Menyapih Aka

Berbeda dengan ulang tahun pertama Aka, ulang tahun ke 2 (25 September lalu) Aka persiapannya nambah lebih banyak. Bukan karena mau dirayain lebih heboh, tapi ultah kedua ini plus persiapan Aka mau disapih.Udah baca dari dulu, kalau disapih itu kudu disiapin sebelumnya, biar gak bablas dari 2 tahun. Saya termasuk yang berpendapat bahwa setelah 2 tahun, anak harus disapih supaya dia lebih mandiri, plus karena memang gizi di ASI nya juga ga lagi sebaik dulu.

Hasil dari baca sana sini, akhirnya sebulan sebelum ulang tahun, Aka saya kasih pengertian dengan bilang “Aka, kalau nanti ulang tahun, tiup lilin, artinya ga boleh mik lagi ya…” Saya bilang waktu lagi ngasi ASI, atau pas ngobrol biasa, pokoknya ada kesempatan dia lagi tenang saya sampein. Responnya dia menggeleng atau berteriak.

photo 1
Anak besar minumnya air putih😉

Saya sih senyum-senyum aja. Setiap dia baru tidur, saya bisikin juga ke dia “Aka kan sudah besar, nanti ulang tahun, tiup lilin ga boleh mik lagi yaa…” nah yang ini, dia ga bisa respon, kan baru tidur. Hehe..

Dan ulang tahun ke 2 pun tiba..

Aka gamau tiup lilin dong (–“) Pokoknya pas harusnya tiup lilin dan potong kue, dia malah cranky. Entah karena emang udah kecape’an main dari siang (acaranya sore) atau karena sering kali dibilangin “abis tiup lilin ga boleh mik” jadinya malah ogah-ogahan tiup lilinnya. Hadeuuhh.. salah kalimat kayaknya. Tapi, ya akhirnya saya juga gak maksa harus berenti ASI saat itu juga.

Minggu depannya hari selasa 29 September, saya iseng-iseng ngobrol di group chat temen-temen, nanyain pengalaman mereka soal sapih. Kebanyakan nyaranin pake brotowoli (sejenis jamu gituh yg konon pait banget katanya), tapi saya ga mau nerapin gini, kesian sama Aka, jangan sampai pikiran selama ini kalau mik itu nyaman tetiba  harus diakhiri dengan “kepahitan” no no… rasanya memori nya nanti malah buruk soal mik. Trus malah ada yang ga tau caranya sama sekali karena anaknya tetiba aja gitu gak ASI, yang ini bikin saya bingung kok ya bisa gitu tiba-tiba gamau tanpa penyebab. Tapi, yasudah namanya juga minta saran, kalo dapet syukur kalo ga dapet ya gpp.

Untungnya, tetiba Mbak Lia, salah satu temen, menanggapi dengan serius. Dia bilang sebisa mungkin nyapih dengan hati katanya. Akhirnya saya japri dia, nanya-nanya lebih serius. Dia kasih link ke blog nya dia soal cerita menyapih. Akhirnya saya yakin untuk ngikutin apa yang dia udah lakukan.

Selasa malam itu, saya tanya ke Aka “Aka suka jus gak… suka minum air putih ga?” dan sebutin semua minuman kesukaan dia, dia jawab dengan mengangguk. Trus saya bilang “Aka berarti sudah besar ya… kalau gitu aka no no mik ya!” langsung dia jawab dengan gelengan kepala dan teriakan. Dan akhirnya saya luluh.. malah ngasih dia ASI lagi. Trial pertama gagal bahkan sebelum dimulai.

Besoknya saya bertekad untuk mulah nyapih dia. Kali ini dengan mengusir semua kekhawatiran saya. Yup, jadi konon kabarnya kalau kebanyakan proses menyapih suka lama karena ibunya yang belum rela. Seringkali feeling anak itu cerminan feeling orang tuanya. Jadi kalau ibunya ga tegas, ya anaknya juga kerasa mudah untuk “goyahin” ibunya.

