Tentang TEDxJKT 3rd event

Event ini saya datangi sudah lebih satu bulan yang lalu. Tapi, belum sempat buat nulis ceritanya. Sebelum benar-benar basi, saya mau mulai cerita deh, mumpung belum ada event TEDx lainnya :D

Saya diajak datang ke event ini oleh Mona. Ajakannya serta merta saya jawab “Mau!” Entah apa isinya, pokoknya ikutan dulu. Saya nggak peduli sudah daftar dan bayar seminar di tempat lain, pokoknya datang ke TED event sepertinya lebih menarik.


Tentang TED

Adalah TED yang dimulai dari sebuah konferensi dengan benang merah “Technology, Entertainment and Design”. Mereka berkumpul dengan satu tujuan yaitu menyebarkan ide-ide yang berharga. Tujuannya supaya banyak orang mengerti berbagai issue yang ada di dunia dan tergerak untuk membantu agar tercipta masa depan yang lebih baik. Ide untuk “menyebarkan ide” ini tertuang di tagline mereka “Ideas Worth Spreading”. Yayasan pencetus TED ini percaya kalau tidak ada kekuatan untuk mengubah dunia kecuali ide-ide besar.

Basis TED ada di New York dan Vancouver. Tapi sekarang TED sendiri membuka peluang untuk organisasi independen di negara-negara lain untuk menyelenggarakan TED event. Tiga anak muda Indonesia, Arief, Karina dan Tika mengambil peluang ini untuk memulai TED event di Jakarta, dan dinamakan TEDxJakarta (TEDxJkt). Huruf “x” di tengah nama menunjukkan bahwa ini merupakan organisasi independen dalam penyelenggaraan event tersebut.

TEDx event yang saya datangi pada sore 22 November 2009 lalu itu merupakan acara TEDxJkt yang ke 3 kalinya. Awalnya dijanjikan 4 orang yang menjadi pembicara yaitu Yuyun Ismawati, Hokky Situngkir, Silverius Oscar Unggul dan Jacko Hendrick Ayub Bullan. But, lucky them, Silverius Oscar Unggul atau yang biasa dipanggil “Onte” mengenalkan TEDxJkt committee pada Willie Smits, pecinta lingkungan dan juga pecinta Indonesia. Walhasil pada event itu ada 4 pembicara dengan bonus 1 orang lagi :)


Tentang Pembicara

Salah satu kreatifitas dari panitia TEDxJkt ini adalah setiap pembicara melakukan presentasi, ada seorang “mind map artist” yang membuatkan mind map dari isi-isi presentasi mereka. Jadi, audience diharapkan mudah untuk mengerti kerangka dari ide yang dipresentasikan.

Hokky Situngkir

Presentasi dimulai dari Hokky Situngkir. Pemuda 31 tahun ini menceritakan minatnya pada ilmu “Kompleksitas”. Hah? mendengarnya saja kening saya sudah berkerut. Orang mencari penyederhanaan nah dia mempelajari kerumitan. Hokky menceritakan bahwa segala ke-abstrak-an itu memiliki pola. Kita hanya perlu melihat segala hal dari berbagai sudut pandang baik dari ekonomi, matematika dan budaya untuk bisa melihat pola-pola itu. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi yang namanya kompleks :) Pada presentasinya Hokky menceritakan mengenai phylomemetic dari batik di Indonesia. Wow, how amazing that non-scientific issue can be seen from scientific side!

Jacko Hendrick Ayub Bullan

Ingat uang 5000an jaman dulu yang bergambar Sasando? Nah, TED event kali ini mendatangkan satu dari hanya sepuluh orang yang mahir memainkan alat musik asal Rote ini. Jangan ditanya suaranya, indah bagai dentingan harpa diiringi piano. Apalagi Sasando yang dimainkan Jacko kala itu bukan sasando biasa melainkan sasando elektrik, yang dia ciptakan sendiri. Passion-nya pada alat musik ini menjadikan ia mampu melanglang buana ke berbagai negara, dan tentunya ia juga bermain di acara-acara kenegaraan. Saking seringnya, di salah satu acara kenegaraan, salah satu menteri wanita pernah menegurnya begini, “Jacko, kamu lagi kamu lagi.. bosan saya” ujar menteri itu sambil tertawa. Lalu jacko hanya menjawab “Yaaa, mau bagaimana lagi, yang bisa cuma saya Bu…”. Pernyataan ironis yang terlontar dari mulutnya itu sebenarnya berupa bentuk kekhawatiran Jacko terhadap kekayaan Indonesia. Kita punya beragam budaya dan seni, tapi tidak dilestarkan. “Murid yang belajar sasando dengan saya itu sebagian besar bukan warga negara Indonesia, yang orang Indonesia paling satu atau dua…”, ujarnya kala itu. Lagi-lagi ia ingin mengingatkan bahwa seharusnya bangsa kita itu bangga dengan kebudayaan sendiri. Belajar, memahami dan memainkan kesenian asal Indonesia. Jangan hanya bisa kalangkabut ketika hasil seni dan budayanya dicatut oleh negara lain.

