Membagi Mimpi Besar

 I always enjoy playing with kids. Letting them explore new things is my favourite moment…

Foto di atas di ambil oleh mas Iman, teman baru yang jago foto dan saya kenal di @shoeboxproject.

Acara @shoeboxproject ini sudah lama saya tahu dan ingin saya ikuti. Tapi, beberapa kegiatan yang dilakukan sebelumnya selalu bentrok dengan kegiatan @childcanlead. Jadi, ketika saya sedang tidak ada kegiatan, saya langsung berminat untuk ikut.

Shoeboxproject ini sudah sampai ke kegiatan yang ke-7. Setiap bulannya akan ada kegiatan yang berbeda-beda. Untuk kegiatan ke-7 ini datang ke sebuah sekolah dasar di daerah Pedongkelan Jakarta Timur. Ini sekolah SD dari kelas 1-6, terdiri dari 2 ruangan kelas dan diajar oleh 2 orang guru. Bisa bayangkan bagaimana jadwal mereka belajar? 😀

Hari Sabtu 2 April 2011 lalu, para volunteer datang untuk dibagi menjadi 2 kegiatan, renovasi gedung sekolah dan mengajak anak-anak belajar sambil bermain. Sekolah direnovasi dan diberi fasilitas misal kipas angin dan rak buku. Tim lainnya menemani anak-anak bermain sambil belajar. Sebelumnya, anak-anak diberi “Pe-er” untuk menuliskan mimpi mereka, lalu saat kami datang kami minta mereka untuk menceritakan ulang.

Ada salah satu anak, yang tulisannya berjudul “Musibah Membuat Tidak Bisa Sekolah”. Saat saya membaca sekilas judulnya saja saya merasa sedih. Anak-anak diajak “bermimpi”, namun yang mereka terpikirkan kok ya seperti itu. Apakah mereka sudah kehilangan pengetahuan mengenai “mimpi yang menakjubkan” atau “mimpi mendapatkan kesuksesan”? Entahlah…

Tapi, saya tetap optimis, suatu saat semua anak Indonesia akan punya mimpi besar. Mimpi yang menunjukkan bahwa mereka ingin sukses.

Bagi kita yang “sudah” mempunyai mimpi besar, bisa membantu mereka menginformasikan hal-hal baru. Membiarkan mereka eksplor banyak hal sehingga mereka punya pengetahuan yang lebih luas.

Melakukan kegiatan untuk membagi sedikit mimpi-mimpi besar kita untuk mereka…

Kegiatan serupa Shoeboxproject atau ChildCanLead lah yang bisa membantu mereka mewujudkannya. Dan kita semua-lah yang bisa membantu mewujudkan itu 🙂

Advertisement

Sepetik Cerita dari Monas

Pagi minggu, 6 februari 2011,  hujan deras. Satrio SMS saya menanyakan apakah di daerah saya hujan. “Iya, hujan” jawab saya. Saya sedikit tidak tenang, tapi saya yakin, setiap niat baik yang ingin dilaksanakan, Allah akan memudahkan jalan.

Rencananya, hari itu memang kami akan mengunjungi daerah Sungai Bambu, sebagai bagian dari follow up kunjungan kami sebelumnya. Anak-anak di sana sudah kami janjikan untuk jalan ke Monas. Bermain sekaligus belajar.

Jam 9 adalah waktu yang kami janjikan untuk datang. Tapi, pagi itu kami datang lebih awal. Sebagian anak belum mandi. Begitu datang, kami langsung disambut gembira oleh anak-anak.

Hujan masih terus turun. Kami berteduh di rumah neneknya Amanda, salah satu anak di Sungai Bambu. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 lebih, anak-anak sudah mulai bertanya “kapan kita pergi Kak?” kami hanya bisa menjawab “tunggu hujan reda ya..”.

Hampir jam 10 hujan belum juga reda. Lalu datang ayahnya Rizki menghampiri kami. “Kalau masih hujan, Rizki nggak usah ikut ya.. dia suka mual di jalan.” Ada nada khawatir di sana. Saat itu, saya takut merutuki hujan, karena saya tahu hujan itu adalah berkah. Tapi, hari itu saya benar-benar berharap hujan reda. Saya mau anak-anak bermain, belajar, menemui hal baru dan merasakan hal baru.