Kalau saya sering khawatir nanti kalau gak ASI lagi dia masih sehat gak ya, kalau dia sakit gimana, kalau masih ASI kan gampang sembuh, trus nanti kalau nggak deket lagi sama Aka gimana. dst dst dst..  Hari itu akhirnya saya yakin kalau kekhawatiran saya itu bentuk egoisme saya karna takut jauh dari Aka. Takut nanti kalau saya pulang ke rumah dia ga lari dan menyambut saya dengan semangat seperti biasanya. Jadinya, saya putuskan untuk yakin kalau menyapih untuk kebaikan Aka, supaya Aka jadi lebih mandiri.

Rabu malam itu, dimulai jam 6 sore akhirnya saya kasih pengertian dan kali ini lebih tegas untuk gak kasih ASI dengan langsung. Aka langsung nangis plus menjatuhkan diri di kasur berulang-ulang. Saya tunggu apakah nagisnya strategi atau emosi. Harus saya tanggepin atau saya diamkan. Lima menit kemudian dia diem. Malah ngajak saya bermain. Tapi, 5 menit kemudian dia nangis lagi. Dan itu berulang sampai selama 2 jam.

Dengar tangisan anak seperti itu ada kalanya saya hampir goyah, tapi cepat-cepat saya kembali tegas (pada diri saya tentunya) kalau ini untuk kebaikan dia. Jam 8 malam dia berhenti dengan mata sembab, tapi mukanya tetap ceria. Syukurlah, ternyata benar dia cuma melancarkan strateginya untuk dapet ASI. Akhirnya dia bisa main-main lagi.

Lalu, tibalah waktu tidurnya jam 10 malam.Sebelum dia minta, saya langsung tawarkan dia “Aka mau bobok gendong apa bobok pokpok sambil bunda pijit?” Dia minta gendong. Saya gendong, dia sesekali usaha untuk minta mik. Tapi, saya langsung bilang “Aka anak besar ya, minumnya air putih” saya sodorin air putih di gelas. Dia minum kayak orang kehausan. Gak berapa lama dia minta tidur di kasur. Gelisah. Nangis minta mik lagi. Saya kasih pengertian lagi. Selama 40 menit berulang-ulang, sampai akhirnya dia tertidur, mungkin sudah capek. Akhirnya dia bisa tidur juga. Tapi, jam 12 malam dia kebangun lagi. Teriak, nangis lebih keras, jatuh-jatuhin tubuh di kasur. Miris lihatnya. Tapi, saya tetap yakin harus bisa melewatinnya. Setiap dia minta, saya kasih pengertian, saya tawarin minum air putih dan dia minta minum sambil tiduran, saya kasih aja. Akhirnya dia minta tidur sambil dipeluk, saya ikutin. Pokoknya membuat dia senyaman mungkin. Satu jam kemudian dia tidur. Jam 2.30 dia kebangun lagi, berulang lagi. Saya lakukan lagi yang sebelumnya saya lakukan. Tidur lagi setelah 1 jam. Hal yang sama berulang lagi jam 4.30. Tapi akhirnya dia tidur lagi dan baru bangun jam 8 pagi. Saya sudah janji untuk menyamankan dia selama proses ini, jadi tetap saya tunggui dia bangun meski harus terlambat ke kantor. Ohya, sebelum Aka bangun saya sediakan ASIP, jadi waktu bangun saya kasih “bonus” ASI diminum di gelas.

Hari pertama berhasil. Meskipun saya di kantor jadi ngantuk plus migren, tapi saya senang.