Yuyun Ismawati

“What is the purpose of your life?”, itu adalah pertanyaan balik yang dilontarkan Yuyun Ismawati untuk menjawab mengapa ia melakukan pekerjaannya yang sekarang. Yuyun memang bercita-cita agar lingkungan ini bisa diwariskan dengan baik pada anak cucunya. Ia seperti tidak peduli apa omongan orang mengenai pekerjaan yang dianggap menjijikkan oleh orang lain, yaitu mengenai waste atau buangan. Dia mengabdikan hidupnya untuk menyadarkan bahwa kita sedang menghadapi permasalahan lingkungan yang serius. Bahwa komunitas biasanya mengambil sumber daya, menggunakan dan pada akhirnya membuang sisanya begitu saja. Kita tidak memperdulikan apa yang selanjutnya terjadi dari hasil buangan itu. Bertolak dari hal tersebut, Yuyun, bersama NGO yang dinaunginya, berusaha mengedukasi lingkungan agar bisa mengatur buangan tersebut dengan cara diolah lagi dan pada akhirnya menjadi barang bernilai ekonomi. Tidak hanya sekedar bicara dan berorasi di lapangan mengenai isu lingkungan, tapi dia juga membantu orang-orang yang “tak punya” agar menjadi mandiri dengan cara mengajarkan mereka bagaimana menghasilkan uang menggunakan limbah rumah tangga.

Willie Smits

Sebelum Willie tampil, MC memperkenalkan Willie Smits menggunakan bahasa inggris. Tapi, ketika ia buka suara, dia menggunakan bahasa Indonesia yang apik sekali sampai presentasi selesai. Dia memang “orang asing yang tak asing”, karena memang dia tinggal lama di Indonesia dan kini memperistri wanita Indonesia juga. Orang Utan adalah satu dari sekian kekayaan Indonesia yang membuatnya betah ada di negeri ini. Awalnya dia melakukan penyelamatan Orang Utan yang hampir punah karena hutan-hutan Indonesia dibakar untuk membuka lahan. Selain Orang Utan, ketertarikannya pada lingkungan membuatnya melakukan studi untuk disertasinya mengenai Pohon Aren. Pohon yang banyak sekali tersedia di hutan-hutan di Indonesia, terutama di Borneo. Willie menceritakan betapa banyak kelebihan dari Pohon Aren ini. Buah Aren jika diolah bisa menjadi sumber gula yang baru, belum lagi akar pohonnya yang sangat kuat melebihi kekuatan dari Stainless Steel. “Semua kelebihan yang dimiliki aren ini seharusnya merupakan potensi ekonomi yang besar jika diolah dengan benar”, begitu ujarnya. Sayang, pemerintah sepertinya belum tanggap mengenai hal ini. Tapi, Willie optimis bahwa dia bisa mengembangkan Aren menjadi lebih berdaya guna.

Silverius Oscar Unggul

Ini pembicara favorit saya di event ini. Pak Onte, begitu panggilannya, menceritakan kisahnya dengan gaya yang menarik. Dia menceritakan bagaimana jatuh bangun saat dia merintis sebuah stasiun radio demi hasratnya “menyuarakan” issue-issue lingkungan. Kerja kerasnya berbuah manis, tak hanya stasiun radio, saat ini dia bahkan sudah memiliki stasiun televisi sendiri yaitu TV daerah Kendari. “Satu untuk Semua” begitu tagline Kendari TV. Memang mirip dengan tagline salah satu TV swasta di Indonesia, tapi dia bisa membuktikan bahwa TV nya memang lebih dulu lahir ketimbang TV swasta tersebut. Mengenai tagline TV nya dia bercerita bahwa memang TV nya itu berisikam siaran-siaran yang dibuat oleh penduduk setempat. “Kita juga ada Sinetron”, ujarnya,”Ya pemerannya para penduduk. Kalo hansip jadi hansip kalo Pak Lurah tetap jadi lurah… untungnya ceritanya tidak ada yang jadi koruptor, pasti tak ada yang mau berperan..”, katanya sambil tergelak. “TV ini memang menyuguhkan kisah-kisah nyata di sekililing kita. Jadi, TV tidak mendikte masyarakat. Masyarakatlah yang memilih apa yang ingin mereka tonton”, sambungnya. Dari apa yang dia bicarakan, satu hal yang saya lihat dari dia adalah kepercayaan diri yang tinggi. Bahwa yang tampak tidak mungkin, bukan berarti tidak bisa terjadi. “Banyak yang pernah melihat dan berkata ‘mengapa?’. Tetapi kami menampilkan hal-hal yang tak pernah ada dan mengatakan ‘mengapa tidak’ “, begitu dia menutup presentasinya sore itu.