Tak berapa lama, Sri datang dan berbisik pada saya. “Kak, kayaknya aku nggak ikut”. Saya semakin kaget. Sri adalah salah satu anak yang paling semangat untuk ikut. “Kenapa..?”, dia tidak menjawab dan langsung berlalu.

“Ini ada acara apa?? Saya minta kejelasan!” tiba-tiba ada seorang pria dewasa berbicara sedikit keras sambil menghampiri kami. Saya taksir umurnya sekitar 35 tahun.

“Ohh.. enggak Pak, kami mau ajak anak-anak jalan. Kemarin kami mampir ke sini. Anak-anak trus belajar, ada yang minta ke Monas, kami ajakin..” sedikit kaget saya menjelaskan, tapi tetap berusaha tersenyum.

Pria itu adalah ayahnya Sri. Pagi itu memang rencananya kami akan pamit satu-satu pada orang tua masing-masing anak. Tapi, belum sempat karena memang hujan deras dan kami belum beranjak akan pergi. Ayahnya adalah salah satu yang khawatir bahwa anaknya akan dibawa orang tak dikenal. Wajar. Sangat wajar bahkan.

Ketidakpercayaan orang tua pada orang baru yang dirasa akan mempengaruhi anaknya adalah salah satu tantangan. Membuat mereka percaya kalau anak mereka aman “di tangan” kita adalah salah satu yang harus dihadapi jika ingin mendidik anak orang lain. Ini seharusnya sudah kami antisipasi, tapi tetap saja ketika menghadapinya saya merasa kaget.

Setelah dijelaskan, sekaligus dibantu neneknya Amanda, akhirnya sang Ayah mengerti. Dia bahkan jadi mengobrol akrab dengan Satrio. Ayahnya juga cerita bahwa lingkungan di sana tidak bisa dianggap baik. Narkoba, pergaulan bebas dan banyak lagi yang dikhawatirkan ayahnya. Ahhh… saya jadi semakin ingin melakukan sesuatu di sana. Membuat suatu wadah bagi mereka untuk melakukan hal positif. Setahu saya, jika seorang anak sudah sibuk melakukan banyak hal positif, dia tidak akan punya waktu untuk melakukan hal negatif.

Hujan mulai reda ketika jam mulai mendekati pukul 10. Anak-anak sudah berkali-kali menagih janji untuk pergi. Akhirnya kami iyakan.

Berangkatlah kami. Saya, satrio, dan sebelas anak dengan usia 5 tahun sampai 14 tahun.

Mengajak anak dengan berbagai usia bukanlah hal yang mudah. Berbeda perilaku, berbeda keinginan dan berbeda pulalah cara menanganinya. Bukan suatu kebetulan saat saya bilang ke Satrio, “Sat, gue jadi sering baca-baca blog parenting nih, Gimana nanganin anak.. hehhe..”, lalu Satrio menjawab sambil tertawa “Iya, gue juga..”. Kami tertawa karena kami saling tahu diri  kalau memang kami tidak punya pengalaman apapun soal mengurus anak. Membaca adalah salah satu cara untuk menambah pengetahuan. Mengajak anak jalan-jalan adalah hal mudah, tapi mendidik anak saat jalan-jalan adalah hal lainnya.

Sampailah kami di Monas. Ramai sekali. Dari kejauhan saya sudah lihat antrian panjang orang-orang yang ingin masuk ke dalam “perut” monas. Belum lagi bagi yang mau naik ke puncaknya.

Salah satu anak, memang sudah mual sejak di mobil. Dia muntah-muntah dan mengeluh lemas tidak sanggup jalan. Akhirnya saya memutuskan untuk anak-anak duduk di taman dulu, membiarkan mereka menyesuaikan diri setelah perjalanan tadi. Satrio menawarkan diri untuk membeli tiket. Saya menjaga anak-anak.

Selama menunggu Satrio, saya membuatkan masing-masing anak stiker berisi nama mereka beserta nomor telepon. Saya tempel di masing-masing bajunya. Saya bilang “Supaya kalau kepisah, kalian bisa nelpon kakak”. Setelah itu, saya mau mengajak anak-anak untuk belajar. Tapi, keinginan mereka berbeda. Ada yang ingin baca, berhitung dan menulis. Saya tidak mungkin akomodasi mereka semua. Akhirnya, saya biarkan mereka eksplor kamera DSLR saya.

