Sipit, trus kenapa?

Beberapa hari yang lalu, bagian rekrutmen di kantor cerita  mengenai kebutuhan tambahan orang di tim saya.

“Kemarin kirim kebutuhan rekrutmen ke universitas X saya?”

“Ohiya, saya minta tolong ke temen saya untuk disebar”, jawab saya santai, “gimana, udah ada yang kirim CV?”

“Ada sih, tapi semuanya orangnya begini” sambil dia menarik ujung matanya dengan telunjuk, supaya terlihat sipit.

“Sipit? Chinese? Trus kenapa??” saya langsung berubah kesal.

***

Etnis. Saya kesal sekali setiap orang membeda-bedakan mengenai etnis. Kalau dia Chinese, trus kenapa? Apa jadi menyebalkan? Apa jadi menyusahkan? Kalaupun iya, bukan karena dia Chinese, tapi ya memang sifat nya begitu. Entah dari etnis manapun, ya hargai setiap orang sebagai individu.

Saya sendiri termasuk orang yang berteman baik dengan banyak orang Chinese, dan rasanya sejauh ini tidak pernah bermasalah. Bekerja pun dengan mereka tidak membuat saya menjadi susah. Jadi, wajar dong kalau saya kesal kalau ada yang membeda-bedakan seperti itu?

Orang tua saya juga berteman baik dengan orang Chinese. Saya ingat saat tahun 1998 lalu ketika orang tua saya terjebak di kerusuhan bulan Mei di Jakarta. Orang tua saya dan temannya sedang berada di dalam mobil di daerah Thamrin, dan sudah terbayangkan betapa sulitnya mereka berusaha melindungi diri hanya karena mereka “dianggap” berbeda. Tapi, syukurlah mereka semua selamat.

Ah, inti dari tulisan ini sebenernya mau mengajak semua yang baca kalau tidak perlu membeda-bedakan orang berdasarkan etnis. Hargai semua individu, lihat kepribadiannya masing-masing. Toh, bukan karena berasal dari etnis tertentu jadi sifatnya pasti baik atau pasti buruk kan?

 

 

Extremely Loud & Incredibly Close

Waktu memutuskan beli DVD film ini, saya sempat kebingungan mencari judulnya, karena layout judulnya yang saya pikir adalah komentar mengenai isi film. Tapi, karena resensinya menarik, tanpa perduli judul tetap saya beli.

Image

Ceritanya mengenai petualangan seorang anak yang ayahnya menjadi korban peristiwa 9/11. Sang anak merasa sangat terpukul, karena dia dan ayahnya begitu dekat.

Setelah setahun setelah peristiwa itu, sang anak menemukan vas yang disimpan ayahnya. Di dalam vas, ada sebuah kunci dalam amplop yang bertuliskan “Black”.

Semasa ayahnya hidup, Oskar sering diberikan “misi” untuk menemukan sesuatu di sepanjang New York. Karena kebiasaan ini, Oskar menganggap bahwa menemukan pasangan dari anak kunci ini adalah misi yang diberikan oleh ayahnya. Selanjutnya sepanjang film dihiasi petualangan Oskar menemukan pasangan dari kunci tersebut.

Saya suka film ini karena saya merasa diajak menebak-nebak sepanjang film. Baik menebak pasangan kunci maupun menebak alur petualangan selanjutnya. Drama yang ditampilkan juga mengharukan. Ditambah lagi unsur pernah merasakan kehilangan yang sama yang membuat saya semakin mengharu biru setiap melihat Oskar mengingat-ingat hubungan dengan ayahnya.

Tidak menyesal membeli DVD ini. Untuk yang senang drama keluarga, saya rekomendasikan untuk menonton film ini di waktu luang.

Kurcil

Jumlah ular peliharan di rumah mulai dikurangi. Gantinya, suami saya mulai memelihara kura-kura. Salah satunya kura-kura kecil yang mukanya selalu tampak tersenyum ini. Perkenalkan, namanya kurcil.

Image

Kalau diperhatikan lebih dekat, si kurcil ini punya leher yang lebih panjang dari jenis kura-kura biasa. Lihat saja, dia bahkan tidak bisa memasukkan kepalanya ke dalam tempurung, terpaksa melingkarkan ke tubuhnyaImage

Lucu ya ;) .

Memory

Dalam 2 bulan ke belakang, saya lumayan sering jalan-jalan. Alhamdulillah, ke tempat-tempat yang saya pengen kunjungin. Tapi entah gimana, biasanya saya semangat foto-foto, tapi belakangan saya dikiiit banget ngambil foto. Hasilnya gada yang memuaskan. Lebih parah lagi, pas ke Korea, udah foto milih-milih di spot yang “dianggap” bagus, ehh… memory card nya corrupt. :’( :’( Walhasil, foto-foto saya cuma dikiit banget. Nih saya kasih tunjuk, plus tambahan sedikit cerita jalan-jalannya ya.

