Kemarin, di salah satu milis yang saya ikuti sempat membahas soal Rubik. Jadi ingat, kira-kira setahun yang lalu saya pernah main rubik ini waktu liburan di rumah. Sempat diomelin sama mama karna berhari-hari saya cuman main rubik. “Penasaran mam”, jawab saya waktu itu.
Waktu itu saya beli dua rubik 3×3. Satunya setiap hari saya mainkan, yang satunya saya kasih ke adik saya. Maksudnya biar ada sparing partner. Eh, mungkin karena kesal, akhirnya adik saya mencopot semua stikernya, trus disusun ulang supaya sesuai pola yang benar. Sedangkan saya, tetap berkutat dengan si rubik sampai akhirnya berhasil menyusunnya kembali. Senang bukan main rasanya.
Sekarang, saat rubik mulai jadi trend lagi, saya mau mengulangi “kesuksesan” saya waktu itu. Walhasil tadi sore, bertekad untuk mencari rubik untuk dimainkan lagi. Sesampainya di mall, di depan pintu masuk saya sudah “disambut” penjual rubik. Yaiy! tidak perlu berputar-putar dulu saya sudah dapat apa yang saya mau.
Ada bermacam rubik yang dijual. Harganya juga bervariasi. Biasanya semakin mahal kualitasnya makin bagus. Kualitas ini, yang saya tahu, diukur dari stikernyadan dari putaran rubiknya. Rubik yang bagus biasanya berstiker tebal, merekat kuat ke rubik dan permukaannya kasar. Sedangkan jika dilihat dari putarannya, rubik yang bagus adalah mudah diputar (tidak kesat) jika diputar bolak balik. Kedua hal ini sangat menentukan kecepatan permainan dan kemudahan konsentrasi.
Saya tadi beli rubik 3×3 seharga IDR 30K. Jika dibandingkan dengan rubik 3×3 seharga IDR 10K, memang rasanya lebih enak. Tapi, beda sekali dengan rubik 3×3 yang seharga IDR 100K. Walhasil, waktu saya mainkan tadi, masih ada faktor kesal yang merusak konsentrasi *alasan* karena si rubik sering tersendat saat dimainkan. Jadi, buat yang baru beli rubik, belilah rubik kualitas bagus, supaya cepat mahir
Ohya, selain rubik 3×3 saya juga beli rubik yang bentuknya seperti prisma segitiga yang mengingatkan saya pada ketupat. Ini sih saya beli karena penasaran saja, gimana bentuknya kalau si rubik ini diacak-acak. Ternyata, untuk rubik satu ini, untuk “mengobrak-abrik”nya saja susah sekali. Karena untuk memutar-mutarnya harus membuat sisi-sisinya segaris. Hmm, saya bingung menjelaskannya. Pokoknya, harus dicoba sendiri.
Selama 90 menit bermain rubik, hasil saya adalah seperti ini…

Untuk malam ini saya rasa saya menyerah dulu. Paling tidak saya sudah berhasil membuat rubik prisma segitiga saya “terobrak-abrik”. Iya toh, itu bentuk keberhasilan dari menyusun kembali. Kan saya sudah “separuh jalan” menuju keberhasilan. Karena alur dari rubik ini kan seperti ini…

Benar kan kalau saya sudah hampir berhasil ??
Let’s Comment,,