Setiap anak saya bolehkan pakai kamera 3 jepret, lalu bergantian. Yang tidak pakai, jadi model teman lainnya. Ada beberapa anak yang saya rasa sudah bagus hasil fotonya. Untuk mereka, saya ajarkan untuk hal-hal sedikit teknis, seperti bagaimana mengatur fokus dan pemilihan POI. Saya percayakan mereka untuk mendokumentasikan kegiatan hari itu. Saya sempat kaget dengan beberapa foto hasil mereka. Bagus. Diasah sedikit lagi, hasil mereka pasti jauh lebih bagus dari saya. Berikan mereka excitement hal-hal baru, mereka akan eksplor dan cepat belajar. Hal sederhana seperti itu yang akan memudahkan menemukan passion mereka.

Setelah beberapa lama, akhirnya Satrio datang. Dari taman kami naik kereta menuju Monas. Kami masuk ke lorong-lorong dan masuk ke dalam Monas. Di dalamnya seperti museum. Ada miniatur kota Jakarta, ada tampilan patung-patung kecil dalam kotak kaca yang menggambarkan cerita sejarah di Indonesia. Saya biarkan anak-anak mengamati. Yang bisa baca, membacakan cerita yang tertera  untuk yang belum bisa. Yang belum bisa, saya minta untuk menyimak. Cara kami memastikan agar mereka mendengar adalah dengan meminta mereka mengulangi. Sebagian bisa, sebagian tidak.

Terus terang, saya dan Satrio agak kesulitan menemani mereka belajar sambil jalan-jalan. Sebagian bisa kami handle, sebagian malah lari ke sana kemari. Jumlah mereka yang tidak sebanding dengan saya dan Satrio yang membuat tidak semua anak bisa kami awasi. Saya berharap, nantinya semakin banyak yang bisa menemani kami jalan-jalan, supaya semua anak bisa mendapat pengajaran yang sama.

Selesai bermain di bagian bawah, kami menuju ke puncak. Sebelum naik ke puncak, kami harus mengantri. Kapasitas lift yang hanya 10 orang dewasa tidak sebanding dengan ratusan orang yang datang. Anak-anak terlihat bosan mengantri. Satrio tetap berada di antrian. Saya sibuk mengawasi anak-anak yang lari ke sana kemari. Menemani mereka yang masih antusias memotret, sambil sedikit-sedikit mengarahkan hal teknis.

Setelah hampir 30 menit mengantri, terdengar pengumuman “Waktu yang dibutuhkan untuk mengantri supaya sampai ke puncak sekitar 3 jam”. Rasanya lemas mendengar pengumuman itu. Anak-anak sudah lelah, dan mengeluh kelaparan. Roti yang saya bawa pun sudah habis mereka lahap.

Tiba-tiba salah satu anak berteriak “Kak, kenapa rame ya? Kan tadi kita sudah berdo’a supaya nggak rame.” Tadi, waktu jalan dari taman ke Monas, saya dan Satrio memang minta mereka berdo’a, supaya mereka bisa naik ke puncak dan antrian nggak panjang. Lalu sampai di sini, ternyata masih rame. Lalu, saat mereka bertanya begitu saya jadi bingung menjawabnya. Salah jawab bisa-bisa mereka tidak mau berdo’a lagi.

“Sudah berdo’a aja masih rame, apalagi kalau tadi nggak berdo’a.. pasti lebih rame lagi…” Satrio akhirnya menjawab pertanyaan mereka. Saya lega. Saya lihat mereka juga mengangguk mengerti. Manusia kadang lupa, setelah berdo’a dan terasa belum dikabulkan, sebenernya yang terjadi adalah skenario yang lebih baik menurut Allah.

