Kumpul Koin untuk Pensiun

Sekarang masih rame soal Prita dan koinnya. Berawal dari rasa kasihan, rasa ketidakadilan, kemudian mengumpulkan koin, lalu menghitung koin, dan sekarang sudah mulai kelebihan koin :D

Saya? sedikit melupakan sejenak (atau dua jenak, Nda?).

Sekarang saya harusnya punya janji nonton Sang pemimpi (Ya. Saya sudah nonton Avatar, sekarang baru mau nonton Sang Pemimpi). Sayangnya, yang diajakin janjian belum kunjung tiba sampai saat ini. Jadilah saya menghabiskan waktu dengan klak klik sana sini mencari apa yang harus dicari (hlo?).

Karena sedang merencakan keuangan, saya tiba di sini. Kemudian saya mencoba menghitung total dana pensiun yang dibutuhkan. Dan hasilnya adalah..

What?? Itu SEPULUH digit? ini mainannya eM ya? bukan Jeti? errr…

Saya langsung memeriksa isian saya, tapi diperiksa berulang koq ya hasilnya sama ya.

Baiklah, saya harus mengatur keuangan dengan benar sepertinya. Sambil berharap mudah-mudahan ada yang mau mengumpulkan koin buat saya.

Ada yang mau sumbang koin untuk dana pensiun saya?

Gila Rubik Gila

Kemarin, di salah satu milis yang saya ikuti sempat membahas soal Rubik. Jadi ingat, kira-kira setahun yang lalu saya pernah main rubik ini waktu liburan di rumah. Sempat diomelin sama mama karna berhari-hari saya cuman main rubik. “Penasaran mam”, jawab saya waktu itu.

Waktu itu saya beli dua rubik 3×3. Satunya setiap hari saya mainkan, yang satunya saya kasih ke adik saya. Maksudnya biar ada sparing partner. Eh, mungkin karena kesal, akhirnya adik saya mencopot semua stikernya, trus disusun ulang supaya sesuai pola yang benar. Sedangkan saya, tetap berkutat dengan si rubik sampai akhirnya berhasil menyusunnya kembali. Senang bukan main rasanya.

Sekarang, saat rubik mulai jadi trend lagi, saya mau mengulangi “kesuksesan” saya waktu itu. Walhasil tadi sore, bertekad untuk mencari rubik untuk dimainkan lagi. Sesampainya di mall, di depan pintu masuk saya sudah “disambut” penjual rubik. Yaiy! tidak perlu berputar-putar dulu saya sudah dapat apa yang saya mau.

Ada bermacam rubik yang dijual. Harganya juga bervariasi. Biasanya semakin mahal kualitasnya makin bagus. Kualitas ini, yang saya tahu, diukur dari  stikernyadan dari putaran rubiknya. Rubik yang bagus biasanya berstiker tebal, merekat kuat ke rubik dan permukaannya kasar. Sedangkan jika dilihat dari putarannya, rubik yang bagus adalah mudah diputar (tidak kesat) jika diputar bolak balik. Kedua hal ini sangat menentukan kecepatan permainan dan kemudahan konsentrasi.

Saya tadi beli rubik 3×3 seharga IDR 30K. Jika dibandingkan dengan rubik 3×3 seharga IDR 10K, memang rasanya lebih enak. Tapi, beda sekali dengan rubik 3×3 yang seharga IDR 100K. Walhasil, waktu saya mainkan tadi, masih ada faktor kesal yang merusak konsentrasi *alasan* karena si rubik sering tersendat saat dimainkan. Jadi, buat yang baru beli rubik, belilah rubik kualitas bagus, supaya cepat mahir :)

Ohya, selain rubik 3×3 saya juga beli rubik yang bentuknya seperti prisma segitiga yang mengingatkan saya pada ketupat. Ini sih saya beli karena penasaran saja, gimana bentuknya kalau si rubik ini diacak-acak. Ternyata, untuk rubik satu ini, untuk “mengobrak-abrik”nya saja susah sekali. Karena untuk memutar-mutarnya harus membuat sisi-sisinya segaris. Hmm, saya bingung menjelaskannya. Pokoknya, harus dicoba sendiri.

