Pagi yang tak biasa di Tidore

Bahwa cukup itu bukan berasal dari bilangan, itu dari rasa. Rasa ketika kamu mau menerima sejumlah yang ada berikut segala konsekuensinya. Rasa untuk menerima, lalu berbesar hati untuk mensyukurinya

Tempat ini masih sama, tinggi menjulang di atas bukit . Berkejaran menaiki tangga berlapis semen selalu kita lakukan untuk mencapai tempat ini. Merebut posisi bagus demi melihat matahari terbit, adalah alasan kita dulu. Sebenarnya kita tak perlu berkejaran. Toh sesampai di atas sebenarnya kita sudah memiliki “tempat” masing-masing. Tapi, memang kompetisilah yang menjadi bahan bakar agar rasa itu tetap menyala di antara kita. Saat itu, kita memang menjaga agar bahan bakar tetap tercukupi.

Di sini, kita selalu duduk bersisian. Biasanya, saat menengok ke samping aku akan menemukanmu sedang sibuk melinting cengkeh*. Setelah sebelumnya, kau sibuk berhenti, memungut atau meminta di tengah-tengah perjalanan kita ke sini.

Tapi, pagi ini yang kulihat hanya bukit tak berujung. Bukan lagi asap yang kamu hembuskan sembarangan, dari bakaran  hasil lintinganmu tadi. “Seenaknya saja mengambil jatah udara pagiku”, hanya itu yang terbersit di pikiranku. Kepulan asap itu biasanya akan kuiringi dengan pekikan menyuruh berhenti menghisap rokok kretek buatanmu itu. Dan selalu saja akan diakhiri dengan tawa khasmu sambil mengatakan “Rokok itu tak sampai 10% dari semua penyebab kematian, apa yang kau takutkan?”.  Entah darimana kabar itu, tak kugubris, aku hanya berjalan menjauhi kamu. Membuat jarak, tapi dalam posisi aman untuk tetap memperhatikanmu. Karena melihatmu, merupakan pemandangan indah untukku.

Tidore pagi ini tak seperti biasa, sedikit terasa dingin. Semburat biru di air yang menghampar luas di depan hanya membuat suasana tak hanya dingin, juga sepi. Biasanya selalu ada celetukan hangat darimu, yang mencairkan perasaanku yang sering sepi. Tak hanya kehangatan, tempaanmu yang sangat keras tiba-tiba membuat aku rindu. Kerinduan itu membuat aku ingat saat terakhir kali kamu memarahiku. Saat itu juga kali pertama dan terakhir kamu membanting kertas kerjamu yang sedang kau susun rapih, pertanda kau sangat marah.

Bukan karena aku merengek mendatangimu ke pulau seberang saat kamu sedang sibuk menghitung angka-angka di kertas itu, tapi karena sifatku yang terlalu mudah menyerah. “Terlalu lembek menghadapi hidup”, begitu katamu.

Saat itu aku memang menyerah, lelah karena sifatmu yang begitu keras terhadapku. Membuat aku merasa tak bisa bernapas lagi untuk menjalani hidup ini. Tapi tanggapanmu hanyalah, “Kamu itu butuh aku. Sudah seharusnya kamu berterima kasih pada semua yang sudah aku perbuat. Aku yang menempamu jadi begini. Dasarnya kamu itu lembek, sikapku yang keras ini membuatmu jadi lebih tahan banting. Lihat, semua pencapaian yang sudah kamu dapatkan sampai saat ini. Mau mengelak?”. Saat itu aku hanya terdiam sambil menahan buliran air yang hampir jatuh dari mataku. Mataku seakan bertambah panas, dan hatiku marah tak terkira. “Dia pikir dia siapa, kenapa aku harus berterima kasih padanya” hanya itu yang terpikirkan olehku. Lalu seperti biasa, aku akan pergi meninggalkanmu dengan kekacauan yang kubuat di tengah-tengah kebutuhanmu untuk berkonsentrasi. “Nickelia*..” panggilnya kencang. Tapi, tak sedikitpun aku menoleh. Lalu kamu tak berhenti berteriak “Kamu tahu kenapa kamu perlu ditempa?”. Teriakanmu saat itu hanya terdengar sayup di telingaku. Aku tak perduli. Tapi kini, ketidakpedulianku berujung pada kerinduan akan kerasnya tempaan yang kamu buat.