Lebih dari satu jam mengantri, akhirnya giliran kami naik ke Puncak. Anak-anak senang. Melihat Jakarta dari Puncak Monas. Melihat kereta, banyak gedung tinggi, lapangan basket dan banyak lagi. Tentunya ini jadi pengalaman baru bagi mereka, pun saya yang juga belum pernah naik ke Puncak Monas 😀

Setelah puas, mereka kami ajak pulang. Sebelumnya mampir ke gambir untuk makan di Hoka-Hoka Bento, lalu pulang. Di perjalanan pulang mereka terlihat kelelahan. Jumlah yang mual-mual saat di jalan pun lebih banyak daripada saat pergi tadi. Tapi, saat ditanya senang apa tidak, jawaban mereka “Senaaaanggg… Minggu depan jalan-jalan lagi ya..”. Saya tersenyum mendengarnya.

Perjalanan ini mungkin perjalanan biasa bagi orang-orang lain. Buat mereka, luar biasa karena pergi ke tempat baru. Melihat hal baru.

Ohya, sesempatnya kami selalu menanyakan cita-cita mereka. Rizki (6thn) menjawab “mau jadi AKP, orang yang nganterin barang-barang ke pasar, seperti Bapak dulu…” Saya  sempat kaget, ada yang bercita-cita seperti itu. Saya tahu itu tidak salah, Cuma saya merasa harusnya dia bisa bercita-cita jauh lebih tinggi. Namun, alasannya “seperti Bapak..” buat saya tahu, kalau kita akan bercita-cita sebatas yang kita tahu saja. Lalu Anita (7thn), yang tadinya tidak tahu mau cita-cita apa, bilang begini.. “Mau kerja di restoran, kayak Mbak tadi.. “ saya mengerti maksudnya. Dia melihat pelayan di Hok-Ben tadi. Dalam hati, saya semakin yakin.. makin banyak profesi yang mereka lihat, semakin mudah mereka untuk memilih. Jadi inget, @dini_de yang menyarankan untuk ke istana Presiden. Insya Allah, ke sana ahhh.. supaya mereka mau berusaha jadi Presiden. Presiden yang baik dan bermanfaat untuk rakyatnya.

Bagi saya, perjalanan ini adalah perjalanan yang penuh pembelajaran. Belajar bagaimana (berusaha) mendidik anak, mengerti setiap permintaan mereka, melarang dengan alasan logis saat mereka salah dan belajar bahwa setiap langkah kecil dalam hidup akan sangat berarti jika kita lakukan dengan tulus.

 

Kak, Do’a itu apa?

Setiap pagi sebelum memulai aktivitas, saya selalu berdo’a

Ya Allah, apapun yang saya lakukan hari ini, semoga ada manfaatnya. Berkahilah hari ini. Amin.

Dengan do’a seperti itu, saya bisa mengalahkan kemalasan dan ketakutan untuk memulai hari. Saya punya keyakinan untuk melangkah, karena tahu Allah akan selalu menuntun saya.

Selain do’a universal seperti itu, tentunya saya punya do’a lainnya yang lebih spesifik. Ada do’a yang sederhana seperti “Ya Allah, semoga pagi ini ada tukang ojek yang mau nganterin saya”. Do’a ini muncul karena sebenarnya saya nggak punya tukang ojek langganan dan pangkalan ojek jauh jaraknya dari kos saya. Tapi, Alhamdulillah ada aja satpam di kompleks saya yang mau nganterin saya ke kantor. Ya itu tadi, namanya satpam tugasnya bukan nganterin saya, jadinya kalau yang jaga di pos lebih dari satu, salah satunya berbaik hati nganterin saya. Makanya, saya selalu berdo’a semoga ada yang mau nganterin.

Nggak cuma do’a itu, ada juga do’a terkait mimpi-mimpi saya seperti pengen ke Zurich, pengen punya rumah tahun ini, dan do’a terkait mimpi saya untuk ningkatin kualitas kehidupan anak Indonesia.

Pagi ini saya bangun, pergi dengan berbekal selembar kertas sebagai peta dan harapan bahwa hari ini akan bermanfaat. Itu saja.

Pagi ini saya tak lupa melantunkan do’a “universal” saya. Sangat penuh harap, karena saya benar-benar clueless.

Di posting-an sebelumnya saya sudah sebutkan bahwa saya mau memulai project pendidikan. Bahkan sesekali saya sudah nge-twit dengan tagar #ChildCanLead.

