Shiner

“In order for the light to shine so brightly, the darkness must be present.”

Francis Bacon

Semalam, seorang teman menelepon

“Nda, lu dimana”.
“Surabaya”, jawab saya.
“Bukannya kemaren lu ke Palembang?”
“Iya…”

Saya sekarang sedang di Surabaya untuk keperluan kantor. Tiga hari yang lalu saya masih di Jakarta. Keesokan harinya saya di Palembang untuk menghadiri sumpah dokter adik. Sore ini saya kembali ke Jakarta dan besok saya sudah harus ada di Palembang lagi.

Saya selalu suka berjalan-jalan ke tempat baru. Alhamdulillah, tahun ini saya dikasih kesempatan untuk keliling ke beberapa kota di Indonesia.

Beberapa kali berkeliling, sayangnya saya belum sempat extend untuk menikmati kota yang saya kunjungi lebih lama.
Waktu ke Balikpapan, esok harinya sahabat saya menikah di Bandung.
Waktu ke Manado, esok harinya ada kegiatan di #perpuskreatif.
Waktu ke Surabaya, besok sahabat saya yang lain menikah di Palembang.
Tight schedule.

Sesuatu yang serba tight seringkali menyesakkan.

Jalan dari satu tempat ke tempat lain, ditambah email kerjaan yang terus mengalir, urusan ini itu, persiapan sana sini. Berasa orang super sibuk aje😀

Tapi, dari segala hal yang menyesakkan itu, selalu saja ada yang membuat saya lebih lega. Sebuah alasan yang membuat saya tersenyum kalau mengingatnya. Alasan yang membuat ikatan menyesakkan itu jadi terasa lebih longgar.

Alasan itu bisa secangkir susu coklat kental di pagi hari.
Alasan itu bisa sepetik bunga matahari yang terpajang di kamar mandi.
Alasan itu bisa sepotong bebek kaki kiri untuk makan malam.
Alasan itu bisa pesanan segelas es teh manis yang lupa ditambahkan es oleh penjualnya.
Alasan itu bisa obrolan ringan di sela-sela waktu tunggu antar jadwal pesawat.
Alasan itu bisa penguraian mimpi kusut bersama seorang teman di malam hari.
Alasan itu bisa ucapan selamat tidur dari seseorang yang suaranya ingin saya dengar paling terakhir sebelum tidur.
Alasan itu bisa sapaan selamat pagi dari seseorang yang paling ingin saya temui pertama kali di pagi hari…

Karena alasan-alasan itu seperti menguraikan benang-benang kusut yang mengikat dan menyesakkan. Karena alasan-alasan itu membuat mata saya yang terpejam karena menahan sesak menjadi lebih terbuka. Membuat secercah cahaya masuk ke sudut-sudut mata saya, hingga semuanya menjadi cerah.

Thank you, the shiner…

2 thoughts on “Shiner

  1. “Alasan itu bisa ucapan selamat tidur dari seseorang yang suaranya ingin saya dengar paling terakhir sebelum tidur.” — hmmmmm….. *tag @monaluthfina* *ebukantwitterya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s