Kusapukan pandanganku ke depan…

Dan tahukah kamu, baru saja satu kapal nelayan lewat di tengah pandanganku. Kapal itu berjalan pelan, meninggalkan riak-riak kecil di belakangnya. Bagi kapal-kapal lain mungkin belum saatnya pulang, tapi bagi dia sudah cukup ikan yang dibawanya. Bukan banyak atau sedikit, tapi cukup. Aku jadi teringat akan pertanyaan yang pernah kau lontarkan saat aku mengajukan jawaban ketika kau ingin meminangku. Ketika kukatakan “Nanti dulu, aku belum cukup siap. Perkenalan kita juga masih sebentar, belum cukup bagiku untuk tahu kamu”. Lalu kau balik bertanya,  “Cukup itu berapa? Kapan kamu cukup?”. Dan seperti biasa aku hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan darimu. Aku tak tahu, benar-benar tak tahu. Tapi, baru saja kapal nelayan itu menyadarkanku. Bahwa cukup itu bukan berasal dari bilangan, itu dari rasa. Rasa ketika kamu mau menerima sejumlah yang ada berikut segala konsekuensinya. Rasa untuk menerima, lalu berbesar hati untuk mensyukurinya. Dan sepertinya saat itu, aku hanya belum bisa menerima.

Masih kuperhatikan kapal nelayan itu yang terus bergerak semakin ke selatan. Bayangan gelap yang sedari tadi menaunginya sedikit demi sedikit tersibak oleh cahaya dari timur. Pada satu titik mereka bertemu, membentuk sudut sempurna yang terlihat cantik di mataku. Jika saat ini adalah satu per dua belas tahun yang lalu, mungkin aku akan berkhayal bahwa cahaya itu terpancar dari pulau seberang. Pulau di mana kamu berada. Pulau yang pernah menjadi harapanku untuk berlabuh setelah berlayar begitu lama.

Tapi, tidak lagi semenjak hari ini…

Hari ini aku sudah terbangun dengan keyakinan yang baru. Bahwa cahaya itu datangnya dari satu titik lain yang nun jauh di sana. Titik yang masih terasa sangat jauh, tapi aku yakin akan selalu mencerahkan hari-hariku. Pun datang malam, dia tidak akan pergi. Karena dia akan tetap menerangiku dengan pantulan cahayanya yang tak pernah berhenti.

Maafkan aku yang tidak ingin berlabuh di pulau seberang. Sinar pagi yang hangat di Tidore masih terasa nyaman bagiku, dan aku masih ingin dipeluk oleh kehangatannya untuk waktu yang tak kutahu.

_end_

*Tidore sejak zaman penjajahan dahulu terkenal karena cengkeh dan pala

**Nickelia diambil dari kata Nikel, salah satu hasil bumi terbesar yang ada di kepulauan Halmahera. Sifat Nikel dalam keadaan murni adalah lembek, tetapi jika dipadukan dengan besi, krom, dan logam lainnya, dapat membentuk baja tahan karat yang keras.

Tentang kategori PictFiction

Saya percaya bahwa gambar bisa bercerita banyak. Oleh karenanya saya buat tulisan ini berdasarkan gambar yang diberikan pada saya. Lalu saya ceritakan berdasarkan apa yang saya rasakan  saat melihat gambar tersebut. Untuk kali ini foto dipinjam dari Adam.

15 thoughts on “Pagi yang tak biasa di Tidore

  1. Ceritanya bagus. Aku menangkap keegoisan antara kedua orang ini sehingga tidak ada yang merasa harus mengalah. Cinta memang bisa hilang ketika sudah bicara tentang harga diri.

  2. @Arman.. iya, yang bikin foto jago ya..

    @Adam.. hahha, nice story didukung sama nie picture. Thankyou ya🙂

    @Feb.. Mau sumbang foto juga ? dengan senang hati loh..

    @Suzan.. amiin.. kalo ad aliputan ke sana ajak2 ya

    @Nike.. iya, kapan ya Ke..

    @Zee.. Mbak, koq jago banget bisa ngerasain “egoisme” itu. Mbak zee emang hebat nih.

    @Didot.. haha, iya iya.. bikin gitu ahhh

  3. Aku pikir foto itu hanya untuk mempercantik posting ini, tapi ternyata cerita yang bagus ini bermula dari foto itu. Tapi kok aku gak yakin ya? Sepertinya ada sebuah kisah pribadi yang terungkap dalam cerita ini, betulkah?😛

  4. gambar memberi banyak makna, banyak keindahan, banyak hal yang bisa diceriterakan. dan sangatlah indah apabila gambar itu menjadi sebuah cerita

  5. @Kiraitomy,, iya, sesekali kesana ya..

    @Eka,, ahaa Eka makasih ya. jadi malu dipuji sama Eka *blushing*

    @Mit,, makasih miduth.. cerita kamu juga terusin donk..

    @Hajier,, iya mulanya foto. Unsur pengalaman pribadi pasti ada, tapi cerita ini tetep fiksi koq😉

    @Hanif,, haha, di sana juga panas sebenarnya

    @Zulhaq,, iya, kita bisa mengartikan banyak hal dari sebuah gambar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s