sekaligus lensa yang tidak memadai akhirnya saya cuma ambil beberapa foto lalu duduk di bebatuan. Baru saja menikmati suara deburan ombak dan belaian air di kaki, nggak berapa lama ada yang berteriak “Mbak.. Mbak.. boleh minggir bentar, gantian saya mau ambil foto”

Jeng jeng! Ada fotografer dengan lensa maknyusnya berdiri di seberang saya. Saya diusir demi kepentingan foto mereka 😦 Memang pagi itu banyak sekali fotografer yang sedang hunting di sana. Akhirnya saya menjauh, duduk di tepi saja sambil menunggu teman-teman lain yang sibuk mengambil foto.

Dari situ kami kembali penginapan dan menjemput teman lainnya. Lanjutlah kami ke Pantai Ciantir.

Wuogghhh… ini pantai panjang dengan pasir putih yang beneran putih 😀 Wohoooo… senangnya saya. Awalnya saya hanya sibuk fotoin teman-teman cewe yang bergaya bak model di sana. Lalu tak berapa lama teman-teman cowo yang sibuk surfing satu persatu mulai istirahat. Diiming-imingi papan surfing nganggur, akhirnya saya mencoba mulai surf. Gaya-gayaan aja di pinggir pantai 😀 Dari yang awalnya cuma mau basahin sampe sebatas celana, akhirnya saya kecebur seluruh badan. But, it was very fun!

Keesokkan harinya kami datang ke Legon Pari. Di sini pemandangannya nggak kalah cantik. Banyak batu karang di pinggiran pantai. Jadilah saya seperti mendengar musik yang dimainkan oleh alam yang terbentuk dari deburan ombak di batu karang.

Yang saya pikirkan saat itu hanyalah nggak nyesel deh sakit-sakit dateng ke sana. Pemandangan alamnya langsung membuat meriang di badan seketika melayang 😀

Buat temen-temen yang pengen datang ke sana, bisa hubungi Horizon Travel buat arrange perjalanan. Biaya 2 hari 1 malam di sana include penginapan, transportasi dan makan murah kok 😉

Ohya, ini tambahan foto-foto yang di ambil di perjalanan pulang. Keren kaaannn…

Ehemm.. numpang nampang dulu boleh lah yaa…

Yang saya bingung, kenapa dinamain daerahnya “Sawarna” ya? Kan artinya satu warna, perasaan di sana warnanya banyak deh.. hehhe..