Sejak ketemu Mbak Ollie, semangat saya berkobar. Keesokannya bahkan saya tak bisa tidur karena merasa perlu mencari inspirasi sebanyak-banyaknya.

Saya dan Satrio sudah membuat beberapa konsep. Bagi kami, it’s so fabulous plan. Serasa punya semangat yang tinggi.

Lalu tibalah pada saat kami harus menentukan lokasi.

Saya dan Satrio kebingungan. Karena kami tidak tahu harus memulai dari mana. Modal kami “cuma” semangat, tapi kami tidak tahu “bagaimana” memulainya.

Seperti seseorang yang punya semangat untuk “hidup lebih sehat”, tapi tidak tahu bagaimana jadi sehat. Tahu kalau sehat itu harus makan sayur, tapi tidak tahu harus beli di mana sayuran itu. Clueless.

Belum lagi, ketika Satrio ceritakan konsep kami ke Ozka, salah satu pemrakarsa ShoeBox project, yang notabene adalah teman kantor Satrio. Saat mendengar konsep kami, Ozka bilang kalau project kami bagus, tapi kurang sederhana.

Kami menangkap bahwa masih sangat banyak pe-er yang harus kami lakukan untuk mengimplementasikan konsep kami. Padahal, di satu sisi kami ingin melakukan kegiatan ini sesegera mungkin.

Ahh.. tidak dipungkiri, semangat kami sempat goyah.

Hari selasa dan rabu kemarin kami berdua tidak melakukan “online meeting” seperti yang kami rencanakan akan dilakukan setiap malam. Alasannya “kita cari inspirasi dulu, tanya-tanya orang yang lebih paham”. Ini sama saja dengan bilang.. “Oh God, kami tidak tahu apa yang harus dilakukan”.

Tapi, hasil pertemuan dengan Mbak Ollie membuat saya tetap bertahan. Menantang diri untuk terus melakukan apa yang saya impikan. Mimpi saya sederhana..

“Membuat semua anak Indonesia punya cita-cita, dan punya antusiasme untuk berusaha mewujudkannya”.

Itu saja.

Sederhana, tapi lagi-lagi nggak mudah untuk orang yang clueless seperti saya.

Seperti mimpi saya, saya juga menjaga antusiasme itu. Tetap browsing sana-sini soal social project dan nanya ke teman yang kebetulan ada di divisi CSR di kantor.

Hasil browsing buat saya sempet lemes. Saya menemukan bahwa sebuah lembaga juga membuat konsep yang sama. Ditunjukkan di web-nya kalau butuh 6 bulan untuk melakukan persiapan. Oh God, 6 bulan persiapan? Sanggup nggak saya nunggu selama itu? Sementara badan ini rasanya sudah “gatel” pengen melakukan sesuatu.

Nanya sama temen juga tidak membuat saya punya “clue”. Teman saya menyarankan saya untuk mencari lokasi yang tepat, saya harus cari data di BPS. Petakan. Pilih mana daerah yang ada di bawah garis kemiskinan.

Saya ikuti sarannya. Saya masuk web BPS untuk cari data kemiskinan. Baca sana sini, sampai akhirnya berakhir dengan… “What?? Ini angka apa? Saya nggak ngerti mau diapain!”

Sampai dengan hari rabu sore kemarin, saya sempat berkata hampir menangis “Oh Tuhan, saya ini mau bantu.. tapi kenapa sulit sekali?“ Saya tidak tahu apa yang membuat saya berkata itu. Entah mimpi saya yang terlalu saya inginkan atau perasaan baru memulai tapi sudah ada halangan. Halangan yang saya rasakan saat itu adalah sulitnya menentukan lokasi.

Tapi, seperti saya Randy Pausch bilang..

Brick walls are there for a reason. The brick walls are not there to keep us out. The brick walls are there to show how badly we want something. Because the brick walls are there to stop the people who don’t want something badly enough. They are there to keep out the other people

Akhirnya di sore hari, saya ceritakan ke salah satu teman soal keinginan saya untuk membantu dan  saya sedang bingung cari lokasi yang layak dibantu.

Dia lalu cerita, kalau setiap pergi dan pulang kantor dia sering lihat anak-anak kecil datang ke satu tempat berukuran 3x1m, lalu belajar di sana. Tapi, dua hari ini dia lihat kalau tempat ini dipakai jadi gudang dan anak-anak pindah belajarnya ke satu rumah yang sangat sederhana.