Kamis sore sepulang saya ngantor, Aka menyambut saya dengan antusias seperti biasa. Lega. Aka juga gak nyosor atau minta mik. Tapi, saya ga bisa leyeh-leyeh di kasur seperti biasa. Saya khawatir mancing dia pengen lagi. Akhirnya saya temenin dia main di kamar main dia sampai waktu tidur. Dan kejadiannya berulang lagi seperti kemarin. Ada rasa pengen menyerah, tapi kalau ingat kerja keras saya dan aka kemarin rasanya kok sayang. Jadi saya tetap tegas sambil kasih pengertian ke dia. Alhamdulillah malam itu Aka bangunnya berkurang dari 3x jadi 2x. Nangis dan gelisahnya sih tetep, tapi sudah mendingan. Ohya, selama proses ini, suami saya kebangun (yaiyalahh.. suaranya kenceng banget). Aka memang gamau digendong suami saya kalau lagi cranky, tapi kadang-kadang Aka pengen ayahnya dekat dia. Sesekali ayahnya pokpok dia dan dia mulai tenang. Suami saya juga siap siaga mengisi air putih di gelasnya, karena dia minum jadi banyak banget jadi harus bolak balik isi air. Memang dukungan suami juga perlu selama menyapih. Minimal ga marah-marah dengar anaknya nangis histeris😀

Hari jumat, nangisnya ga sehisteris malam sebelumnya. Tapi jadi lebih gelisah karena mungkin dia berusaha untuk tidur dengan menyamankan diri sendiri. Malamnya cuma bangun sekali.

Hari sabtu, ayah bunda nya udah ngantuk sebelum jam tidur Aka. Anaknya diajak tidur malah ngajak main. Saya dan suami mulai “menyerah”, mungkin karena capek 3 hari kurang tidur. Saya akhirnya ketiduran tanpa gendong Aka seperti malam sebelumnya. Satu jam kemudian saya kebangun, Aka udah tidur nyenyak. Dia kebangun jam 3 pagi tapi bukan minta mik, tapi karena hidungnya mampet kedinginan.

Semalam, Aka udah bisa “nyari tidur” sendiri.  Gak gelisah lagi bolak balik heboh. Tidur udah nyenyak banget. Kebangun jam 4 pagi karena nyamuk nguing nguing😀 Tapi gak berapa lama langsung tidur sendiri.
Alhamdulillah..

Rasanya berhasil menyapih itu lega banget. Seperti ada hutang yang lunas kebayar🙂

Semalam, teman saya tanya soal menyapih. Karena dia sudah berusaha menyapih dan belum berhasil. Anaknya sudah 5 bulan lebih dari 2 tahun. Saya nggak tahu tipsnya apa, saya cuma ceritakan semua prosesnya. Saya juga cuma bilang kalau menyapih dianggap proses yang serius, jadi berdo’a sama Allah minta kekuatan untuk menyapih. Seriously, menyapih ini proses penting dan gak mudah bagi Ibu dan anak, jadi ga bisa dianggap enteng. Si Ibu harus kuat dan rela berlelah-lelah (beneran lelah kalau bermalam2 harus kurang tidur plus denger tangisan histeris). Kalau denger cerita dari temen saya, dia suka berhenti berusaha karna sudah males dulu ngerasain dramanya. Bagi saya, justru itu tantangannya. Mending capek banget tapi sekali, daripada ditunda-tunda jadi ngerasain capeknya berkali-kali.

Satu hal lagi, dia tanya apakah perlu dikasih pengganti, seperti kasih ASI di botol dot atau kasih boneka sebagai pengganti kenyamanan. Kalau saya memilih tidak. Karena nanti harus ada proses untuk “memisahkan” si anak dengan botol dot atau bonekanya. Ngebayangin dramanya lagi saya malah geleng-geleng deh.

Saya pikir banyak sekali cara untuk menyapih untuk dipilih. Saya memilih dengan cara “Weaning with heart” dan tegas dalam prosesnya (bukan “tega” kalau bahasanya Mbak Lia) hehhe… Bersyukur prosesnya gak sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Buat Ibu-ibu yang lagi atau akan menyapih. Tetap semangat yak! :*

photo 2
Dapet karpet baru hadiah berhasil disapih

2 thoughts on “Menyapih Aka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s