Selama 90 menit bermain rubik, hasil saya adalah seperti ini…

Untuk malam ini saya rasa saya menyerah dulu. Paling tidak saya sudah berhasil membuat rubik prisma segitiga saya “terobrak-abrik”. Iya toh, itu bentuk keberhasilan dari menyusun kembali. Kan saya sudah “separuh jalan” menuju keberhasilan. Karena alur dari rubik ini kan seperti ini…

Benar kan kalau saya sudah hampir berhasil ??

Goyang India bersama Didik Nini Thowok di GKJ

The dance of drama is conceived to enact a very interesting, but less popular, episode of “Mahabharata” which emphasizes the role of transgender, Shikhandi, in making of our history. The dance drama will be blended with an Indian Kathak dance performance by Pooja Bhatnagar and students of the Jawaharlal Nehru Indian Cultural Centre.

Di atas adalah tulisan pembuka dari salah satu selebaran yang saya ambil di pintu masuk Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) hari Jumat, 4 Desember, lalu. Malam itu saya dan Riky memang sengaja datang ke GKJ karena ingin menghadiri Festival of India.  Agendanya  adalah Performance of a Fusion of Indian and Javanese dance drama and music, Sangam. Selain tertarik untuk menontong live goyangan India, rasa penasaran pada performa Didik Ninik Thowok menjadi salah satu hal yang membuat saya rela untuk menerobos rintiknya hujan Jakarta malam itu.

Begitu melewati pintu masuk GKJ, spontan kami berjalan ke arah kiri, karena arus manusia saat itu memang lebih banyak ke arah sana. Ternyata, daya tarik dari arus kiri itu adalah makanan. Yaiy! pucuk dicinta ulam tiba, sejak berangkat memang perut berbunyi minta diisi. Walhasil kami menghabiskan beberapa menit di sana untuk menyantap makanan khas India. Saya tidak ingat namanya, yang pasti makanannya berbumbu kari khas masakan India tapi rasanya tidak terlalu “berbumbu dan menyengat” jadi bagi lidah saya itu cukup pas. Sayangnya kami tidak sempat mencicipi teh India, karena saat itu teh nya sedang habis dan lagipula pertunjukan sudah akan dimulai.

Panitia mengarahkan kami untuk masuk ke area pertunjukan. Beruntungnya, teman saya, Eksi , Mbak Yaya & Tyas sudah mendapat tempat duduk di bagian depan. Lumayan, di barisan ketiga dari depan, jadi tidak terlalu banyak terhalang oleh kepala orang-orang India yang posturnya lebih besar dari saya.

MC malam itu mulai membuka acara dengan bahasa yang menarik. Namanya Arletha, malam itu dia menggunakan kebaya coklat muda dengan kain batik sebagai padanannya.  Versi saya, MC ini termasuk kategori MC dengan jam terbang yang tinggi karena pembawaannya sangat tenang, bahasa Inggrisnya mumpuni dan tanpa mesti berjingkrak atau berteriak, orang-orang akan tertarik dengan apa yang dibicarakannya.

Seperti layaknya acara formal, speech adalah acara pembukanya. Duta besar India untuk Indonesia, Biren Nanda, membukanya dengan speech yang cepat tanpa basa-basi. Beliau hanya menceritakan sedikit sejarah mengenai Shikandi ini. Lumayan membantu untuk mengira-ngira apa yang akan dipertunjukkan nantinya.

Selesai speech, dilakukanlah ritual “menyalakan lampu minyak” . Ini merupakan kebiasaan orang India, yang dimaksudkan agar apa yang dilakukan mendapatkan berkah dari Sang Pencipta.