Saat itu, saya langsung minta dia petakan lokasinya di selembar kertas. Saya benar-benar masih tidak tahu apa yang harus saya lakukan di lokasi itu, tapi setidaknya saya tahu ke mana saya harus melangkah keesokan harinya.

Ahhh.. saya makin percaya..

Tell the world what your dream is, and the whole world will help you.

Saya sms Satrio, saya bilang saya punya calon lokasi tapi saya tidak tahu apa bentuknya. Besok kita investigasi lebih lanjut.

Pagi ini, saya ketemuan saya Satrio di depan kantor saya karena lokasi yang dituju tidak jauh dari kantor. Di perjalanan kami masih tidak tahu apa dan bagaimana kami harus memulai. Melihat tempatnya saja kami baru pertama kali. Tapi, melihat lingkungan di situ kami yakin.. “Di sini layak dibantu”.

Kami berjalan sampai menemukan lokasi yang ditunjukkan teman saya. Setelah sampai di sana lalu kami kebingungan

“Kita mau ngapain nih?” Kata Satrio.

“Nggak tahu Sat, kita jalan terus aja..”jawab saya yang sama bingungnya.

“Ya udah, kita jalan dulu aja. Cari warung.. ngobrol-ngbrol sama orang di sana”

Saya hanya mengikuti saja.

Di depan, ada beberapa deretan warung. Akhirnya kami memilih satu. Random.

Kami pesan popmie, karena memang belum sarapan.

Lalu, di sana kami bertemu Rizky (6 thn), anak yang punya warung. Dia lagi berkejaran dengan anak bebek. Saya ikutan tertawa lihat dia dan anak bebek yang bergantian saling berkejaran.

Kami mengobrol dengan Rizky, dengan mamanya, dengan tetangganya dan siapa saja yang ada di sana.

Hanya mengobrol santai dengan pertanyaan sederhana seperti berapa umurnya, beli bebek di mana, jualan dari kapan dan sebagainya. Kami benar-benar tidak menyinggung soal “project” yang ingin kami implementasikan. Bukan karena tidak mau, tapi tidak tahu bagaimana harus memulainya.

Sampai satu saat, Rizky mengeluarkan buku. Ibu Rizky bilang Rizky belum sekolah dan belum bisa baca. Lalu, Satrio yang ada di dekat Rizky langsung mengajarinya membaca.

Kemudian, ada tetangganya, Amanda (6thn) yang tiba-tiba membawa sobekan sampul buku yang di belakangnya ada tulisan Alphabet, A-Z.

Saya lalu ajak Amanda untuk belajar. Awalnya, dia tidak mau dekati saya karena malu.

Lalu Rizky dekati saya. Berbekal sobekan sampul kertas punya Amanda, saya ajari dia alphabet. Lalu, saya keluarkan selembar kertas dan pulpen yang biasa saya bawa kemana-mana. Saya ajari dia menulis namanya.

Entah bagaimana, tiba-tiba ada anak-anak kecil berdatangan ke sekitar saya. Berumur dari 5 sampai dengan 13 tahun. Mereka mengantri untuk diajari. Ada yang belum bisa menulis dan ada yang belum bisa membaca. Berbeda-beda. Akhirnya saya ajari bergantian.

Mereka yang menunggu, sibuk bergaya karena Satrio mengeluarkan kamera untuk memotret mereka.

Saya senang bisa mengajari mereka dan mereka juga terlihat senang bisa belajar. Saya tidak memaksa mereka belajar, saya minta mereka memilih apa yang ingin mereka pelajari.

Di sela-sela kegiatan mengajar membaca, ada salah satu bacaan “Bandara”. Saya tanya, apakah pernah ke Bandara lihat pesawat. Dia bilang belum tapi ingin suatu saat ke sana.

Saya tanya yang lain, siapa mau jalan-jalan ke bandara. Anak-anak lain langsung antusias ingin ikut.