Ini foto dari Lombok, 7 Desember 2012. Ngambil view seadanya dari Hotel Villa Ombak, Gili Trawangan. Dateng ke Gili tanggal-tanggal segitu oke kok. Tapi, jangan ke pulau Lomboknya, karena sering hujan deras. Entah gimana, meskipun seberangan pulau tapi di Gili gak kena imbas hujan. Ohya, jangan coba-coba keliling pulau genjot sepeda sendiri ya. Capek dan panasnya terik puoolll…

Lombok1

Diambil tanggal 30 Desember 2012, (lagi-lagi di hotel) Royal Safari Garden, Puncak. Hotelnya lumayan enak buat didatengin bareng keluarga. Ada lapangan basket, tenis, kolam renang, trus ada kebun binatang kecil. Lumayan lengkaplah.

_MG_6348

Tanggal 4 Januari 2013 saya dateng ke Pulau Belitong karena ada acara kantor. Sangat tidak direkomendasikan datang ke sini di musim hujan. Harusnya saya bisa island hoping, jadi nggak bisa karena ombak gede :( Jadilah saya dateng ke Pantai ini saja.. yang saya bahkan lupa namanya hehe..

Belitong

Naahhh.. yang ini diambil di Korea tanggal 26 Januari 2013, pas jalan-jalan bareng teman-teman sekantor. Waktu memutuskan ke Korea, trus dikasih tau sama orang pariwisata Korea kalau Januari itu salju dimana-mana dan view nya jelek karena semua ketutupan salju. Belum lagi ditambah suhunya yang bisa minus 30 bisa bikin sakit buat yang gak tahan dingin. Kita sempet males mau berangkat dan cari destinasi lainnya.

Tapi, akhirnya kita tetep aja berangkat, mungkin karena lagi demam K-pop kali ya. Biar ikut-ikutan trend. Heheh..

Sampai di Korea… Wohoooo… senang sekali! View nya tetep cantik, malah dengan salju makin keliatan romantis deh ;) suhu terdingin “cuma” minus 12 derajat celcius dan alhamdulillah dengan baju 6 lapis plus hand warmer yang kita beli di sana, ga terlalu ganggu. Kayaknya kita gada yang sampe sakit deh. Tempat-tempatnya oke banget, tour leader kita baik, trus local guide nya sangat membantu sekali. Menyenangkan deh perjalanan ke sana. Nggak nyesel tetep nekat berangkat. Dateng ke Korea pas winter sangat recommended!

_MG_6988

Yak itulah sedikit cerita jalan-jalannya. Meskipun memory dalam bentuk fotonya ga banyak, tapi “rasa” dan pengalamannya mudah-mudahan selalu melekat. Semoga tahun ini dan tahun-tahun ke depan banyak mengunjungi tempat menarik lainnya. Amiiiinnnn ;)

Jakarta oh Jakarta

Hampir 5 tahun saya tinggal di kota Jakarta. Iya, saya bagian orang-orang yang madat-madatin Jakarta demi mengumpulkan segudang berlian *karena segenggam terlalu sedikit* #maruk.

Selama ini saya selalu mencari tempat tinggal terdekat dari kantor. Di kantor pertama, saya cukup menempuh 10 menit dengan ojek dari kos ke kantor. Pindah ke kantor kedua, hanya perlu 5 menit berjalan kaki. Lima menit! artinya kalau meeting jam 8, saya bangun 7.45 pun saya masih bisa datang ke kantor tepat waktu.

Babak baru dalam hidup saya membuat saya harus mengikuti di mana suami tinggal. Jadilah saya yang biasa tinggal tak lebih 1km dari kantor, sekarang harus menempuh hampir 70km dari rumah ke kantor. Artinya dengan kecepatan mobil rata-rata 70km/jam saya baru sampai 60 menit. Itu, kalau kecepatannya konstan. Kalau macet? Ya gitu deh…

Kemarin hari pertama saya ke kantor mengendarai kendaraan sendiri. berangkat pukul 5.40, sampai di kantor pukul 7.10. Huaaaa! 90 menit! Walhasil, pulang kantor saya langsung tepar, tidur!

Hari ini saya berangkat 10 menit lebih pagi. Dan yah, saya pun hanya butuh 45 menit ke kantor. Beda dikit aja, ngaruhnya berpuluh menit di jalan. Ohhh Jakarta Oh Jakarta!

Kemarin-kemarin saya mana peduli dengan program gubernur Jakarta dalam mengatasi kemacetan. Apapunlah, saya nggak terpengaruh. Hla hari ini.. saya langsung berharap ini itu… Do’ain Jokowi-Ahok deh beneran tegas dan bisa mengatasi kemacetan. Btw, saya mendukung pembenahan tranportasi umum dan pembatasan mobil pribadi. Biar kayak di Singapore gituh, kemana-mana bisa nyaman naik bus/MRT.

Ada usulan mengatasi macet yang lain?