Tentang sore itu

Video-video yang sering saya tonton di TED.com memang selalu membawa inspirasi. Begitu banyak “wow” yang saya dapatkan setiap saya menontonnya. Sama halnya dengan presentasi yang saya lihat sore itu. Tapi, TED hanyalah sekedar video, konferensi atau presentasi jika hanya memunculkan decak kagum saja. Harus ada tindakan yang dilakukan oleh semua yang menontonnya agar ide-ide besar itu bisa benar-benar bisa mengubah dunia.

So, are you ready to spread the ideas?


*PS: here’s my college friends I met on the event


Kumpul Koin untuk Pensiun

Sekarang masih rame soal Prita dan koinnya. Berawal dari rasa kasihan, rasa ketidakadilan, kemudian mengumpulkan koin, lalu menghitung koin, dan sekarang sudah mulai kelebihan koin :D

Saya? sedikit melupakan sejenak (atau dua jenak, Nda?).

Sekarang saya harusnya punya janji nonton Sang pemimpi (Ya. Saya sudah nonton Avatar, sekarang baru mau nonton Sang Pemimpi). Sayangnya, yang diajakin janjian belum kunjung tiba sampai saat ini. Jadilah saya menghabiskan waktu dengan klak klik sana sini mencari apa yang harus dicari (hlo?).

Karena sedang merencakan keuangan, saya tiba di sini. Kemudian saya mencoba menghitung total dana pensiun yang dibutuhkan. Dan hasilnya adalah..

What?? Itu SEPULUH digit? ini mainannya eM ya? bukan Jeti? errr…

Saya langsung memeriksa isian saya, tapi diperiksa berulang koq ya hasilnya sama ya.

Baiklah, saya harus mengatur keuangan dengan benar sepertinya. Sambil berharap mudah-mudahan ada yang mau mengumpulkan koin buat saya.

Ada yang mau sumbang koin untuk dana pensiun saya?

Gila Rubik Gila

Kemarin, di salah satu milis yang saya ikuti sempat membahas soal Rubik. Jadi ingat, kira-kira setahun yang lalu saya pernah main rubik ini waktu liburan di rumah. Sempat diomelin sama mama karna berhari-hari saya cuman main rubik. “Penasaran mam”, jawab saya waktu itu.

Waktu itu saya beli dua rubik 3×3. Satunya setiap hari saya mainkan, yang satunya saya kasih ke adik saya. Maksudnya biar ada sparing partner. Eh, mungkin karena kesal, akhirnya adik saya mencopot semua stikernya, trus disusun ulang supaya sesuai pola yang benar. Sedangkan saya, tetap berkutat dengan si rubik sampai akhirnya berhasil menyusunnya kembali. Senang bukan main rasanya.

Sekarang, saat rubik mulai jadi trend lagi, saya mau mengulangi “kesuksesan” saya waktu itu. Walhasil tadi sore, bertekad untuk mencari rubik untuk dimainkan lagi. Sesampainya di mall, di depan pintu masuk saya sudah “disambut” penjual rubik. Yaiy! tidak perlu berputar-putar dulu saya sudah dapat apa yang saya mau.

Ada bermacam rubik yang dijual. Harganya juga bervariasi. Biasanya semakin mahal kualitasnya makin bagus. Kualitas ini, yang saya tahu, diukur dari  stikernyadan dari putaran rubiknya. Rubik yang bagus biasanya berstiker tebal, merekat kuat ke rubik dan permukaannya kasar. Sedangkan jika dilihat dari putarannya, rubik yang bagus adalah mudah diputar (tidak kesat) jika diputar bolak balik. Kedua hal ini sangat menentukan kecepatan permainan dan kemudahan konsentrasi.

Saya tadi beli rubik 3×3 seharga IDR 30K. Jika dibandingkan dengan rubik 3×3 seharga IDR 10K, memang rasanya lebih enak. Tapi, beda sekali dengan rubik 3×3 yang seharga IDR 100K. Walhasil, waktu saya mainkan tadi, masih ada faktor kesal yang merusak konsentrasi *alasan* karena si rubik sering tersendat saat dimainkan. Jadi, buat yang baru beli rubik, belilah rubik kualitas bagus, supaya cepat mahir :)

Ohya, selain rubik 3×3 saya juga beli rubik yang bentuknya seperti prisma segitiga yang mengingatkan saya pada ketupat. Ini sih saya beli karena penasaran saja, gimana bentuknya kalau si rubik ini diacak-acak. Ternyata, untuk rubik satu ini, untuk “mengobrak-abrik”nya saja susah sekali. Karena untuk memutar-mutarnya harus membuat sisi-sisinya segaris. Hmm, saya bingung menjelaskannya. Pokoknya, harus dicoba sendiri.

Selama 90 menit bermain rubik, hasil saya adalah seperti ini…

Untuk malam ini saya rasa saya menyerah dulu. Paling tidak saya sudah berhasil membuat rubik prisma segitiga saya “terobrak-abrik”. Iya toh, itu bentuk keberhasilan dari menyusun kembali. Kan saya sudah “separuh jalan” menuju keberhasilan. Karena alur dari rubik ini kan seperti ini…

Benar kan kalau saya sudah hampir berhasil ??