Tiba-tiba salah satu anak mengusulkan ke Monas.  Saya minta mereka memilih. Bandara atau Monas. Mereka sempat bingung. Bahkan di tengah kebingungan itu, salah satu orang tua mereka malah nyeletuk bilang ke Ancol dan membujuk mereka untuk ke Ancol saja. Menambah daftar pilihan mereka, yang membuat mereka makin bingung. Tapi, walaupun begitu akhirnya mereka sepakat pilih Monas.

Saya dan Satrio hanya tersenyum dan mengangguk senang. Karena salah satu rencana kami adalah mengajak anak-anak ke tempat yang bisa menambah pengetahuan mereka. Belajar langsung ke lapangan. Tidak hanya hafal teori. Pengalaman kami mengatakan, belajar langsung di lapangan lebih “nempel” di kepala.

Kami tidak memaksa mereka untuk ke mana. Kami biarkan mereka memilih. Sekaligus mengajarkan bahwa mereka punya hak memilih.

Tapi, kami tidak membiarkan mereka pergi tanpa syarat. Kami merasa mereka harus berjanji sesuatu demi keinginan mereka terpenuhi. Agar mereka tahu, ada usaha yang harus mereka lakukan sebelum mendapatkan yang mereka ingin. Permintaan sederhana saja…

“Sebelum pergi semuanya harus makan, supaya tidak mual di jalan. Mereka tidak boleh  bandel dan tidak boleh nangis selama di jalan. Mereka tidak boleh ngomong jorok”

Untuk permintaan terakhir, sebenernya muncul karena salah satu anak yang bilang kalau ada temannya yang suka ngomong yang kurang baik. Kami mau mengajarkan, bahwa itu tidak baik untuk dilakukan.

Setelah itu, anak-anak kami biarkan main. Saya tawarkan untuk main iPhone saya. Kebetulan Satrio juga punya. Kami minta mereka bergantian. Mereka menurut.

Dua jam setengah berlalu. Adzan Dzuhur sudah berkumandang. Kami bilang kami mau sholat. Kami minta mereka untuk mengantarkan ke musholla. Tak dinyana, anak-anak malah berlarian ke rumah masing-masing untuk mengambil mukena dan sajadah, serta celana panjang bagi yang laki-laki.

Mereka ikut kami ke Musholla. Kami tidak minta mereka sholat, tapi mereka semangat mengikuti kami. Lalu kami sholat berjamaah, diimami Satrio.

Setelah sholat, saya dan Satrio lanjut berdo’a. Mereka hanya diam melihat kami. Satrio bilang ke Rizky, “Ayo, berdo’a dulu…”, lalu, dia jawab “Kak, Do’a itu apa?”

Saya tertegun. Seingat saya, sejak kecil saya sudah dibiasakan berdo’a. Meminta pada Sang Khalik. Mereka, tidak tahu apa artinya do’a. Setahu saya, do’a juga adalah cara saya berkomunikasi pada Allah, untuk mengatakan cita-cita saya, kemauan saya. Bagaimana mereka bisa punya keyakinan untuk mencapai cita-cita kalau do’a dan pengharapan itu tidak ada?

Bagaimana orang tua mereka tidak mengajarkan hal mendasar seperti itu? Hal yang sedari kecil, saya dan lingkungan saya sudah anggap penting.

Saya semakin yakin, saya harus ada di dekat mereka untuk memberi contoh. Saya tahu saya bukan orang yang baik dijadikan contoh, tapi setidaknya saya bisa memberi tahu mereka kalau ada yang disebut pengharapan, ada yang disebut do’a. Do’a dan pengharapan ini juga yang membuat saya dan Satrio yang clueless ini tetap bersemangat pagi ini untuk tetap pergi meski tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Dengan Do’a kami berkomunikasi dengan Allah, dan Allah memudahkan jalan. Alhamdulillah.

Ahh.. perjalanan hari ini lagi-lagi mengejutkan saya. Ada hal yang saya anggap “sudah lumrah, seharusnya sudah diajarkan” dan pada kenyataannya tidak semua orang mengganggap seperti itu.

Lagi-lagi saya tidak akan berhenti berharap, semoga Allah memudahkan jalan saya untuk melakukan banyak hal positif dan bermanfaat. Saya tidak juga berhenti berharap, bahwa semua anak Indonesia akan punya cita-cita dan antusias untuk mewujudkannya.

Amin.