Tidak langsung masuk ke pertunjukkan utama, London School Public Relation (LSPR) Choir menjadi penampilan pembuka dari acara ini. Tidak kurang dari 15 pasang perempuan dan laki-laki menyanyikan berbagai lagu khas daerah-daerah di Indonesia, dipimpin oleh seorang konduktor yang (ehem!) lumayan tampan. Dari mulai lagu dari Betawi sampai dengan lagu khas daerah Bali mereka nyanyikan. Tidak hanya berdiri tegak lalu bergoyang kanan kiri serempak saja, namun mereka menyanyikan dengan gaya yang menarik. Walaupun mulut terus melantunkan lagu, tapi terlihat ekspresi unik dari mereka yang disesuaikan dengan lirik lagu yang dinyanyikan. Bercanda, menari berpasangan sampai menatap sambil bercerita satu sama lain adalah sedikit dari bentuk ekspresi yang ditunjukkan. Benar-benar, penampilan yang menyegarkan :)

Setelah penonton dibuat terkagum-kagum oleh penampilan dari mahasiwa & mahasiswi LSPR, lalu dimulailah pertunjukkan utama dari Festival of India malam itu. Penampilan dimulai dengan tarian dua penari, Aila-el Edroos dan Ms Vidya Sharma. Penampilan mereka mengingatkan pada film-film India yang dulu sering muncul di layar TV, enerjik dan memikat. Tapi lupakan sejenak penari India di TV yang beradegan di bawah hujan menari-nari cari tiang buat bergoyang, ini tarian dengan koreografi lebih teratur, membumi dan tampak bernilai seni tinggi. Tidak lama berselang, muncullah penari-penari lainnya, dan cerita pun dimulai.

The story of  Shikhandi and his destinical relation with Bhisma, who could not be vanquished till he laid his weapons down, is weaved around an interesting piece of existential inevitability that humans suffer in their respective lives.

It takes two lives of Shikandi, who was Amba in his past life, along with a host of others, and a series of worldly events to vindicate how humans are guided by their destiny in disguise and have little control on the course of their lives including a person of Bhisma’s might and knowledge.

Meskipun ceritanya diangkat dari cerita rakyat India, namun nuansa gamelan Jawa dan Bali cukup kental terasa. Bagi saya pertunjukkan kemarin sukses memadukan kultur India dan Indonesia. Goyangan penari-penari India-nya sangat gemulai.  Tapi, semua tarian India itu rasanya sekejap bisa dikalahkan oleh gemulainya tarian sang master dancer Didik Ninik Thowok. Penampilannya benar-benar memukau. Setiap tarian yang dibawakannya sangat soulful, ekspresinya sangat sesuai dengan lakon yang sedang dibawakan. Saya jadi mengerti alur cerita pertunjukan itu karena ekspresi yang dia tampilkan. Saya tahu kalau itu adalah adegan pernikahan dari semburat bahagia wajahnya, dan saya tahu kalau saat itu adalah adegan kematian dari tangis tertahan yang menyayat jiwa *tsaaahhhh*.

Menit-menit berlalu, dan perpaduan “magis” dari kedua tradisi itupun selesai. Applause panjang menjadi penutup dari pertunjukkan malam itu.  Kolaborasi kultur India dan Indonesia itu sukses menyihir para hadirin selama empat puluh menit sebelumnya.

Berawal dari rasa penasaran saya pada performa Didik, yang memang tampil dengan stunning, dan yang tersisa adalah kehausan akan pertunjukkan “megah” dari kesenian tradisional Indonesia. Bukan berarti pertunjukkan khas India nya tidak menarik, tapi saya semakin yakin kalau kesenian Indonesia memang lebih menarik.

Semoga saja masih banyak lagi pertunjukan-pertunjukan seperti itu ditampilkan, dan saya punya banyak kesempatan untuk menontonnya ;)